
batampos – Dugaan kekerasan terhadap anak usia dini di playgroup sekolah Djuwita di kawasan Baloi, Batam, mencuat ke publik setelah video dugaan intimidasi viral di media sosial. Kasus ini kini dalam penanganan aparat kepolisian.
Salah seorang orangtua murid, Sri Suryati, 41, mengaku menyaksikan langsung perlakuan yang dinilainya tidak wajar terhadap anak-anak di dalam kelas. Ia menuturkan, sejak awal anaknya bersekolah, dirinya kerap mendampingi dan melihat pola pengasuhan yang dianggap kasar.
“Saya lihat sendiri, anak-anak ditarik dengan cara kasar. Karena itu saya menempatkan asisten rumah tangga di sana dan melaporkan adanya dugaan kekerasan terhadap anak. Seperti saat makan, mulut mereka disuapi dengan cara disodok sendok yang porsinya tidak sesuai, bahkan disiram air agar cepat masuk,” ujarnya, Rabu (29/4).
Baca Juga: Gaya Hidup Konsumtif, Remaja Rentan Terjerumus Prostitusi Daring
Menurut Sri, metode tersebut tidak sesuai dengan kondisi anak-anak yang masih berusia sekitar dua tahun. Ia juga menyebut beberapa anak mengalami kesulitan makan hingga muntah dan menangis dengan kondisi mata memerah.
Ia menambahkan, anaknya juga sempat mengeluhkan adanya tindakan pemukulan oleh guru. Meski awalnya tidak ditemukan luka, beberapa hari kemudian muncul memar di tubuh anaknya. Sri menyebut anaknya telah bersekolah di tempat tersebut sejak Juli 2025 hingga 10 April 2026.
“Anak saya pulang dalam keadaan menangis dan bilang ‘Miss pukul’. Waktu itu saya cek belum ada lebam, tapi beberapa hari kemudian baru terlihat. Kesalahan saya tidak langsung visum,” katanya.
Sri mengaku sempat meminta rekaman kamera pengawas (CCTv) kepada pihak sekolah untuk memastikan kejadian tersebut. Namun, permintaan itu tidak terpenuhi dengan berbagai alasan teknis.
“Saya minta CCTv, tapi selalu ada alasan. Katanya belum aktif, IT belum datang, sampai akhirnya dibilang data sudah tidak tersimpan,” ujarnya.
Baca Juga: Galian Tambang Ilegal di Kawasan Bandara Capai Kedalaman 50 Meter, Polda Kepri Periksa 10 Saksi
Ia menduga rekaman tersebut sengaja tidak diberikan dan menyayangkan pihak sekolah yang dinilai tidak membuka ruang mediasi secara terbuka.
“Seharusnya kalau memang tidak ada yang ditutupi, pihak sekolah bisa mengajak saya mediasi dan mengecek langsung ke guru-gurunya,” tambahnya.
Akibat kejadian tersebut, Sri menyebut anaknya mengalami trauma. Ia mengatakan anaknya kini takut melihat lingkungan sekolah maupun sosok guru, bahkan terhadap orang lain.
“Sekarang lihat sekolah saja langsung menangis, teriak minta pulang. Padahal sebelumnya tidak pernah seperti itu. Anak saya belum genap tiga tahun, tapi sudah trauma berat,” ungkapnya.
Terkait kedatangannya ke sekolah bersama sejumlah orang, Sri membantah adanya unsur premanisme. Ia menegaskan, mereka yang datang merupakan karyawan yang kebetulan bersamanya saat itu.
“Saya datang untuk minta penjelasan dan mengambil bukti. Tidak ada penyerangan. Kalau ada, pasti terlihat di CCTV,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kepri, Kombes Pol Ronni Bonic, mengatakan pihaknya telah memberikan atensi terhadap kasus tersebut.
“Laporan sudah dilimpahkan ke Polresta Barelang,” ujarnya.
Ia menambahkan, tim Subdit III Jatanras Polda Kepri telah turun ke lokasi untuk melakukan pendalaman, termasuk mengumpulkan bukti dan keterangan saksi.
“Kami lakukan identifikasi, termasuk mencocokkan data untuk tindak lanjut,” katanya.
Baca Juga: Kecelakaan Kerja Terus Berulang, Serikat Pekerja Minta PT ASL Shipyard Ditutup Sementara
Kasubdit Jatanras AKBP Rayendra yang turut berada di lokasi menyebut pihaknya membantu proses penanganan, khususnya terkait dugaan intimidasi yang beredar dalam video.
“Kami sedang mengidentifikasi wajah-wajah para pihak yang terlibat untuk ditindaklanjuti. Proses juga sudah berkoordinasi dengan Polresta Barelang,” ujarnya.
Pantauan di lokasi, aktivitas belajar mengajar di sekolah tersebut dihentikan sementara. Sejumlah personel kepolisian terlihat berkoordinasi dengan pihak sekolah dan para guru.
Salah seorang perwakilan sekolah yang ditemui enggan memberikan keterangan lebih lanjut dan menyebut seluruh penanganan telah diserahkan kepada pihak kepolisian.
“Mohon maaf, kami belum bisa memberikan keterangan. Semua sudah kami serahkan ke pihak kepolisian,” ujarnya.
Hingga kini, kasus tersebut masih dalam proses penyelidikan, baik terkait dugaan kekerasan terhadap anak maupun peristiwa dugaan intimidasi di lingkungan sekolah.(*)

