
batampos – Waktu tempuh perjalanan Singapura–Batam yang selama ini mengandalkan feri konvensional berpeluang dipangkas signifikan. Moda transportasi laut berkecepatan tinggi bernama AirFish disiapkan sebagai alternatif baru untuk konektivitas lintas negara tersebut.
AirFish merupakan wahana laut yang melaju melayang di atas permukaan air. Rencana pengoperasiannya diumumkan oleh ST Engineering AirX, usaha patungan perusahaan teknologi Singapura ST Engineering dengan startup Peluca, bersama operator feri BatamFast, pada ajang Singapore Airshow 2026 awal Februari lalu. Rute Singapura–Batam ditargetkan mulai beroperasi pada paruh kedua 2026, setelah seluruh persetujuan regulasi dan sertifikasi rampung.
Menanggapi rencana itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata, menyebut pembahasan mengenai moda transportasi tersebut sebenarnya telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu.
Baca Juga: Jelang Berangkat, Kemenhaj Batam Tegaskan Wukuf Arafah Inti Haji
“Rencana ini sudah dibicarakan sejak sekitar 2022. Waktu itu sudah ada pembahasan di Pemko Batam, BP Batam, hingga Kementerian Perhubungan,” ujar Ardiwinata.
Ia menjelaskan, pada tahap awal moda ini lebih dikenal dengan istilah seaplane, meski secara konsep memiliki kesamaan dengan AirFish yang kini diperkenalkan.
“Jenisnya mungkin berbeda, tapi konsepnya sama, yakni transportasi laut berkecepatan tinggi yang melayang di atas permukaan air,” katanya.
Menurut Ardiwinata, pengoperasian AirFish akan melibatkan banyak pihak dan sebelumnya juga sempat diwacanakan untuk uji coba. Batam dinilai memiliki potensi sekaligus kesiapan untuk pengembangan transportasi jenis tersebut.
Di wilayah Kepulauan Riau, konsep transportasi serupa sebenarnya sudah diterapkan, seperti penggunaan pesawat amfibi di kawasan Pulau Bawah, Kabupaten Kepulauan Anambas, meski dengan wahana berbeda.
“Secara konsep ini sangat menarik. Waktu tempuhnya bisa sekitar 25 menit saja, dengan kapasitas 8 hingga 10 penumpang. Jadi memang bukan transportasi massal,” jelasnya.
Baca Juga: Kemenkes Dukung Pengembangan Layanan Prioritas di RSBP Batam
Dari sisi infrastruktur, pembangunan dermaga dinilai tidak terlalu kompleks karena dapat memanfaatkan fasilitas yang sudah ada dengan sejumlah penyesuaian. Namun demikian, aspek perizinan lintas negara menjadi tantangan utama yang masih memerlukan kajian mendalam.
“Yang paling krusial tetap soal perizinan dan regulasi internasional,” kata Ardiwinata.
Pemerintah Kota Batam menyambut positif rencana pengoperasian AirFish karena dinilai sejalan dengan visi Batam sebagai kota pariwisata dan pusat kegiatan bisnis. Ardiwinata menilai, kehadiran moda ini memperkuat unsur aksesibilitas, salah satu dari tiga syarat utama kota pariwisata selain amenitas dan atraksi.
“Akses itu mencakup laut, udara, dan konektivitas. Kehadiran transportasi seperti AirFish tentu menambah daya tarik Batam,” ujarnya.
Ia juga menilai AirFish berpotensi besar mendukung sektor Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions (MICE) serta perjalanan bisnis, sejalan dengan upaya pemerintah daerah mendorong investasi.
Terkait kemungkinan kerja sama lintas negara antara perusahaan Singapura dan BatamFast, Ardiwinata menyebut hal tersebut sangat memungkinkan selama sesuai dengan regulasi yang berlaku.
“Kalau membuka jalur lintas negara, tentu melibatkan dua negara. Mekanismenya seperti saat membuka jalur Ro-Ro Batam–Johor,” tegasnya.
Ia pun menepis kekhawatiran bahwa kehadiran AirFish akan mengganggu pelaku usaha transportasi laut lainnya. Menurutnya, kapasitas AirFish yang terbatas justru menyasar segmen tertentu.
Baca Juga: Perdana di Kepri 2026, RSBP Batam Tangani Penyakit Jantung Bawaan Dewasa Tanpa Bedah Terbuka
“Ini bukan transportasi massal. Sangat cocok untuk segmen MICE dan perjalanan bisnis,” katanya.
Sesuai rencana, AirFish Voyager akan melayani rute dari Terminal Feri Tanah Merah, Singapura, menuju Batam. BatamFast akan menyewa dan mengoperasikan satu unit AirFish yang mampu menempuh perjalanan sekitar 25 menit, lebih cepat dibandingkan feri konvensional yang memakan waktu sekitar 45 menit.
Selain Singapura–Batam, AirFish juga berpotensi dikembangkan untuk rute lain di Asia Tenggara, seperti Bintan, Pulau Bawah, Telunas, Tioman, hingga kebutuhan evakuasi medis dan kondisi darurat. (*)



