
batampos – Krisis air bersih di Batam setahun terakhir belum sepenuhnya teratasi. Tidak hanya mengganggu aktivitas harian warga, persoalan air bersih yang berlarut-larut bisa merusak reputasi Batam sebagai kawasan tujuan investasi. Sebab, selain ketersediaan lahan dan listrik, air bersih yang cukup merupakan prasyarat utama investor masuk menanamkan modal.
Bergantinya operator swasta yang menjadi mitra BP Batam dalam mendistibusikan air kepada warga pada 2022 lalu, dari PT Adhya Tirta Batam (ATB) kepada PT Air Batam Hilir dan Hulu (ABH), juga diikuti dengan perubahan pola kerja sama antar kedua lembaga.
Dengan pengelola lama, kerja sama bersifat konsesi, yakni ATB memiliki otoritas penuh dari hulu ke hilir. Dari pengolahan air baku, distribusi, pembangunan dan perawatan jaringan, hingga melayani pelanggan.
Setelah masa konsesi 25 tahun dengan ATB berakhir, PT ABH masuk dengan pola yang berbeda. Dalam bekerja sama dengan BP Batam, PT ABH hanya berfungsi sebagai operator. Di sisi lain, fungsi membangun jaringan baru, penyediaan infrastruktur dan pembiayaannya, jadi kewenangan BP Batam.
BACA SELENGKAPNYA DI harian.batampos.co.id



