
batampos – Pemanasan global mulai berefek terhadap cuaca di Kota Batam. Dalam beberapa bulan terakhir Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas I Hang Nadim kesulitan memprediksi prakiraan cuaca.
BMKG bahkan mencatat dalam dua bulan ini ada pergeseran kebiasaan cuaca di Kepri. Koordinator Bidang Data dan Informasi Stamet Hang Nadim, Suratman, mengatakan, berdasarkan data Stamet Hang Nadim cuaca di Kepri dari 2001 hingga 2021 di Desember dan Januari cenderung basah.
Dengan intensitas hujan yang tinggi dengan curah hujannya rata-rata 262 milimeter. Sementara di Februari potensi hujan menurun, sehingga curah hujan per bulannya hanya 84 milimeter.
Sedangkan pada Maret naik menjadi 146 milimeter, April naik 167 milimeter, Mei naik di 200 milimeter.
Lalu, di Juni dan Juli turun menjadi 162 milimeter dan naik lagi di Agustus menjadi 182 milimeter. Sedangkan September turun menjadi 161 milimeter.
Sementara pada Oktober curah hujan naik menjadi 194 milimeter dan November di 256 milimeter.
“Sekarang ini banyak prediksi yang agak meleset, (akibat) pemanasan global,” kata Suratman.
Ia menjelaskan, beberapa prediksi berdasarkan pencatatan BMKG selama rentang puluhan tahun itu, tidak sama dengan yang terjadi di tiga bulan ini.
Ia melanjutkan, pada April diprediksi potensi hujan yang cukup rendah dan panas. Namun kata dia, potensi hujan justru meningkat dan suhu udara menjadi lebih teduh.
“Malah di Mei yang menjadi salah satu puncak hujan di Kepri, tapi kenyataannya hujan yang turun sedikit dan suhu menjadi lebih panas,” jelasnya.
Lalu, di Juni ada penurunan intensitas hujan. Tetapi awal Juni tahun ini potensi hujan meningkat. Suhu di awal Juni menjadi lebih dingin dan potensi hujan menjadi meningkat.
Suratman mengatakan, pihaknya saat ini sedikit kesulitan memprediksi cuaca harian, mingguan dan bulanan.
“Contohnya, di Mei itu puncak hujan. Tapi hujannya sedikit dan justru yang terjadi cuaca panas,” tutur dia.
Ia mengatakan, Batam termasuk dalam pulau kecil dan di kelilingi laut. Sehingga, kondisi cuacanya mudah dipengaruhi kondisi di sekitarnya.
“Jika kondisi sekitarnya terdampak pemanasan global, Batam juga terkena efeknya. Kondisi sekitar berubah cepat, kita (Batam) berubah,” pungkasnya.(*)
Reporter: Fiska Juanda



