
batampos – Semangat menggali kekayaan budaya lokal membawa Labaika Nurreligina Haqqi, siswi Program Cambridge MAN 1 Batam, menorehkan karya jurnalistik yang sarat makna dalam Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Tingkat Kota Batam Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas).
Di tengah padatnya aktivitas sebagai siswi Program Cambridge yang identik dengan pembelajaran berwawasan global, Labaika justru memilih menoleh ke akar budayanya sendiri. Rasa ingin tahunya yang tinggi terhadap khazanah lokal mendorongnya menelusuri kehidupan masyarakat pesisir Batam untuk mengangkat permainan tradisional gasing Melayu melalui karya jurnalistik berjudul Mencari Titik Seimbang dalam Pusaran Hidup Gasing.
Baginya, mengenal budaya sendiri merupakan langkah penting sebelum memperkenalkannya kepada dunia. Karena itulah, ia tidak ingin hanya mengandalkan referensi atau cerita dari orang lain. Labaika memutuskan turun langsung ke lapangan agar dapat memahami kehidupan para pelestari gasing dari dekat.
Selama dua pekan, Labaika berulang kali menyeberangi laut menuju Pulau Belakang Padang menggunakan pompong, transportasi laut tradisional yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Perjalanan itu bukan sekadar menuju lokasi liputan, tetapi menjadi pengalaman yang memperkaya sudut pandangnya tentang budaya Melayu yang masih hidup dan dijaga oleh masyarakat pesisir.
Di Pulau Belakang Padang, ia menghabiskan waktu untuk mengamati aktivitas di Gelanggang Osapike, berdialog dengan para pemain, mengikuti jalannya pertandingan, hingga melakukan wawancara mendalam dengan Wak Abbas, sosok yang dikenal masyarakat sebagai “Raja Gasing” Batam.
“Saya ingin karya ini benar-benar lahir dari pengalaman di lapangan. Karena itu saya memilih datang langsung ke Belakang Padang, melihat sendiri bagaimana gasing dimainkan, berbincang dengan para pemain, dan memahami mengapa mereka begitu mencintai budaya ini,” ujar Labaika.
Dari sosok inilah Labaika menemukan bahwa gasing bukan hanya permainan tradisional. Wak Abbas memaknai gasing sebagai simbol kehidupan. Sebagaimana gasing yang hanya dapat berputar stabil apabila memiliki titik keseimbangan yang tepat, manusia pun harus memiliki prinsip, karakter, dan keteguhan agar mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Ketertarikan Labaika semakin besar ketika mengetahui perjuangan Wak Abbas membangun Gelanggang Osapike dengan dana pribadi demi menjaga agar permainan gasing tidak hilang ditelan zaman. Ketulusan itulah yang kemudian menjadi ruh utama dalam karya jurnalistiknya.
“Saya sangat terinspirasi oleh semangat Wak Abbas. Beliau merawat budaya ini tulus tanpa memikirkan keuntungan. Saya merasa perjuangan seperti ini perlu diketahui lebih banyak orang, terutama generasi muda,” ungkapnya.
Dalam tulisannya, Labaika mengangkat filosofi tali gasing yang dipilin satu per satu hingga menjadi kuat. Menurut Wak Abbas, proses itu menggambarkan bagaimana karakter manusia dibentuk melalui disiplin, konsistensi, kerja keras, dan kesabaran.
Tak hanya itu, Labaika juga menyaksikan langsung turnamen gasing yang digelar di Gelanggang Osapike. Ia merekam semangat para peserta, sorak-sorai penonton, hingga sportivitas yang tercermin di arena pertandingan.
Salah satunya datang dari tiga remaja asal Bintan, Wahyu (20), Ilham (19), dan Alvin (15), yang rela menyeberangi lautan demi mengikuti kompetisi. Bagi mereka, gasing bukan sekadar permainan, tetapi juga media belajar tentang persahabatan, kerja keras, dan kejujuran.
“Menang kalah sama saja, yang penting kita dipandang orang dari bagaimana cara kita bermain,” ujar Alvin, yang menjadi salah satu kutipan penting dalam karya tersebut.
Pengalaman melakukan riset lapangan selama dua pekan membuat tulisan Labaika memiliki kekuatan observasi yang nyata. Ia tidak hanya menulis tentang gasing, tetapi juga menghadirkan suasana Pulau Belakang Padang, perjalanan dengan pompong, kehidupan masyarakat Melayu, hingga perjuangan seorang pelestari budaya yang tetap teguh mempertahankan warisan leluhur.
Melalui karya ini, Labaika berharap generasi muda semakin mencintai budaya daerahnya sendiri. Menurutnya, di tengah derasnya perkembangan teknologi dan budaya global, tradisi lokal tetap memiliki nilai yang relevan karena mengajarkan keseimbangan hidup, sportivitas, ketangguhan, serta rasa bangga terhadap identitas bangsa.
Karya jurnalistik tersebut dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari Raden Yusuf Hidayat, Syailendra Reza Irwansyah Rezeki, dan Dr. Albert Efendi Poha, S.Pd., M.Pd.
Bagi Labaika, perjalanan selama dua pekan menyusuri Pulau Belakang Padang menjadi lebih dari sekadar proses penyusunan karya lomba. Perjalanan itu menjadi bukti bahwa rasa ingin tahu yang besar, keberanian turun langsung ke lapangan, dan kecintaan terhadap budaya sendiri dapat melahirkan sebuah karya yang bukan hanya informatif, tetapi juga menginspirasi untuk terus menjaga warisan budaya Melayu agar tetap berputar, seperti gasing yang tak pernah kehilangan keseimbangannya.(*)

