
batampos – Dinas Kesehatan Kota Batam mencatat hipertensi masih menjadi penyakit terbanyak yang ditangani fasilitas kesehatan selama periode Januari hingga Maret 2026. Selain hipertensi, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), common cold, dispepsia, hingga diabetes mellitus juga mendominasi kunjungan masyarakat ke puskesmas dan layanan kesehatan primer.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi mengatakan, tren tiga bulan pertama tahun ini menunjukkan Batam masih menghadapi beban ganda penyakit, yakni penyakit menular dan penyakit tidak menular.
“Kalau kita lihat dari data Januari sampai Maret, hipertensi masih konsisten menjadi penyakit nomor satu. Ini menunjukkan penyakit tidak menular akibat pola hidup masih menjadi tantangan besar,” ujar Didi, Jumat (1/5).
Data Dinkes Batam mencatat, kasus hipertensi pada Januari mencapai 6.490 kasus, Februari 5.854 kasus, dan Maret 5.255 kasus. Meski mengalami penurunan, angka tersebut tetap menjadi yang tertinggi dibanding penyakit lainnya.
Di sisi lain, penyakit infeksi saluran pernapasan seperti ISPA dan common cold juga masih mendominasi. Jika digabung, jumlah kasusnya mencapai sekitar 7.500 pada Januari, 5.700 pada Februari, dan 4.700 pada Maret.
Menurut Didi, tingginya kasus ISPA menunjukkan layanan kesehatan primer masih banyak menangani penyakit infeksi ringan yang erat kaitannya dengan perubahan cuaca dan daya tahan tubuh masyarakat.
“ISPA memang cenderung meningkat saat pancaroba. Tetapi yang penting adalah bagaimana masyarakat menjaga daya tahan tubuh, pola makan, dan kebersihan lingkungan,” katanya.
Selain itu, gangguan pencernaan seperti dispepsia juga masih tinggi. Pada Januari tercatat 3.089 kasus, Februari 2.757 kasus, dan Maret 2.570 kasus.
Didi menilai tingginya angka dispepsia berkaitan erat dengan pola makan masyarakat yang tidak teratur, konsumsi makanan pedas, kopi berlebihan, hingga tingkat stres yang tinggi.
Sementara itu, kasus diabetes mellitus juga tetap menjadi perhatian. Tercatat sebanyak 1.845 kasus pada Januari, 1.653 kasus pada Februari, dan 1.465 kasus pada Maret.
“Hipertensi dan diabetes ini penyakit kronis yang membutuhkan pengendalian jangka panjang. Karena kalau tidak terkontrol, komplikasinya bisa berat,” jelasnya.
Kasus diare dan gastroenteritis juga masih ditemukan dengan angka fluktuatif, yakni 1.013 kasus pada Januari, 857 kasus pada Februari, dan 961 kasus pada Maret.
Menurut Didi, kondisi ini menjadi indikator bahwa aspek sanitasi dan higiene makanan masih perlu diperkuat.
Di sisi lain, kasus HIV juga tercatat relatif stabil, dengan 964 kasus pada Januari, 912 kasus pada Februari, dan 906 kasus pada Maret.
Dinkes Batam memastikan program skrining, pendampingan, dan pengobatan pasien HIV tetap berjalan secara berkelanjutan.
Dari keseluruhan data, Didi menyimpulkan sekitar 70 persen penyakit yang mendominasi di Batam saat ini berkaitan dengan penyakit kronis dan pola hidup masyarakat.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk mulai memperbaiki gaya hidup dengan menjaga pola makan sehat, rutin berolahraga, mengurangi konsumsi gula dan garam berlebihan, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
“Pencegahan itu lebih penting. Kalau pola hidup sehat diterapkan, banyak penyakit bisa dicegah sejak awal,” tutupnya.(*)

