batampos – Pengembangan Bandara Internasional Hang Nadim Batam terus menunjukkan kemajuan pesat. Kerja sama antara BP Batam dan PT Bandara Internasional Batam (BIB) menjadi dasar utama transformasi bandara ini.
Bandara Hang Nadim yang terus berbenah, siap menyong-song masa depan cerah. Dengan pengembangan infrastruktur, peningkatan layanan, dan ekspansi rute penerbangan, Bandara Hang Nadim bakal menjadi simbol kebangkitan Batam sebagai kota modern dan pusat ekonomi di Indonesia.
PT BIB kini bertanggung jawab penuh atas pengoperasian, renovasi, dan pengembangan fasilitas, termasuk perluasan Terminal I, pembangunan Terminal II, serta pengelolaan terminal kargo baru.
Proyek pembangunan Terminal II, yang berdiri di atas lahan seluas 50.000 meter persegi dengan investasi senilai Rp2,4 triliun, diharapkan rampung pada 2026. Terminal baru ini dirancang untuk mendukung rencana induk Bandara Hang Nadim yang mengusung konsep logistics aerocity, menjadikan bandara ini salah satu pusat logistik udara terkemuka di Indonesia.
Kepala BP Batam, Muhammad Rudi, menyebut proyek ini sebagai tonggak penting dalam sejarah pengembangan Bandara Hang Nadim. “Pembangunan Terminal II ini menjadi kebangkitan Bandara Hang Nadim yang kita cintai. Mari kita dukung bersama untuk mewujudkan Batam sebagai kota baru yang maju,” ujarnya, beberapa waktu lalu.
Bandara Hang Nadim juga terus menambah rute penerbangan baru, baik domestik maupun internasional. Salah satu terobosan terbaru adalah pembukaan rute internasional Incheon–Batam dengan maskapai Jeju Air pada 18 Oktober 2024. Kehadiran rute ini memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi Kota Batam dan meningkatkan konektivitas dengan Korea Selatan.

Direktur PT BIB, Pikri Ilham Kurniansyah, menyampaikan data terbaru mengenai lonjakan aktivitas di bandara selama periode liburan Natal 2024 dan Tahun Baru 2025. Pergerakan penumpang dari 18 hingga 29 Desember 2024 mencapai 158.674 orang, naik 16,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan rata-rata harian 13.222 penumpang.
Jumlah penerbangan juga meningkat signifikan, mencapai 1.101 penerbangan atau naik 11,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan rata-rata 91 penerbangan per hari, angka ini menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap layanan Bandara Hang Nadim.
Menghadapi lonjakan penumpang, PT BIB telah mengambil berbagai langkah strategis. Posko Terpadu Angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) dibentuk dengan melibatkan berbagai pihak, seperti Dinas Kesehatan, TNI-Polri, serta penambahan personel khusus untuk menjamin kelancaran operasional bandara.
Otoritas Bandar Udara Wilayah II Kementerian Perhubungan juga turut meningkatkan pengawasan dengan melakukan inspeksi keamanan dan keselamatan penerbangan selama musim liburan. Langkah ini memastikan standar keselamatan tetap terjaga di tengah peningkatan aktivitas bandara.
Meski Terminal I masih dalam proses renovasi, PT BIB memastikan kenyamanan penumpang tetap menjadi prioritas utama. Delapan ruang tunggu atau boarding gate telah selesai direnovasi dan kembali digunakan. Fasilitas tambahan seperti mesin self check-in, toilet modern, musala, ruang inap transit, dan lainnya juga disediakan untuk mendukung kenyamanan pengguna jasa bandara.
Pengembangan rute penerbangan internasional juga menjadi fokus utama Bandara Hang Nadim. Saat ini, bandara telah melayani rute ke Kuala Lumpur, Incheon, Bangkok, Vietnam, Hong Kong, serta rute khusus untuk perjalanan haji dan umrah. Rute ke Tiongkok juga kembali dibuka, menandai pemulihan sektor penerbangan pascapandemi.
“Tahun 2025 akan menjadi tahun pengembangan lebih lanjut. Kami terus berupaya menambah rute internasional baru untuk meningkatkan daya saing dan konektivitas Bandara Hang Nadim,” ujar Pikri, Senin (30/12).
Proyek pengembangan ini diharapkan tidak hanya menjadikan Bandara Hang Nadim sebagai bandara internasional modern, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang luas bagi Batam. Dengan konsep Logistics Aerocity, bandara ini berpotensi menjadi pusat bisnis logistik regional yang strategis.
