
batampos – Banjir yang merendam ruas Jalan Ahmad Yani mulai dari perempatan lampu merah Panbil hingga perempatan K Square (eks Kepri Mall) pada 9 Juni 2026 kembali memunculkan sorotan terhadap arah pembangunan Kota Batam. Selain faktor curah hujan tinggi dan kapasitas drainase, organisasi lingkungan Akar Bhumi Indonesia (ABI) menilai banjir tersebut berkaitan dengan perubahan tata kelola lingkungan dan berkurangnya daya dukung alam.
Genangan air saat itu sempat melumpuhkan ruas jalan utama tersebut. Air meluap hingga setinggi lutut orang dewasa dan menyebabkan kemacetan panjang serta mengganggu aktivitas masyarakat.
Penggiat Lingkungan dari NGO Akar Bhumi Indonesia, Hendrik Hermawan, menilai peristiwa tersebut bukan sekadar bencana musiman, melainkan indikasi krisis lingkungan yang semakin nyata. Hal ini patut menjadi renungan di Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
“Ini semua persoalannya ada pada tata kelola lingkungan kita yang buruk. Dari situlah akar semuanya,” kata Hendrik, Jumat (20/6).
Menurut dia, berbagai persoalan lingkungan yang muncul dalam beberapa tahun terakhir, seperti banjir, sedimentasi waduk, penyusutan kawasan hijau, hingga penurunan kualitas sumber air, tidak terlepas dari masifnya alih fungsi lahan di Batam.
Hendrik menilai, meski izin pembangunan telah diterbitkan, pengawasan terhadap pemanfaatan ruang masih lemah sehingga aspek keberlanjutan lingkungan kerap terabaikan.
“Persoalannya pengawasan kita lemah, sementara izin-izin sudah diberikan oleh pemangku kepentingan,” ujarnya.
Salah satu kawasan yang menjadi sorotan ABI adalah perbukitan di sekitar Jalan Ahmad Yani di kawasan Seibeduk yang selama ini berfungsi sebagai daerah tangkapan air alami.
BACA SELENGKAPNYA di harian.batampos.co.id

