Kamis, 30 April 2026

Jelang Kenduri Seni Melayu 2026 Meriah, Tampilkan Talenta Lokal hingga Mancanegara

Berita Terkait

Menariknya, kegiatan tahun ini tidak hanya diikuti pelaku seni lokal, tetapi juga melibatkan seniman dari luar negeri. Salah satunya Pelukis asal Amerika Serikat, Mis Angela, yang turut ambil bagian bersama Komunitas Seni Rupa Batam dalam sesi live painting di acara Jelang Kenduri Seni Melayu (KSM) pertama 2026 yang digelar di Lapangan Sentosa Perdana (SP), Sagulung. Foto. Rengga Yuliandra/ Batam Pos

batampos – Jelang Kenduri Seni Melayu (KSM) pertama 2026 yang digelar di Lapangan Sentosa Perdana (SP), Sagulung, pada 18–19 April berlangsung meriah dan penuh warna. Ribuan masyarakat tampak antusias menyaksikan ragam pertunjukan seni budaya Melayu, mulai dari tari, musik, pantun, hingga atraksi seni lukis langsung (live painting).

Menariknya, kegiatan tahun ini tidak hanya diikuti pelaku seni lokal, tetapi juga melibatkan seniman dari luar negeri. Salah satunya pelukis asal Amerika Serikat, Mis Angela, yang turut ambil bagian bersama Komunitas Seni Rupa Batam dalam sesi live painting.

Atraksi melukis langsung ini menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung tampak berkerumun menyaksikan para perupa menuangkan karya bertema Melayu secara spontan di lokasi acara. Kehadiran elemen seni rupa dinilai semakin memperkaya Kenduri Seni Melayu sebagai ruang ekspresi lintas disiplin seni.

Ketua Umum Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepri Kota Batam, YM Dato’ Wira Setia Utama Raja Haji Muhammad Amin bersama Wakil Ketua I DPRD Batam, Aweng Kurniawan turut hadir dan memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ketua LAM Kepri Batam menyebut, Jelang Kenduri ini merupakan bagian awal menuju puncak Kenduri Seni Melayu 2026 yang akan digelar lebih besar.

“Ini baru pemanasan. Di puncak nanti kita akan menghadirkan lebih banyak seniman, termasuk artis nasional dan internasional,” ujar Raja Amin.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat Batam untuk bersama-sama mendukung kegiatan budaya sebagai upaya menjaga identitas Melayu. Bahkan, pihaknya mendorong agar kegiatan ini terus berkembang dan menjadi agenda berskala nasional.

“Kita ingin Kenduri Seni Melayu ini semakin besar dan telah masuk dalam kalender Kementerian Pariwisata Republik Indonesia,” tambahnya.

Selain itu, ia juga mengungkapkan rencana pembangunan taman seni budaya di Kota Batam sebagai wadah bagi para seniman untuk terus berkarya dan berkembang.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Batam, Ardiwinata, mengatakan konsep “Jelang Kenduri” tahun ini sengaja dirancang untuk memberikan ruang lebih luas bagi pelaku seni lokal.

“Tahun ini kita buat tiga kali Jelang Kenduri. Ini untuk memberikan panggung kepada sanggar-sanggar seni di kecamatan, agar tidak hanya tampil di puncak karena waktunya terbatas,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Jelang Kenduri pertama melibatkan sanggar dari Kecamatan Sagulung, Batuaji, Sekupang hingga Belakangpadang. Kemudian Jelang kedua akan digelar pada Mei di Tanjung Uma, dan Jelang ketiga pada Juni di Sungai Beduk.

Seluruh penampil terbaik dari tiga tahap tersebut nantinya akan tampil di puncak Kenduri Seni Melayu bersama sanggar dari negara serumpun seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam.

Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Batam, Samson Rambah Pasir, menambahkan bahwa Jelang Kenduri bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi proses pembinaan dan seleksi bagi para pelaku seni.

“Jelang KSM ini bisa dikatakan sebagai ajang seleksi menuju puncak. Sanggar-sanggar terbaik dari setiap wilayah akan kita pilih untuk tampil di panggung utama,” jelasnya.

Ia menegaskan, selain sebagai daya tarik wisata, kegiatan ini juga menjadi ruang bagi para seniman untuk menempa diri dan terus berproses.

“Di sini mereka belajar, berproses, dan menunjukkan kualitas terbaiknya. Jadi saat tampil di puncak nanti benar-benar sudah siap,” tambahnya.

Samson juga menyoroti kehadiran Komunitas Seni Rupa Batam yang menghadirkan live painting sebagai bagian penting dalam dokumentasi perjalanan Kenduri Seni Melayu.

“Lukisan-lukisan yang dihasilkan akan menjadi dokumentasi visual perjalanan KSM. Ke depan, karya-karya ini bahkan berpotensi untuk dipamerkan maupun dilelang sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif,” ujarnya.

Beragam penampilan turut memeriahkan malam pertama dan kedua. Di antaranya musik Melayu oleh Malaykustik, penampilan penyanyi cilik Along Alif, pembacaan puisi oleh Puan Azzahra Nur Rafanda, hingga pertunjukan pantun oleh Yoan S Nugraha dan Rendra Setyadiharja.

Selain itu, sejumlah sanggar seni dari berbagai sekolah dan komunitas juga tampil memukau, seperti Sanggar Mulya Suri, Selasih 16, Tanjak Emas, hingga Sanggar Pantai Basri dengan tari Jogi yang menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir Melayu.

Memasuki malam kedua, suasana tetap semarak dengan konsep pertunjukan yang lebih mengarah pada hiburan rakyat tanpa meninggalkan akar budaya.

Komunitas Seni Rupa Batam kembali hadir dengan sesi live painting, melanjutkan proses kreatif yang menjadi ciri khas Jelang KSM tahun ini.

Penampilan musik menjadi daya tarik utama, diawali oleh Pesona Indah Band yang membawakan lagu-lagu Melayu nostalgia era 60-an, mengajak penonton bernostalgia.

Musisi lokal Yan Gaboh turut tampil dengan gaya khasnya yang membawakan lagu-lagu balada, nasional hingga Melayu, menciptakan suasana santai namun tetap berkelas.

Di sisi lain, Sanggar Dang Gemini menghadirkan pertunjukan Dikir Barat, seni tradisi yang menggabungkan musik, vokal, dan gerakan kompak yang enerjik.

Sanggar Rentak Barelang (SMPN 26 Batam) tampil dengan tari “Beganjal” yang mengangkat nilai gotong royong dalam tradisi masyarakat Melayu, khususnya dalam persiapan acara adat.

Sementara itu, Sanggar Tuah Negeri (SDN 006 Batuaji) menunjukkan semangat generasi muda dalam melestarikan budaya Melayu melalui penampilan tari yang penuh kekompakan dan keceriaan.

Kenduri Seni Melayu sendiri merupakan agenda budaya tahunan yang telah berlangsung sejak 1999 dan kini memasuki tahun ke-27. Event ini juga telah masuk dalam Kalender Event Nusantara, menjadikannya sebagai salah satu daya tarik wisata budaya unggulan di Indonesia.

Dengan kolaborasi seniman lokal hingga internasional, serta dukungan penuh masyarakat, Jelang Kenduri Seni Melayu 2026 menjadi bukti bahwa Batam terus tumbuh sebagai pusat perkembangan seni dan budaya Melayu di kawasan regional. (*)

UPDATE