
batampos – Upaya menggenjot kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Kepulauan Riau kembali mengemuka. PT Bandara Internasional Batam (BIB) mendorong pemerintah pusat segera memberikan relaksasi visa sekaligus menghidupkan kembali penerbangan charter dari Tiongkok, dua langkah yang dinilai bisa menjadi “pemantik cepat” bagi sektor pariwisata yang tengah menunjukkan tren positif.
Direktur BIB, Annang Setiabudi, mengatakan kemudahan visa—meski bersifat sementara—dapat menjadi instrumen efektif untuk menarik arus wisatawan dalam jangka pendek, sembari menunggu kebijakan yang lebih permanen.
“Perlu ada keringanan dan kemudahan visa sementara untuk menarik wisatawan, sambil menunggu kebijakan lanjutan yang lebih permanen,” ujar Annang, Kamis,(23/4).
Selain itu, BIB tengah menjajaki pengaktifan kembali rute penerbangan charter untuk pasar Tiongkok. Menurut Annang, pasar tersebut memiliki potensi besar namun belum tergarap optimal dalam beberapa waktu terakhir.
Upaya penjajakan dilakukan melalui koordinasi dengan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) serta sejumlah maskapai penerbangan. “Pasar Tiongkok potensinya besar. Kami sedang menjajaki kerja sama untuk mengaktifkan kembali penerbangan charter,” katanya.
Berbeda dengan Tiongkok, pengembangan pasar India masih menghadapi kendala ketiadaan penerbangan langsung dari Batam. Annang menyebut peluang tersebut tetap terbuka, namun saat ini masih dalam tahap kajian dan membutuhkan dukungan lintas sektor.
Ia menekankan, keberhasilan mendorong pertumbuhan wisman tidak dapat ditopang satu pihak saja. Kolaborasi antara operator bandara, maskapai, pelaku industri perjalanan, serta pemerintah daerah menjadi kunci menjaga momentum positif pariwisata Kepri yang hingga April 2026 tercatat cukup baik.
“Kami sebagai operator bandara berperan sebagai fasilitator. Keberhasilan ini sangat bergantung pada sinergi travel agent, maskapai, dinas pariwisata, dan seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.
Annang juga mengingatkan adanya risiko penurunan kunjungan bila momentum yang tengah terbentuk tidak segera direspons dengan langkah konkret. “Momentum pada April ini sangat positif, sehingga perlu dimanfaatkan secara optimal,” katanya.
Di tingkat pemerintah daerah, Wakil Gubernur Kepulauan Riau Nyanyang Haris Pratamura menyoroti pentingnya keselarasan kebijakan antara pusat dan daerah. Menurut dia, tanpa sinkronisasi, berbagai inisiatif untuk mendorong pariwisata berpotensi berjalan parsial dan kurang efektif. “Sinergi ini penting agar kebijakan pusat dan daerah berjalan seiring dalam mendorong sektor pariwisata,” ujarnya.
Nyanyang juga melihat peluang peningkatan wisatawan dari negara lain seperti Korea Selatan seiring mulai terbukanya penerbangan internasional langsung ke Batam. Namun, ia mengakui masih terjadi ketimpangan dalam pola perjalanan wisman, di mana sebagian besar memilih kembali melalui negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.
“Masih banyak wisatawan yang memilih kembali melalui Singapura dan Malaysia,” katanya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Provinsi Kepri mempertimbangkan strategi alternatif, termasuk memanfaatkan wilayah Johor sebagai pintu masuk tambahan wisatawan menuju Batam. Melalui forum lintas sektor yang tengah disiapkan, pemerintah berharap berbagai persoalan strategis dapat diidentifikasi sekaligus dirumuskan solusi konkret guna memperkuat pertumbuhan pariwisata daerah.
“Forum ini diharapkan mampu melahirkan langkah nyata untuk menjaga tren positif dan meningkatkan daya saing pariwisata Kepri,” ujar Nyanyang.(*)

