
batampos – Pemerintah Kota (Pemko) Batam mengalokasikan anggaran sekitar Rp15 miliar untuk memperbaiki ruas Jalan S Parman dari Simpang Lampu Merah Panbil menuju Seibeduk hingga Piayu.
Perbaikan sepanjang sekitar 4,7 kilometer itu ditargetkan rampung pada November 2026 dan menjadi bagian dari upaya meningkatkan konektivitas menuju rencana Jalan Lingkar Batam.
Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Batam, Metra Dinata, mengatakan pekerjaan yang dilakukan bukan sekadar menambal lubang, melainkan kombinasi antara patching dan overlay pada sejumlah titik yang mengalami kerusakan.
Menurut dia, metode perbaikan disesuaikan dengan tingkat kerusakan jalan yang ditemukan di lapangan.
”Jadi tidak semuanya di-overlay. Yang lubangnya kecil dilakukan patching, sedangkan yang kerusakannya lebih besar dan memanjang dilakukan overlay. Tujuannya supaya jalan kembali mulus,” kata Metra kepada Batam Pos, Minggu (21/6).
Ruas Jalan S Parman merupakan salah satu jalur utama yang menghubungkan kawasan Mukakuning, Seibeduk, hingga Piayu. Jalan tersebut setiap hari dilalui ribuan kendaraan, baik kendaraan pribadi, angkutan umum maupun kendaraan industri yang menuju kawasan manufaktur di Batam.
Metra mengatakan pekerjaan dilakukan secara bertahap agar tidak mengganggu arus lalu lintas secara keseluruhan. Pemko menargetkan seluruh pekerjaan selesai pada November mendatang.
”Sekitar bulan 11 selesai semua. Perbaikannya cukup menyeluruh sehingga kualitas jalannya bisa lebih baik dibanding sebelumnya,” ujarnya.
Terhubung dengan Jalan Lingkar
Selain memperbaiki kondisi jalan yang rusak, proyek tersebut juga dipersiapkan untuk mendukung pembangunan Jalan Lingkar Selatan yang saat ini mulai direalisasikan Pemerintah Kota Batam.
Menurut Metra, ruas Jalan S Parman nantinya akan menjadi salah satu titik konektivitas menuju jalur lingkar yang dirancang sebagai alternatif untuk mengurai kemacetan di Jalan Ahmad Yani.
Jalan lingkar tersebut diproyeksikan menghubungkan kawasan Seibeduk hingga Nongsa tanpa harus melewati koridor utama Batam Center dan kawasan Kepri Mall yang selama ini menjadi titik kepadatan kendaraan.
”Koneksi ke jalan lingkar nanti melalui jalur S Parman ini. Jadi ke depan masyarakat punya alternatif perjalanan selain lewat Ahmad Yani,” katanya.
Pemerintah Kota Batam sebelumnya mulai mengerjakan tahap awal Jalan Lingkar Selatan sepanjang hampir 10 kilometer yang menghubungkan Seibeduk dan Nongsa.
Proyek itu digadang-gadang menjadi salah satu solusi jangka panjang untuk mengurangi kemacetan yang semakin meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan kendaraan di Batam.
Warga Minta Tidak Sekadar Tambal Sulam
Meski menyambut baik dimulainya pekerjaan perbaikan, sejumlah warga berharap proyek kali ini benar-benar menyelesaikan persoalan kerusakan jalan yang selama beberapa tahun terakhir kerap dikeluhkan pengguna jalan.
Ranggi, warga Sei Beduk, mengatakan kondisi Jalan S Parman dalam beberapa waktu terakhir dipenuhi lubang dan permukaan jalan yang bergelombang sehingga membahayakan pengendara, terutama saat hujan.
Menurut dia, ruas jalan tersebut sebenarnya sudah beberapa kali diperbaiki. Namun kerusakan kembali muncul hanya beberapa bulan setelah pekerjaan selesai.
”Selama ini perbaikannya hanya ditambal. Hasilnya bergelombang dan tidak bertahan lama sehingga cepat rusak lagi,” kata Ranggi.
Ia berharap pekerjaan yang sedang dilakukan tidak hanya memperbaiki permukaan jalan secara sementara, tetapi juga memperhatikan kualitas konstruksi agar usia jalan lebih panjang.
”Harapan kami perbaikannya benar-benar maksimal, bukan sekadar tambal sulam. Jalan ini setiap hari ramai dilalui kendaraan sehingga kualitas pekerjaannya harus diperhatikan,” ujarnya.
Keluhan serupa juga kerap disampaikan pengguna jalan lain. Selain menyebabkan ketidaknyamanan, kerusakan jalan di koridor S Parman dinilai meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas, terutama bagi pengendara sepeda motor yang mendominasi lalu lintas harian di kawasan itu.
Dengan anggaran Rp15 miliar yang digelontorkan tahun ini, Pemko Batam berharap kondisi Jalan S Parman dapat kembali layak dan mendukung kelancaran mobilitas masyarakat sekaligus menjadi bagian dari jaringan jalan alternatif yang tengah disiapkan untuk mengantisipasi pertumbuhan lalu lintas Batam di masa mendatang. (*)

