Jumat, 8 Mei 2026

Anak Korban Pelecehan Seksual Akan Trauma Seumur Hidup

Berita Terkait

Ilustrasi pencabulan

batampos – Trauma akibat pelecehan seksual dialami anak dapat meninggalkan luka yang bertahan lama. Bahkan, ingatan atas kejahatan seksual itu bisa terbawa seumur hidup.

Psikolog RSAB Batam, Maryana mengatakan trauma buruk masa kecil memengaruhi kesehatan psikologis seseorang. Dalam masa pertumbuhannya, anak-anak yang menderita trauma sering tidak mampu memercayai orang lain. Mereka menganggap orang lain, terutama orang dewasa tidak bisa melindungi.

“Yang pasti, pencabulan yang dialami anak akan menganggu ketenangan psikologi mereka. Mereka akan takut bertemu dengan pelaku atau orang yang menyerupai pelaku,” ujar Maryana.

Trauma akan semakin besar jika pencabulan itu dialami anak yang sudah memiliki ingatan, yakni diatas 4 tahun. Efek pencabulan akan menimbulkan traumatik mendalam pada anak.

“Efek dari pencabulan itu akan terasa sampai dewasa, bahkan seumur hidup. Apalagi pencabulan itu terjadi berulang-ulang, dibawah ancaman atau bujuk rayu,” jelas Maryana.

Baca Juga: Dampak Medsos, Kasus Pelecehan Seksual Harus Ditangani Lebih Serius

Dijelaskannya, untuk meminimalisir trauma berat yang dialami anak, maka mereka perlu mendapat terapi psikologis. Proses pemulihan mental untuk setiap korban pun berbeda-beda, namun tidak akan pernah menghapus seluruh ingatan atas pelecehan seksual tersebut. Bahkan jika tak ditangani dengan benar, anak yang menjadi korban pelecehan, bisa menjadi pelaku pelecehan seksual.

“Trauma pada anak akan berlanjut dan membekas hingga dewasa. Karena itu, perlu adanya konseling rutin untuk meminimalisir trauma. Pelecehan seksual ini ibarat lingkaran setan jika tak ditangani dengan baik,” jelasnya.

Baca Juga: Guru Mengaji Cabuli Anak Panti Sejak Usia 15 Tahun, Ini 10 Korbannya

Menurut dia, peranan dan dukungan dari orang tua dan orang-orang sekitar sangat penting dalam masa pemulihan trauma anak. Jangan sampai seiiring waktu, anak menyalahkan diri sendiri atas pencabulan yang dialami.

“Padahal mereka korban, namun jika tak ada dukungan, banyak diantara mereka yang menyalahkan diri sendiri atas kejadian tersebut, ” sebutnya.

Karena itu, ia mengharapkan para orang tua bisa memberi sex education kepada anak-anak sedari dini. Diantaranya dengan memperkenalkan alat kelamin mereka “pen*s” untuk laki-laki dan “vag*na” untuk perempuan. Kemudian dengan menjelaskan tak ada orang lain yang bisa menyentuh bagian-bagian vital mulai meraba, mencium dan lainnya. Begitu juga dengan rasa sayang yang tidak nyaman.

“Kadang para orang tua malu memperkenalkan jenis alat kelamin pada anak. Padahal itu sangat penting demi menghindari pelecehan seksual pada anak,” tegasnya. (*)

 

Reporter : Yashinta

UPDATE