Senin, 16 Maret 2026

Kenaikan Harga Angkutan Udara dan Cabai Merah Dorong Inflasi Juli 2022

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Pembeli memilih cabai merah di pasar malam Bengkong Sadai, Kamis (9/12). Terkendalanya distribusi cabai jadi penyebab mahalnya komoditas tersebut. F.oto: Iman Wachyudi/Batam Pos

batampos – Pada Juli 2022, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepulauan Riau (Kepri) secara bulanan mengalami inflasi sebesar 0,61% (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan Juni 2022 yang mengalami inflasi sebesar 0,84% (mtm).

Wakil Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Musni Hardi K. Atmaja mengatakan, inflasi terutama didorong oleh kenaikan harga kelompok komoditas yang harganya diatur oleh pemerintah (administered prices) utamanya tarif angkutan udara dan rokok kretek filter.

Sementara itu, tekanan inflasi kelompok makanan bergejolak (volatile food) cenderung berkurang terutama pada komoditas minyak goreng dan cabai merah serta bawang merah. Di sisi lain kelompok inti juga mengalami inflasi yang didorong oleh kenaikan upah asisten rumah tangga.

“Pada saat yang sama, IHK Nasional tercatat mengalami inflasi sebesar 0,64% (mtm), lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,61% (mtm),” katanya.

Dengan perkembangan tersebut, lanjutnya, secara tahunan Kepri pada Juli 2022 mengalami inflasi sebesar 6,09% (yoy), atau meningkat dibandingkan Juni 2022 sebesar 5,89% (yoy), dan berada di atas sasaran inflasi nasional sebesar 3 ± 1% (yoy).

Inflasi di Kepri pada Juli 2022 terutama bersumber dari kelompok transportasi utamanya tarif angkutan udara, serta kelompok makanan, minuman dan tembakau utamanya pada cabai merah dan bawang merah.

“Kenaikan tarif angkutan udara didorong oleh kenaikan harga avtur di tengah kenaikan permintaan seiring kebijakan pelonggaran mobilitas,” ujarnya.

Sementara itu inflasi cabai merah dan bawang merah utamanya disebabkan oleh terbatasnya pasokan akibat gangguan cuaca di sentra produksi. Secara spasial, Kota Batam dan Kota Tanjungpinang mengalami inflasi masing-masing sebesar 0,61% (mtm) dan 0,66% (mtm).

Dengan perkembangan tersebut, secara tahunan Kota Batam mengalami inflasi sebesar 6,15% (yoy),dan Kota Tanjungpinang mengalami inflasi sebesar 5,59% (yoy).

“Komoditas utama penyumbang inflasi di Kota Batam adalah angkutan udara, cabai merah, dan bawang merah sedangkan komoditas penyumbang inflasi di Kota Tanjungpinang adalah cabai merah, angkutan udara, dan bahan bakar rumah tangga,” jelasnya.

Ia menambahkan, memasuki bulan Agustus 2022, tekanan inflasi diperkirakan masih berlanjut namun cenderung melemah. Beberapa risiko inflasi yang perlu diwaspadai, yakni Masih tingginya harga energi secara global yang dapat mendorong kenaikan harga avtur dan berlanjutnya kenaikan tarif angkutan udara dan Inflasi pada kelompok biaya Pendidikan.

Sementara itu tekanan inflasi kelompok bahan makanan diperkirakan berkurang seiring panen yang dimulai pada akhir Agustus 2022. Sehubungan dengan hal tersebut, upaya pengendalian inflasi oleh TPID akan difokuskan untuk memantau perkembangan harga dan kelancaran pasokan bahan pangan terutama aneka cabai, bawang merah, dan sayur-sayuran.

“Dalam hal masih dibutuhkan TPID juga akan melakukan operasi pasar murah,” tuturnya.

Selain itu, TPID juga akan terus mendorong realisasi Kerjasama Antar Daerah (KAD) dengan daerah penghasil baik di internal maupun luar Provinsi Kepri.

“Dalam jangka panjang, TPID akan terus mendorong upaya peningkatan kapasitas produksi lokal melalui penguatan kelembagaan nelayan/petani, perluasan lahan, dan implementasi teknik budidaya yang lebih baik seperti Program Lipat Ganda, serta program Pekarangan Pangan Lestari (P2L),” imbuhnya. (*)

 

 

Reporter : Eggi Idriansyah

SALAM RAMADAN