Jumat, 9 Januari 2026

Hipertensi dan ISPA Dominasi Penyakit Terbanyak di Batam

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi cek tekanan darah. (F. Freepik)

batampos – Penyakit tidak menular dan infeksi saluran pernapasan masih mendominasi kunjungan pasien ke fasilitas kesehatan di Kota Batam sepanjang triwulan IV 2025. Berdasarkan laporan 10 penyakit terbanyak periode Oktober–Desember 2025, hipertensi dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) tercatat sebagai kasus paling dominan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam Didi Kusmarjadi mengatakan, pola penyakit pada akhir tahun relatif sama dengan bulan-bulan sebelumnya. Hipertensi tetap konsisten menempati peringkat teratas.

“Sepanjang Oktober hingga Desember 2025, hipertensi esensial masih menjadi penyakit terbanyak yang ditangani di puskesmas maupun fasilitas layanan kesehatan lainnya. Ini menunjukkan penyakit tidak menular masih menjadi tantangan besar di Kota Batam,” ujar Didi, Minggu (4/1).

Baca Juga: Dinkes Batam Tegaskan Belum Ada Kasus Super Flu, Tapi Masyarakat Diminta Tetap Waspada

Data Dinkes Batam mencatat, kasus hipertensi pada Oktober 2025 mencapai 6.507 pasien, turun menjadi 6.136 pasien pada November, dan kembali tercatat tinggi pada Desember sebanyak 6.095 pasien. Mayoritas penderita merupakan pasien perempuan.

Selain hipertensi, penyakit ISPA seperti batuk pilek (common cold) dan infeksi saluran pernapasan atas akut juga menempati posisi teratas. Pada Oktober 2025, kasus common cold tercatat paling tinggi dengan 7.327 pasien. Jumlah tersebut menurun pada November menjadi 5.611 pasien, dan kembali turun pada Desember menjadi 3.731 pasien.

Didi menjelaskan, lonjakan kasus ISPA pada Oktober dan November dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain perubahan cuaca dan tingginya mobilitas masyarakat menjelang akhir tahun.

Baca Juga: Harga Beras di Batam Melonjak, IRT dan Pedagang Makanan Mengeluh

“Peralihan musim, curah hujan, serta aktivitas masyarakat yang meningkat turut memicu kasus ISPA. Namun pada Desember mulai terlihat tren penurunan,” jelasnya.

Penyakit dispepsia atau gangguan lambung juga konsisten masuk lima besar penyakit terbanyak selama triwulan IV. Pada Oktober tercatat 3.784 kasus, November 3.016 kasus, dan Desember 2.572 kasus. Pola makan tidak teratur dan tingkat stres menjadi faktor pemicu utama.

Sementara itu, diabetes melitus tipe 2 menunjukkan angka relatif stabil, dengan kisaran 1.600 hingga 1.800 kasus per bulan. Kondisi ini menandakan penyakit metabolik masih menjadi perhatian serius di Kota Batam.

Baca Juga: Targetkan 1,7 Juta Kunjungan Wisman pada 2026, Disbudpar Batam Siapkan Beragam Event

Selain itu, beberapa penyakit lain yang masuk dalam 10 besar selama triwulan IV 2025 antara lain nyeri otot (myalgia), radang tenggorokan (pharyngitis), penyakit gigi dan mulut, diare, serta HIV/AIDS, meski jumlah kasusnya lebih rendah dibandingkan hipertensi dan ISPA.

Didi menegaskan, Dinkes Batam terus mendorong upaya promotif dan preventif, terutama untuk menekan angka penyakit tidak menular.

“Kami mengimbau masyarakat rutin memeriksakan tekanan darah, menjaga pola makan sehat, beraktivitas fisik secara teratur, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat untuk mencegah ISPA dan penyakit lainnya,” pungkasnya. (*)

Update