Tak hanya bandara, BP Batam terus mempercepat pengem-bangan Pelabuhan Batuampar sebagai terminal peti kemas utama di Batam. Hasil kolaborasi dengan Persero kini membuahkan hasil, termasuk pembukaan rute perdagangan baru atau direct call dari Batam ke Tiongkok, 31 Maret 2024 lalu. Sebelumnya, pelabuhan ini juga telah melayani rute langsung ke Myanmar sejak Agustus 2024.
Rute pelayaran langsung ke Tiongkok dioperasikan oleh Shandong International Transportation Corporation (SITC). Pada perjalanan perdana dari Tiongkok menuju Batam, SITC menggunakan kapal MV SITC Hakata berbobot 23.000 GT, yang menandai era baru dalam perdagangan internasional Batam.
Sebagai bagian dari tahap pengembangan kedua, Pelabuhan Batuampar kini akan segera memiliki container yard (CY) baru. Proyek pembangunan CY dimulai 6 Mei 2024 lalu oleh BP Batam dan Persero bekerja sama dengan Waskita Beton Precast. CY ini akan memiliki kapasitas kontainer hingga 900.000 TEUs per tahun, memperkuat posisi Batam sebagai pusat logistik strategis.
Kepala BP Batam, Muhammad Rudi, menegaskan komitmen untuk terus meningkatkan infrastruktur, suprastruktur, dan layanan Pelabuhan Batuampar. ”Kami berkomitmen akan terus membangun Pelabuhan Batuampar mulai dari segi infrastruktur, suprastruktur, dan bidang pelayanan lainnya,” ujar Rudi, beberapa waktu lalu.
BP Batam juga telah menyiapkan rencana pengembangan jangka panjang hingga 2033. Target jangka pendek adalah meningkatkan arus peti kemas hingga 1,8 juta TEUs pada 2025 dan mengakomodasi kapal generasi ke-3 berkapasitas 3.000 TEUs untuk angkutan internasional.
Direktur BUP BP Batam, Dendi Gustinandar, menyebutkan bahwa Pelabuhan Batuampar akan memiliki lima container crane pada 2025. Penambahan empat crane baru akan melengkapi crane yang ada, sejalan dengan pengembangan CY yang akan meluas dari dua hektare menjadi 10 hektare.
Transformasi ini merupakan langkah signifikan bagi Batam yang sebelumnya sangat bergantung pada Singapura untuk ekspor. Ketergantungan ekspor melalui Singapura kini telah menurun dari 100 persen menjadi 87 persen pada 2024.
Dengan pelayaran langsung, Batam kini mulai mandiri. Dua operator maritim utama telah beroperasi di Pelabuhan Batuampar, dengan lebih banyak pemain internasional diharapkan bergabung. ”Itu sesuai rencana kita dan investasi Persero. Itu bagian dari total investasi Rp1,1 triliun untuk STS, RTG, CY dan lain-lain,” katanya, Senin (30/12).
Penambahan crane baru juga diharapkan mempercepat berthing time di Pelabuhan Batuampar. Saat ini, waktu tambat telah dipersingkat menjadi 27–30 jam. Empat unit crane baru yang tengah dirakit di Tiongkok akan memperkuat operasional pelabuhan pada semester kedua 2025.
Pengembangan infrastruktur ini memerlukan investasi sebesar Rp3,8 triliun. Tahap pertama pembangunan telah dimulai sejak November 2023. Sementara itu, tahap kedua, dengan total investasi Rp1,2 triliun, akan dimulai pada Juli 2025, mencakup pengembangan CY seluas 12 hektare, peningkatan kapasitas menjadi 770.000 TEUs, dan penambahan panjang dermaga hingga satu kilometer.
Tahap ketiga yang dijadwalkan dimulai pada Juli 2028 akan berfokus pada peningkatan kapasitas transhipment. Reklamasi seluas 20 hektare akan dilakukan untuk menambah kapasitas pelabuhan menjadi 1,6 juta TEUs, serta penambahan panjang dermaga 650 meter. Total investasi tahap ini diperkirakan mencapai Rp2,6 triliun.
”Kami berharap tingkat penyaluran ekspor melalui Singapura akan terus menurun, dan Batam semakin mandiri,” ujar Dendi.
Dendi juga menekankan pentingnya kolaborasi antara BP Batam dan pelaku usaha dalam mewujudkan visi ini. ”Kami membutuhkan dukungan dari asosiasi dan pelaku usaha untuk terus mendorong pembangunan ini,” tambahnya.
Pengembangan ini merupakan tonggak sejarah bagi industri pelabuhan di Batam. Dengan langkah besar ini, Pelabuhan Batuampar siap menjadi pusat logistik utama di Asia Tenggara dan mengurangi ketergantungan pada pelabuhan Singapura. (*)
Reporter : Arjuna



