
batampos.co.id – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Batam mengalami peningkatan pada periode Oktober hingga November 2021. Angka ini naik tajam dibandingkan bulan sebelumnya.
Kondisi musim penghujan di tahun ini menjadi salah satu faktor peningkatan DBD tersebut. Berdasarkan Data Dinas Kesehatan Batam, pada September 2021, angka kasus sebanyak 43 kasus.
Sedangkan Oktober 2021 bergerak naik signifikan menjadi 73 kasus dan terus naik hingga 23 November 2021 jadi 76 kasus.
Sementara itu secara keseluruhan jumlah kasus DBD di Batam sejak Januari hingga 23 November 2021 mencapai 598 kasus. Dari jumlah ini, tiga orang di antaranya meninggal.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan, kondisi kasus DBD di Batam pada semester II tahun ini memang lebih banyak dibandingkan periode semester pertama.
Dia berujar hal itu seiring dengan adanya faktor musim penghujan yang panjang pada tahun ini.
“Iya, musim hujan ini menjadi penyebab faktor tingginya angka DBD di Kota Batam,” ujarnya, Rabu (24/11/2021).
Kasus ini tersebar hampir di seluruh kecamatan di Kota Batam. Bila dibandingkan tahun sebelumnya, terdapat 765 kasus DBD, dimana empat pasien diantaranya meninggal.
“Untuk ketiga korban yang meninggal ini merupakan warga Tiban Indah, Botania dan Tanjung Uncang,” ucap Didi.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mengingatkan warga mewaspadai penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
Pasalnya, saat ini tengah memasuki musim hujan dan diprediksi kasus DBD akan meningkat disaat musim hujan.
Didi mengatakan disaat curah hujan biasanya populasi nyamuk aedes aegypti akan meningkat. Peningkatan ini tentunya juga meningkatkan penularan penyakit DBD.
“Kasus DBD ini bersifat fluktuatif. Namun saat musim hujan, kejadian penyakit DBD akan meningkat,” tambahnya.
Dimana katanya pada musim hujan populasi Aedes aegypti akan meningkat karena telur yang belum menetas akan menetas ketika habitat perkembangbiakannya mulai tergenang air hujan.
Kondisi tersebut akan meningkatkan populasi nyamuk sehingga dapat menyebabkan peningkatan penularan penyakit DBD.
“Oleh sebab itulah kita menghimbau untuk tetap 3 M + yakni menguras, mengubur, dan menutup wadah yang berpotensi jadi sarang nyamuk. Peran aktif masyarakat sangat diperlukan di dalam mencegah penyebaran DBD ini,” imbaunya.
Selain itu Berbagai upaya terus dilakukan Dinas Kesehatan Batam untuk penanganan kasus DBD ini. Salah satunya dengan memberikan penyuluhan ke masyarakat.
Sampai dengan menggalakan peran juru pemantau jentik (jumantik) dengan programnya ‘Gerakan 1 rumah 1 jumantik’.
“Kita aktifkan kembali gerakan 1 rumah 1 jumantik,” kata Didi.
Adapun tugas para jumantik ini menjadi mitra puskesmas dalam mencegah dan menurunkan angka penyakit DBD.
Kader ini juga bertugas memantau kondisi lingkungan sekitar dari penyebaran penyakit melalui kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk.
Sebelumnya, kasus DBD mengganas lagi di Tanjunguncang, Batuaji. Pasalnya korban DBD sudah berjatuhan.
”Di RW 12 perumahan Marina Garden, 1 pasien meninggal, anak-anak,” ujar Ketua RW 12 perumahan Marina Garden, Amir, Minggu (7/11/2021).
Masih kata Amir, meninggalnya sudah seminggu lalu di rumah sakit. Memang pengaruh lingkungannya kurang bersih dan kumuh.
”Saya juga sampaikan ke warga selalu jaga kebersihan lingkungan, rumah harus bersih jangan ada penampungan air yang terbuka. Parit selalu dibersihkan. Gotong royong juga saya galakkan,” bebernya.
Katanya, kejadian itu sudah dilapor ke Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) Tanjunguncang.
Reporter: Rengga Yuliandra

