
batampos – Kinerja investasi Batam sepanjang 2025 menunjukkan capaian melampaui target. BP Batam mencatat realisasi investasi mencapai Rp69,3 triliun atau sekitar 115,5 persen dari target Rp60 triliun yang telah ditetapkan.
Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis, mengatakan, capaian tersebut dihitung menggunakan metodologi bottom-up yang merangkum realisasi proyek secara riil di lapangan.
“Tahun 2025 menjadi tahun yang sangat positif bagi iklim investasi Batam. Berdasarkan perhitungan metodologi bottom-up, realisasi investasi Batam mencapai Rp69,3 triliun, atau sekitar 115,5 persen dari target Rp60 triliun yang telah ditetapkan. Ini menunjukkan bahwa kepercayaan investor terhadap Batam terus meningkat,” katanya, Senin (2/3).
Dari sisi komposisi, struktur penanaman modal dinilai relatif seimbang. Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tercatat sebesar Rp18,43 triliun atau tumbuh 41,9 persen secara tahunan. Angka itu mencerminkan peningkatan partisipasi pelaku usaha nasional di tengah stabilitas kebijakan dan layanan perizinan yang dikembangkan otoritas kawasan.
Sementara itu, Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp25,58 triliun atau meningkat 58,1 persen secara tahunan. Investor yang berkontribusi antara lain berasal dari Singapura, Taiwan, Tiongkok, Malaysia, dan Hong Kong.
“Komposisi investasi kita sehat. PMDN tumbuh signifikan, sementara PMA juga tetap kuat. Ini memperlihatkan bahwa Batam semakin dipercaya sebagai pintu masuk investasi regional,” kata Fary.
Dengan capaian tersebut, BP Batam menetapkan target investasi tahun ini paling sedikit Rp70 triliun. Ia bilang, sasaran tersebut disusun dengan mempertimbangkan tren pertumbuhan sebelumnya serta proyeksi ekspansi sejumlah sektor industri.
“Target Rp70 triliun realistis sekaligus mencerminkan optimisme kami terhadap momentum pertumbuhan Batam,” ujarnya.
Dalam strategi penguatan investasi, BP Batam terus melakukan promosi dan penjajakan pasar melalui berbagai forum internasional serta kegiatan roadshow ke sejumlah negara. Cara itu diarahkan untuk menarik industri berteknologi menengah dan tinggi, seperti elektronik, semikonduktor, logistik maritim, serta manufaktur bernilai tambah.
Meski demikian, peran PMDN tetap mendapat perhatian dalam kerangka kebijakan investasi daerah. Berdasarkan evaluasi tahun sebelumnya, pertumbuhan investasi domestik dinilai mampu menjaga kesinambungan realisasi proyek di tengah dinamika global.
“Strategi kami bukan memilih antara PMA atau PMDN, melainkan memastikan keduanya tumbuh seimbang agar investasi Batam semakin kuat dan berkelanjutan,” ujar Fary.
Ia menambahkan, kombinasi promosi global dan penguatan ekosistem usaha dalam negeri menjadi pendekatan yang terus dikembangkan untuk menjaga ritme pertumbuhan investasi.
“Batam tidak hanya menawarkan lokasi strategis, tetapi juga kepastian sistem, kecepatan eksekusi, dan kepercayaan institusi, itulah yang membuat investasi terus tumbuh,” katanya. (*)



