
Kondisi Waduk Duriangkang yang sempat mengalami penyusutan akibat kemarau panjang dan fenomena El Nino beberapa bulan lalu. Foto: M. Sya’ban/Batam Posbatampos – Badan Pengusahaan (BP) Batam mulai bersiap menghadapi ancaman penurunan cadangan air baku pada pertengahan tahun 2026. Salah satu langkah yang disiapkan ialah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan yang direncanakan berlangsung mulai Mei hingga Agustus mendatang.
Langkah tersebut dinilai mendesak menyusul prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang memperkirakan periode Juni hingga Agustus 2026 akan memasuki musim kemarau panjang akibat pengaruh El Nino lemah.
Deputi Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, mengatakan kondisi itu perlu diantisipasi sejak dini agar volume air waduk tetap aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Batam.
“Berdasarkan data dari BMKG, bulan Juni sampai Agustus diperkirakan musim kemarau panjang. Karena itu harus diantisipasi agar volume waduk tetap penuh,” kata Denny saat dikonfirmasi.
Menurut dia, pelaksanaan modifikasi cuaca harus dilakukan sejak Mei karena periode tersebut masih memiliki potensi pembentukan awan yang dapat disemai garam untuk mempercepat turunnya hujan.
“Operasi modifikasi cuaca dilakukan saat masih ada awan potensial. Kalau sudah masuk musim kering, peluang keberhasilannya akan semakin kecil,” ujarnya.
Baca Juga: BP Batam Sempurnakan LMS, Pengurusan Lahan Serba Digital
Selama ini Batam dikenal memiliki pola cuaca berbeda dibanding sebagian besar wilayah Indonesia. Meski memasuki musim kemarau, hujan biasanya masih turun secara berkala. Namun tahun ini kondisi dinilai berbeda karena dampak El Nino mulai memengaruhi wilayah Kepulauan Riau, termasuk Batam.
Berdasarkan “Laporan Ketahanan Air Waduk Kota Batam” per 27 April 2026, kondisi ketahanan air sejumlah waduk utama mulai memasuki fase yang perlu diwaspadai. Prediksi BMKG menyebut periode Mei hingga Oktober 2026 akan mengalami penurunan curah hujan secara bertahap akibat El Nino lemah.
Dampaknya, tinggi muka air (TMA) waduk terus mengalami penurunan karena inflow atau air masuk tidak lagi mampu mengimbangi kebutuhan produksi dan pengambilan air baku.
Data BP Batam menunjukkan Waduk Sei Nongsa menjadi waduk paling kritis dengan ketahanan air tersisa sekitar 23 hari jika tidak terjadi hujan signifikan.
Sementara Waduk Sei Harapan diperkirakan bertahan sekitar 62 hari dan Waduk Muka Kuning sekitar 138 hari.
Sementara itu, Waduk Duriangkang yang selama ini menjadi tulang punggung pasokan air Batam masih berada dalam kondisi relatif aman. Waduk terbesar di Batam tersebut memiliki kapasitas air sekitar 78,4 juta meter kubik dengan kemampuan produksi mencapai 3.050 liter per detik atau sekitar 263 ribu meter kubik per hari. Ketahanan airnya diperkirakan mencapai 298 hari.
Selain Duriangkang, beberapa waduk lain juga masih memiliki cadangan air cukup panjang, seperti Waduk Tembesi dengan ketahanan 281 hari dan Waduk Sei Ladi sekitar 204 hari.
Meski demikian, BP Batam menilai kondisi beberapa waduk kritis tetap menjadi alarm serius karena penurunan muka air terjadi hampir setiap hari.
Dalam laporan tersebut disebutkan Waduk Nongsa mengalami penurunan muka air sekitar 4 sentimeter per hari. Sedangkan Waduk Sei Harapan dan Muka Kuning masing-masing turun sekitar 3 sentimeter per hari.
Jika kondisi tanpa hujan berlangsung lama, beberapa waduk diperkirakan dapat mengalami penurunan signifikan dalam waktu kurang dari satu setengah bulan.
Curah hujan Januari hingga Maret 2026 juga tercatat relatif rendah di sebagian besar daerah tangkapan air waduk. Bahkan Waduk Sei Ladi dan Nongsa sempat mengalami curah hujan minim pada awal tahun.
BMKG memperkirakan kondisi semakin kering pada Juli hingga September 2026. Karena itu, Mei disebut sebagai momentum paling penting untuk melakukan pengisian waduk melalui hujan buatan sebelum memasuki periode kemarau.
Dalam analisis strategi TMC disebutkan, jika operasi modifikasi cuaca tidak dilakukan pada Mei, maka mulai Juni diperlukan pengurangan produksi air hingga 20 persen demi menjaga ketahanan waduk. Setelah Juni, peluang efektivitas TMC diperkirakan semakin kecil karena minimnya pembentukan awan hujan.
BP Batam juga mengingatkan bahwa tanpa intervensi, waduk kritis seperti Sei Nongsa, Muka Kuning, dan Sei Harapan berpotensi mengalami defisit air yang dapat mengganggu pelayanan air bersih masyarakat.
Karena itu, pelaksanaan OMC akan difokuskan pada waduk-waduk kritis tersebut, terutama Nongsa dan Muka Kuning.
Sementara itu, BMKG dalam rapat pembahasan OMC di Batam pada 16 April 2026 menilai operasi modifikasi cuaca menjadi langkah strategis untuk menjaga ketersediaan air waduk di Batam.
BMKG menjelaskan, OMC dilakukan dengan menyemai awan potensial menggunakan garam agar proses pembentukan hujan menjadi lebih cepat dan intens. Teknologi ini selama ini digunakan untuk berbagai kepentingan nasional, mulai dari pengisian waduk, mitigasi kebakaran hutan, hingga mendukung ketahanan energi dan pangan.
Dalam pemaparannya, BMKG menyebut waktu paling ideal pelaksanaan OMC ialah akhir April hingga awal Mei 2026 karena masih tersedia potensi awan hujan di wilayah Kepulauan Riau.
“OMC ini bukan sekadar opsi tambahan, tetapi momentum untuk mengisi waduk sebelum memasuki periode kering,” demikian salah satu kesimpulan dalam laporan ketahanan air waduk Batam. (*)



