Senin, 16 Maret 2026

BKKBN Grebek Keluarga Stunting di Seibeduk, Berikan Bantuan Uang

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi stunting. Foto: JawaPos.com

batampos – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Kepri mulai gencar dengan program grebek stunting. Program kunjungan ke rumah keluarga stunting di desa atau kelurahan ini tidak lain untuk mencegah dan mengatasi masalah stunting di Tanah Air.

Program grebek stunting ini dimulai dengan kunjungan ke keluarga stunting di Kecamatan Seibeduk, Rabu (29/6). Keluarga stunting didatangi kemudian dikumpulkan di kantor Kecamatan Seibeduk untuk menerima bantuan uang gizi anak sebesar Rp 740 ribu per anak selama enam bulan.

Anggaran pendamping gizi anak ini merupakan bantuan dari Rumah Zakat Batam, PT Panasonic dan PT Eco Green dan peduli dengan program pemberantasan stunting di Tanah air. Di lokasi acara juga dibuka layanan KB gratis kepada masyarakat yang membutuhkan.

Kepala Perwakilan BKKBN kepri Rohina menjelaskan, program grebek stunting ini dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Keluarga Nasional yang ke-29 serta pengukuhan Kepala Start Angkatan Darat (KASAD) Jendral TNI Dudung Abdurachman sebagai bapak asuh stunting nasional. Dalam program tersebut BKKBN yang bekerja sama dengan pemerintah daerah serta perusahaan atau lembaga yang peduli terhadap masalah stunting untuk membantu memulihkan penderita stunting di Kota Batam.

Sasaran kali ini adalah masyarakat Seibeduk. Total ada 25 keluarga yang menerima program pendampingan stunting tersebut.

“Bantuan kali ini dari rumah Zakat Batam, PT Panasonic dan PT Eco Green. Kita berharap agar kedepannya semua pihak dan seluruh lapisan masyarakat semakin peduli lagi dengan sehingga grebek stunting ini terus berlanjut ke kecamatan atau wilayah lainnya,” Rofina.

Wakil Gubernur Kepri Marlin Agustina yang juga menjabat sebagai Ketua Stunting Kepri di lokasi acara menyampaikan hal yang sama. Diapun berharap agar semua pihak semakin peduli dengan program pemberantasan stunting di tanah air ini.

Targetnya tahun 2045 atau tepatnya 100 tahun Indonesia merdeka, Indonesia memiliki generasi yang cemerlang dan berkualitas. Pemerintah pusat, daerah dan seluruh stakeholder yang ada, tengah berjuang keras menekan angka stunting di Tanah Air.

Kepri disebutkan Marlin saat ini masih cukup banyak penderita stunting. Di Batam sendiri baru satu kelurahan di Kecamatan Belakangan Padang yang bebas stunting. Daerah dengan stunting terbanyak ada di Lingga, Natuna dan Anambas. Untuk itu dia berharap semua pihak peduli dan aktif untuk memberantas stunting ini.

“Stunting tak bisa pemerintah sendiri yang atasi. Semua pihak harus bergerak. Kerja sama dengan lintas instansi, lembaga ataupun kelompok aktifis sangat diperlukan. Kelompok Mahasiswa misalkan yang sering turun praktek ke pesisir digandeng agar lebih aktif dengan sosialiasi stunting ini. Begitu juga dengan lintas OPD harus bergerak bersama. Dinas Ketahanan Pangan misalkan juga aktif menyuplai asupan gizi ke anak stunting. Begitu juga Kemenag untuk sosialisasi pernikahan yang sehat kepada pasangan pra nikah dan lain sebagainya. Mari kita bergandengan tangan menekan stunting di Tanah Air,” imbaunya.

Kepada kader posyandu, Marlin juga berharap untuk rutin melakukan pengecekan terhadap anak usia dibawah dua tahun. Jika ada gejala stunting segera laporan untuk ditindaklanjuti. “Karena kalau sudah lewat usia dua tahun agak sudah mau kembali ke pertumbuhan normal,” ujarnya.

Hadir dalam kegiatan grebek stunting ini Dandim 0316/Batam, Letnan Kolonel (Letkol) Korps Kavaleri (KAV) Sigit Dharma Wiryawan. (*)

 

 

Reporter : Eusebius Sara

SALAM RAMADAN