Sabtu, 20 Juni 2026

Usaha Laundry di Batam Masih Gunakan Gas 3 Kg, Pertamina Siapkan Sanksi

Berita Terkait

Salah satu tempat usaha laundry di kawasan Batam Center masih menggunakan tabung gas melon subsidi untuk menjalankan usaha laundry-nya. Foto: Yashinta

batampos – Penggunaan elpiji subsidi 3 kilogram atau gas melon oleh sejumlah usaha laundry di Kota Batam masih menjadi sorotan. Padahal, berdasarkan ketentuan pemerintah, usaha laundry tidak termasuk kelompok yang berhak menggunakan elpiji bersubsidi.

Di lapangan, salah satu usaha laundry di kawasan Mega Legenda masih terlihat menggunakan tabung gas melon untuk mendukung operasionalnya. Temuan ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat, mengingat elpiji 3 kilogram diperuntukkan bagi rumah tangga miskin dan pelaku usaha tertentu yang telah ditetapkan sebagai penerima subsidi.

Seorang warga Batam, Tavia, mengatakan praktik penggunaan gas melon oleh usaha laundry bukan hal baru. Ia mengaku beberapa kali menemukan kondisi serupa di sejumlah lokasi berbeda.

“Sudah beberapa kali ketemu laundry menggunakan gas melon,” ujarnya.

Baca Juga: Pemko Kaji Syarat SKCK bagi Pendatang, DPRD: Batam Ini untuk Seluruh Indonesia ‎

Menurut Tavia, kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada ketersediaan elpiji subsidi bagi masyarakat yang benar-benar berhak. Tidak jarang, kata dia, warga justru kesulitan mendapatkan gas melon di pangkalan resmi.

“Harusnya memang ditindak. Kasihan masyarakat kecil yang memang butuh gas melon,” katanya.

Menanggapi hal itu, Sales Branch Manager Kepri Gas Pertamina Patra Niaga, Hanif Pradipta Nur Shalih, menegaskan bahwa usaha laundry tidak termasuk konsumen yang diperbolehkan menggunakan elpiji 3 kilogram.

“Laundry secara ketentuan tidak termasuk konsumen pengguna elpiji 3 kilogram. Dari sisi usaha laundry memang perlu ada perhatian dari instansi terkait,” kata Hanif.

Ia menjelaskan, ketentuan tersebut mengacu pada regulasi yang ditetapkan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas).

“Sudah ada aturannya dari Dirjen Migas,” tegasnya.

Untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam mendorong penggunaan elpiji nonsubsidi, Pertamina juga menyediakan program trade in bagi pelaku usaha yang masih menggunakan elpiji 3 kilogram. Melalui program tersebut, dua tabung gas melon dapat ditukar menjadi satu tabung LPG 5,5 kilogram, dengan pembayaran hanya untuk isi ulangnya saja.

Baca Juga: Dugaan Penganiayaan Anak di Batam Terungkap dari Permintaan Donasi

“Dalam peralihan ke elpiji nonsubsidi, Pertamina ada program trade in. Dua tabung 3 kilogram bisa ditukar menjadi satu tabung 5,5 kilogram dan hanya perlu membayar isi ulangnya saja,” jelas Hanif.

Ia juga menegaskan, Pertamina akan menindaklanjuti apabila ditemukan pangkalan yang dengan sengaja menyalurkan elpiji subsidi kepada usaha laundry.

“Jika ada pangkalan dengan sengaja menyuplai ke laundry, akan kami bina lebih lanjut,” ujarnya. Meski demikian, Hanif menilai pengawasan dan pembinaan terhadap pelaku usaha tidak dapat dilakukan sendiri oleh Pertamina, melainkan membutuhkan kolaborasi dengan instansi terkait.

“Kalau pembinaan langsung ke pengguna atau laundry, mungkin perlu kolaborasi dengan pihak-pihak terkait,” katanya.

Di sisi lain, ia memastikan distribusi LPG di Kota Batam saat ini masih berjalan normal dan stok dalam kondisi aman.

“Penyaluran LPG di Batam alhamdulillah lancar, stok insyaallah aman,” pungkasnya. (*)

ReporterYashinta

UPDATE