Selasa, 23 Juni 2026

Produksi Ikan Air Tawar Melonjak, Batam Tak Lagi Bergantung Pasokan Luar Daerah

Berita Terkait

Kepala Dinas Perikanan Kota Batam Kota Batam, Yudi Admajianto mendorong transformasi ekonomi melalui budidaya ikan sistem bioflok. Foto. Rengga Yuliandra/ Batam Pos

batampos – Produksi ikan air tawar di Kota Batam terus menunjukkan tren positif. Hingga Mei 2026, produksi ikan konsumsi dari pembudidaya lokal telah mencapai ribuan ton dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, sehingga ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah semakin berkurang.

Kepala Dinas Perikanan Kota Batam, Yudi Admajianto, mengatakan komoditas ikan lele masih menjadi penyumbang produksi terbesar di Batam, disusul ikan nila dan patin.

“Produksi ikan air tawar terbesar di Batam saat ini masih didominasi lele, kemudian nila dan patin. Kondisi ini menunjukkan budidaya ikan air tawar di Batam berkembang cukup baik dan mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat,” ujarnya, Senin (22/6).

Berdasarkan data Dinas Perikanan Kota Batam, produksi ikan air tawar hingga Mei 2026 mencapai 2.841,608 ton. Rinciannya, lele sebanyak 1.442,348 ton, patin 860,343 ton, nila 465,474 ton, dan gurame 73,443 ton.

Yudi menjelaskan, sentra budidaya ikan air tawar tersebar di sejumlah wilayah, seperti Tembesi, Sungai Beduk, Marina, hingga Galang. Namun, Kecamatan Galang masih menjadi wilayah dengan produksi terbesar.

Pada triwulan pertama 2026, produksi ikan air tawar di Kecamatan Galang mencapai 525,366 ton. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Kecamatan Sagulung yang mencatat produksi 280,291 ton dan Kecamatan Batuaji sebesar 267,122 ton.

“Sentra budidaya tersebar di beberapa wilayah, tetapi yang terbesar masih berada di Galang. Di sana masih tersedia lahan yang cukup luas untuk kegiatan budidaya sehingga produksinya lebih tinggi dibanding wilayah lainnya,” kata Yudi.

Menurutnya, peningkatan produksi dalam beberapa tahun terakhir membuat Batam kini relatif mandiri dalam memenuhi kebutuhan ikan air tawar konsumsi masyarakat.

Komoditas seperti lele, nila, patin, hingga gurame sebagian besar sudah dipasok oleh pembudidaya lokal. Kondisi tersebut berbeda dibanding beberapa tahun lalu ketika pasokan ikan konsumsi masih banyak didatangkan dari luar daerah.

“Saat ini kondisi di Batam secara umum sudah mencukupi untuk kebutuhan konsumsi masyarakat dan jauh lebih baik dibanding beberapa tahun lalu. Batam sudah relatif mandiri untuk ikan air tawar konsumsi. Pasokan utamanya berasal dari pembudidaya lokal Batam, bukan lagi bergantung pada kiriman dari luar daerah,” tegasnya.

Selain memperkuat ketahanan pangan daerah, tingginya produksi ikan air tawar juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat, khususnya para pembudidaya yang tersebar di berbagai kecamatan.

Dengan tren produksi yang terus meningkat, Dinas Perikanan optimistis sektor budidaya ikan air tawar akan semakin berkembang dan mampu menjadi salah satu penopang ketahanan pangan sekaligus sumber pendapatan masyarakat di Kota Batam.(*)

UPDATE