
batampos – Sejumlah peristiwa penting mewarnai Kepulauan Riau sepanjang sepekan terakhir. Mulai dari fenomena puluhan aparatur sipil negara (ASN) berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Kabupaten Karimun yang memilih mengundurkan diri, prestasi membanggakan siswa Batam yang mengantarkan Kepulauan Riau masuk tiga besar nasional Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026, hingga mulai tertekannya sektor industri Batam akibat pelemahan nilai tukar rupiah dan terganggunya pasokan bahan baku impor.
Ketiga isu tersebut menjadi berita yang paling banyak menarik perhatian pembaca Batam Pos.
1. Sebanyak 18 ASN PPPK Karimun Mengundurkan Diri
Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Karimun mencatat 18 ASN berstatus PPPK mengundurkan diri sepanjang 2026.
Mayoritas pegawai memilih melepas status ASN setelah memperoleh pekerjaan baru yang menawarkan penghasilan lebih tinggi. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah karena menunjukkan tantangan dalam mempertahankan sumber daya manusia di lingkungan pemerintahan di tengah persaingan dunia kerja yang semakin kompetitif.
Selengkapnya dapat dibaca di SINI.
2. Siswa Batam Antar Kepri Tembus Tiga Besar Nasional TKA 2026
Dunia pendidikan Kepulauan Riau mencatat capaian membanggakan setelah berhasil menempati posisi tiga besar nasional pada Tes Kemampuan Akademik (TKA) Tahun Pelajaran 2025/2026.
Keberhasilan tersebut ditopang prestasi siswa-siswa Batam yang tampil gemilang. Bahkan, salah seorang peserta berhasil meraih nilai sempurna. Capaian ini memperlihatkan peningkatan mutu pendidikan di Kepri sekaligus memperkuat posisi daerah sebagai salah satu provinsi dengan prestasi akademik terbaik di Indonesia.
Baca selengkapnya di SINI.
3. Industri Batam Mulai Terbebani Pelemahan Rupiah
Sektor industri di Batam mulai merasakan tekanan akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat serta terganggunya pasokan bahan baku di pasar global.
Perusahaan yang masih bergantung pada bahan baku impor menjadi pihak yang paling terdampak karena biaya produksi terus meningkat. Pelaku usaha berharap stabilitas nilai tukar dan kelancaran rantai pasok segera membaik agar daya saing industri Batam tetap terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Baca selengkapnya di SINI.
(*)

