
Singapura membuka pintunya semakin lebar dengan memudahkan persyaratan masuk bagi pengunjung dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Warga Batam pun memanfaatkan kemudahan ini dan mulai ramai mengunjungi Singapura untuk liburan.
AHMADI SULTAN, Singapura
KAPAL feri Majestic hampir merapat di Pelabuhan Tanah Merah, Singapura. Sejumlah penumpang yang memenuhi kapal feri itu bangkit dari kursi dan berdiri dekat pintu keluar. Begitu kapal merapat dan pintu dibuka, mereka pun bergegas turun. Penumpang kelas VIP didahulu. Kemudian penumpang umum.
Penumpang turun dari kapal dan menuju konter pemeriksaan paspor tanpa membawa koper. Seperti di pesawat, barang penumpang diantarkan ke area kedatangan dan diambil di conveyor. Di pintu masuk sebelum pemeriksaan paspor tidak tampak alat pemeriksaan suhu tubuh. Tidak ada pula pengecekan aplikasi Trace Together (semacam aplikasi Peduli Lindungi di Indonesia).
Di depan konter imigrasi, barisan pengunjung mengular menunggu giliran. Tidak begitu panjang. Tetapi mungkin karena area kedatangan di Pelabuhan Tanah Merah ini tidak sebesar di Harborfront, sehingga tampak ramai. Ada rasa gembira, bahkan haru, ketika akhirnya bisa menjejakkan kaki lagi di Singapura.
“Rasanya terharu bisa masuk Singapura lagi,” kata Lusi Siahaan, warga Batam yang berkunjung ke Singapura saat momen libur Lebaran lalu.
Yah, sejak pandemi Covid-19 merebak di berbagai negara awal 2020, Singapura yang hanya 35 menit dari Batam menutup rapat pintunya. Warga Batam yang terbiasa mengunjungi Singapura harus menunggu lebih dari dua tahun untuk bisa berkunjung lagi untuk liburan.
Batam Pos pun merasakan antusiasme ketika mengunjungi Singapura pada hari ketiga Lebaran. Berangkat dari Pelabuhan Batam Centre dengan kapal ferry yang hampir dipenuhi penumpang. Saat check in, staf Majestic Ferry menanyakan bukti vaksin penuh atau booster. Juga Singapore Arrival Card yang sudah diisi secara online tiga hari sebelum kedatangan. Tidak ada persyaratan yang memberatkan.
Pengalaman serupa dirasakan Raditya Satrio Wibowo. Radit -panggilan akrabnya- pertama kali ke Singapura sejak pandemi dan pintu perbatasan untuk turis ditutup. “Awal 2020 mau berangkat karena paspor baru jadi akhir 2019. Terus dinas keluar kota jadi tertunda. Maret (2020) eh covid datang,” ujar dia.
Setelah memendam selama lebih dari dua tahun, awal Mei 2022, Radit akhirnya bisa mengunjungi Singapura. Perjalanannya relatif mulus sejak dari Batam hingga memasuki Singapura.
“Di imigrasi, lancar banget. Gak ada kendala padahal lumayan panjang antrean. Gak ada ditanya apa-apa. Mungkin karena arrival card sudah diisi online dan sudah terintegrasi sistem mereka. Berangkatnya malah yang ditanya apa sudah full vaksin,” tuturnya.
Selepas dari konter imigrasi, tujuan pertama Radit adalah Masjid Sultan. Sejak memasuki Singapura hingga tiba di Masjid Sultan, Radit juga tidak mengalami kendala apapun. Tidak pula merasakan pengetatan atau harus jaga jarak. “Rasanya senang banget bisa ke Singapura. Ini kan keluar negeri terdekat dari Batam,” katanya.
Radit tiba di Masjid Sultan menjelang tengah hari dan niatnya ikut melaksanakan salat Jumat di masjid tersebut sebelum mengeksplore Singapura. Di sini lah pertama kalinya Radit menemukan pengetatan aturan. Untuk ikut salat di Masjid Sultan, harus registrasi di website dan memasukkan masukkan nomor telpon Singapura.
“Kendalanya gak bisa submit karena pakai nomor Indonesia. Jadi saya negosiasi. Aturan lainnya harus bawa sajadah sendiri. Tapi gak ada jaga jarak, rapat (safnya) dan scan Trace Together,” ceritanya.

