
batampos.co.id – Dinas Kesehatan Kota Batam mencatat dalam kurun waktu sembilan bulan, Januari hingga September 2021, sedikitnya 348 kasus baru penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV). Ironinya, rentang usia penderita didominasi antara usia 25 sampai 49 tahun.
“Ini penderita baru sepanjang Januari hingga September 2021,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam Didi Kusmardji, Kamis (25/11/2021).
Ia merinci, rentang usia paling banyak menderita HIV ini, yakni berusia 25 sampai 49 tahun dengan jumlah penderita mencapai 285 kasus.
Lalu usia 20-24 tahun sebanyak 31 kasus, serta usia 50 tahun ke atas 21 orang. Sedangkan usia 15-19 tahun terdapat enam kasus, dan balita usia empat tahun tiga kasus serta usia 5-14 tahun sebanyak satu kasus.
“Paling banyak usia produktif,” tambah Didi.
Adapun bila dikategorikan berdasarkan jenis kelamin, penderita HIV di Batam didominasi oleh laki-laki, yakni sebanyak 250 kasus. Sementara perempuan berjumlah 98 kasus.
“Paling banyak laki-laki usia 25 tahun sampai 49 tahun dengan junlah 204 kasus,” bebernya.
Jika dibandingkan tahun sebelumnya, ada sebanyak 538 kasus baru HIV dari 23.479 sampel yang melakukan tes HIV.
Sementara pada tahun 2019 terdapat 692 penderita dari 28.142 orang yang menjalani tes HIV.
Lalu tahun 2018 ada sebanyak 718 kasus dari 20.960 yang melakukan tes HIV. Sementara tahun 2017 terdapat 768 kasus HIV AIDS dari 20.393 yang menjalani tes.
Dijelaskannya, HIV atau Human Immunodeficiency Virus ini sebagian besar disebabkan seks bebas yang disertai tanpa alat pengaman atau kondom berpotensi terinveksi HIV.
Apalagi ganti-ganti pasangan. Ditambah yang berhubungan seks dengan sesama jenis.
“Paling banyak itu pasangan sejenis LSL (Lelaki Suka Lelaki),” jelasnya.
Sementara itu bagi pasangan sejenis lesbian diakuinya, tidak masuk kelompok resiko. Sebab, secara teknis tidak ada penetrasi dan dianggap rendah resikonya. Begitu juga dengan pengguna jarum suntik (narkoba) yang saat ini sudah jarang digunakan.
Ditambahkan Didi, berbagai upaya terus dilakukan Dinkes Batam dalam menimimalis angka HIV AIDS ini. Salah satu memberikan penyuluhan dengan melibatkan semua lapisan masyarakat.
Melakukan tes HIV AIDS sebanyak-banyaknya termasuk juga Mobile VCT. Selain itu pihaknya juga memberikan sosialisasi pengobatan segera, sebab orang dalam HIV AIDS (ODHA) yang teratur ARV menyebabkan viral load rendah dan kemungkinan pularkan juga menjadi rendah.
“Selain itu kita juga menurunkan stigma HUV AIDS di masyarakat,” pungkasnya.
Reporter : Rengga Yuliandra

