
batampos – Kasus hipertensi atau tekanan darah tinggi di Kota Batam masih menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan Kota Batam. Meski dalam tiga tahun terakhir sempat mengalami penurunan, jumlah kasus hipertensi tetap tergolong tinggi dan didominasi kelompok usia produktif.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, dr. Didi Kusmarjadi, mengatakan tren hipertensi di Batam sejalan dengan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang menunjukkan prevalensi hipertensi nasional mencapai 34,5 persen pada usia di atas 18 tahun.
Menurutnya, urbanisasi cepat dan pola hidup masyarakat perkotaan menjadi faktor utama meningkatnya risiko hipertensi di Batam.
“Tren hipertensi di Batam meningkat seiring gaya hidup kota industri, tingginya aktivitas kerja, dan populasi usia produktif,” ujarnya, Jumat (22/5).
Data Dinas Kesehatan Kota Batam mencatat, total kasus hipertensi dalam tiga tahun terakhir masih sangat tinggi. Pada tahun 2023 tercatat sebanyak 243.226 kasus hipertensi. Angka tersebut kemudian menurun menjadi 185.001 kasus pada 2024 dan kembali turun menjadi 183.259 kasus pada 2025.
Dari data tersebut, terjadi penurunan sekitar 58.225 kasus atau sekitar 23,9 persen dari tahun 2023 ke 2024. Sementara dari 2024 ke 2025, jumlah kasus relatif stabil dengan penurunan sekitar 1.742 kasus atau 0,9 persen.
Kondisi ini menunjukkan penurunan terbesar terjadi pada periode 2023 hingga 2024. Namun pada 2025, kasus hipertensi mulai memasuki fase stagnan atau stabil sehingga beban penyakit hipertensi di Batam masih tergolong tinggi karena total kasus tetap berada di atas 180 ribu kasus.
Selain itu, sepanjang Februari 2026 saja tercatat sebanyak 5.854 kasus hipertensi primer atau essential primary hypertension, terdiri dari 1.912 laki-laki dan 3.492 perempuan.
dr. Didi menjelaskan, konsumsi makanan tinggi garam menjadi salah satu faktor dominan penyebab hipertensi di Batam. Kebiasaan mengonsumsi makanan olahan, mie instan, seafood asin, hingga jajanan kaki lima membuat asupan garam harian masyarakat sulit dikontrol.
“Batas aman konsumsi garam itu kurang dari lima gram per hari. Sementara rata-rata konsumsi masyarakat Indonesia bisa mencapai delapan sampai 12 gram per hari,” katanya.
Kurangnya aktivitas fisik juga dinilai menjadi penyebab utama meningkatnya hipertensi. Banyak warga Batam bekerja dengan sistem shift di kawasan industri, lebih banyak duduk, dan minim waktu olahraga.
Berdasarkan data WHO, aktivitas fisik kurang dari 150 menit per minggu dapat meningkatkan risiko hipertensi hingga 20 sampai 30 persen.
Selain itu, kebiasaan merokok dan tingginya tingkat stres kerja juga memperbesar risiko hipertensi. Nikotin pada rokok menyebabkan penyempitan pembuluh darah sehingga tekanan darah meningkat.
“Batam sebagai kota industri memiliki tekanan kerja yang tinggi. Kebiasaan merokok juga masih umum, baik perokok aktif maupun pasif,” jelasnya.
Tak hanya itu, obesitas serta pola makan tinggi lemak jenuh dan rendah konsumsi buah serta sayur turut memperbesar risiko hipertensi. Kombinasi faktor tersebut menyebabkan hipertensi kini mulai banyak ditemukan pada usia 30 hingga 40 tahun.
Hipertensi sendiri sering disebut sebagai silent killer karena banyak penderita tidak menyadari dirinya mengalami tekanan darah tinggi hingga muncul komplikasi serius.
“Gejalanya sering tidak dirasakan sampai sudah terjadi komplikasi,” ujarnya.
Beberapa komplikasi yang paling banyak dialami pasien hipertensi di Batam antara lain stroke, serangan jantung, gagal ginjal, dan penyakit jantung koroner. Kondisi tersebut banyak menyerang kelompok pekerja usia 40 hingga 55 tahun.
Untuk menekan peningkatan kasus hipertensi, Dinas Kesehatan Kota Batam terus mengintensifkan program pencegahan melalui Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) dan seluruh puskesmas di Batam.
Program yang dilakukan meliputi pemeriksaan tekanan darah gratis secara rutin bagi masyarakat usia produktif dan lansia, edukasi pola hidup sehat, pembinaan layanan penyakit tidak menular di klinik pratama, hingga edukasi kepatuhan minum obat bagi pasien hipertensi.
“Deteksi dini menjadi kunci untuk menemukan faktor risiko hipertensi sehingga bisa segera dilakukan intervensi dan perubahan gaya hidup,” tegas dr. Didi.
Dalam rangka memperingati Hari Hipertensi Sedunia, tenaga kesehatan di Batam juga mengimbau masyarakat untuk rutin memeriksa tekanan darah minimal satu kali setiap bulan, khususnya bagi usia di atas 40 tahun.
Masyarakat juga diingatkan untuk mengurangi konsumsi garam, memperbanyak buah dan sayur, aktif bergerak minimal 30 menit setiap hari, berhenti merokok, serta rutin mengonsumsi obat bagi penderita hipertensi.(*)



