
batampos – Lelang Sistem Pengelolaan Air Minum (SPAM) Batam yang digelar Badan Pengusahaan Batam harus menghasilkan pemenang yang benar-benar kompeten dan kredibel dalam mengelola air bersih untuk masyarakat.
Jangan sampai perusahaan yang punya rekam jejak buruk, bahkan gagal dalam mengelola air bersih di daerah lain, justru keluar sebagai pemenang.
Ketua Komisi III DPRD Batam, Werton Panggabean, mengatakan lelang SPAM yang sedang berlangsung hendaknya berjalan profesional, adil, dan transparan.
Proses itu akan menghasilkan pemenang dengan standar kerja yang mumpuni.
”Sehingga pengelolaan air minum di Kota Batam ini bisa dipastikan penanganannya maksimal oleh perusahaan yang berstandar tinggi,” katanya, Jumat (7/1/2022).
Sebaliknya, kata dia, jika pengelolaan air dimenangkan oleh perusahaan yang tidak kredibel akan berdampak buruk bagi pelayanan ke masyarakat.
”Jangan sampai ada perusahaan atau koorporasi yang gagal dalam pengelolaan air menjadi pemenang SPAM di Batam,” ujar politisi Partai Gerindra itu.
Berdasarkan dokumen referensi untuk panitia lelang yang diperoleh Batam Pos menunjukkan, ada satu perusahaan yang saat ini sedang terlibat dalam pengelolaan air bersih di provinsi lain dinilai gagal dalam menangani tingkat kebocoran (non revenue water).
Dalam dokumen tersebut dituliskan angka kehilangan air selama periode 1998-2020 mencapai 63,24 persen-43,24 persen.
Anggota Komisi III DPRD Batam, Muhammad Rudi, menekankan pentingnya perusahaan berstandar tinggi tampil sebagai pengelola air di Batam.
Sebab, kata dia, akan berpengaruh pada pelayanan kebutuhan warga, khususnya wilayah-wilayah tingkat pemenuhan air bersihnya belum maksimal, seperti di Batuaji.
Rudi yang tinggal di Batuaji mengungkapkan, di lokasi tempat tinggalnya, air baru mengalir pada malam hari.
”Karena belum bagusnya manajemen air,” ujarnya.
Anggota Komisi I DPRD Batam, Utusan Sarumaha, juga menilai penting lelang yang profesional agar menghasilkan pemenang yang punya kemampuan luar biasa dalam mengelola air.
Ia mengungkapkan, ada beberapa tugas yang akan menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemenang lelang. Mulai dari pendistribusian air yang masih tidak merata. Beberapa daerah baru mendapatkan air hingga subuh.
”Ini sangat mengganggu aktivitas masyarakat,” tuturnya.
Pekerjaan lainnya, terkait dengan masalah penyambungan meteran baru di kaveling. Masih banyak ditemukan kontraktor nakal yang membuat harga sesuka hatinya saat menyambung meteran baru.
”Masyarakat mengeluh akibat tarif dari kontraktor yang memberatkan. Di daerah kaveling angkanya sampai Rp 5 juta lebih,” jelasnya.
Ia menambahkan, jangan ada kejadian seperti beberapa waktu lalu terkait melonjaknya tagihan air. Bahkan, sampai saat ini banyak meteran air warga yang akan diputus atau disegel apabila tidak melakukan pembayaran.
”Padahal pembayaran itu di duar logika pelanggan. Itu tidak bisa dijawab secara meyakinkan oleh PT Moya,” jelasnya.
Reporter: Eggi Idriansyah