Usai salat jumat, Radit mengekplore Masjid Sultan dan sekitarnya. Kemudian ke Marina Bay Sands dan mengunjungi mallnya. Mengunjungi Merlion Park dan menghabiskan waktu di sana untuk menikmati spektra light show. Lalu ke Garden by The Bay dan disambung ke Orchard Road dan Sommerset. Bahkan hingga ke Jurong
“Selama di sana aturan fleksible sih liatnya. Pakai masker hanya di dalam ruang dan transportasi publik. Kalau di luar gak mesti. Masuk mall juga gak perlu scan Trace Together, tetapi tetap pake masker,” kata pemuda 27 tahun ini.
Masuk Singapura semakin mudah sejak 26 April 2022. Persyaratan ketat dihapus satu per satu seiring meredanya kasus Covid-19. Karantina ditiadakan. Tes PCR saat keberangkatan dari negara asal atau pun tes cepat saat ketibaan di Singapura dihapus. Singapore pass atau persetujuan masuk Singapura tak ada lagi. Asuransi pun tidak diwajibkan lagi.
Warga asing yang telah divaksin penuh bisa berkunjung ke Singapura nyaris seperti kala pandemi belum menyerang. Bedanya hanya pada penggunaan Singapore Arrival Card atau kartu kedatangan tidak lagi menggunakan kertas. Tetapi beralih ke online. Sebelum tiba, pengunjung mengajukan kartu kedatangan tersebut lewat website atau aplikasi yang mudah diisi. Pengajuan kartu kedatangan kemudian dibalas lewat email.
Di konter imigrasi, kartu kedatangan itu tidak perlu ditunjukkan. Sebab sudah terkoneksi dengan data ICA. Petugas imigrasi hanya memeriksa paspor pengunjung dan tidak lagi membubuhkan stempel di paspor. Mengantre di konter imigrasi pun tidak begitu lama.
“Saya cek paspor, tidak ada stempel padahal saya dengar suara kayak distempel. Saya kira stempelnya invisible gitu. Tapi sepertinya memang tidak lagi,” ujar Lusi.
Menurut Lusi, saat di konter imigrasi, ia tidak mendapat pertanyaan apapun atau memperlihatkan dokumen tertentu. Kecuali paspor. Jadi tidak membutuhkan waktu yang lama di konter imigrasi.
Selepas dari konter imigrasi, pengunjung mengambil barang mereka di conveyor. Lalu menuju halte bus. Di Pelabuhan Tanah Merah memang berbeda dengan Harborfront yang terhubung dengan MRT. Namun pintu masuk utama lewat laut itu belum dibuka.
Untuk menuju pusat kota dari Tanah Merah ataupun sebaliknya, tersedia bus nomor 35 yang mengantarkan ke stasiun MRT Tanah Merah. Dari sini lah pengunjung bisa menumpang MRT ke berbagai tujuan seperti ke Bedok, Marina Bay, Chinatown, Bugis, Little India, dan Bandara Changi.
Di bus tidak ada pembatasan atau jaga jarak. Namun semua penumpang wajib mengenakan masker. Begitu pula di MRT. Singapura masih mewajibkan setiap orang mengenakan masker dalam transportasi publik maupun ruang tertutup. Tetapi berbeda ketika berada di luar ruang. Warga boleh melepas masker.
Di tempat-tempat publik maupun tempat wisata yang sudah mulai ramai pengunjung, terlihat orang-orang yang tidak mengenakan masker. Di Merlion Park, di mana ikon Singapura berada, turis sudah ramai. Beberapa di antaranya tak mengenakan masker. Begitu pula di kafe dan restoran yang berjejer di dekat Merlion Park ramai pengunjung.
Bahkan di depan Esplanade Theater, pertunjukan musik sudah digelar dan penonton yang ramai tidak perlu berjarak. Namun petugas di area itu masih meminta pengunjung mengenakan masker meski di area terbuka.
Garden by The Bay juga ramai pengunjung. Terutama di area Super Tree. Pengunjung bisa menikmati permainan lampu yang digelar pada malam hari dengan bebasnya. Tidak ada pembatasan atau harus mengenakan masker. Jadi situasi dan suasana di Singapura hampir seperti sebelum pandemi Covid-19. (*)



