Sabtu, 25 April 2026

Begini Penanganan Kenakalan Remaja Menurut Psikolog Batam

Berita Terkait

Ilustrasi

batampos.co.id – Maraknya kasus kenakalan remaja tentu menjadi suatu fenomena yang patut dikhawatirkan dan diatasi oleh berbagai pihak di masyarakat. Namun dalam menangani kasus-kasus tersebut diperlukan upaya untuk memastikan bahwa tindakan yang dilakukan sudah tepat.

Psikolog Mahmud Syaltut mengatakan bahwa secara dalam menangani kenakalan remaja, hal yang paling penting adalah memberikan hukuman yang mendidik ke anak-anak tersebut.

“Hukuman mendidik berarti untuk memastikan bahwa anak-anak nanti akan merasakan hukuman yang positif dan bukan yang negatif. Berarti menghukum anak itu tidak boleh memakai kekerasan apapun alasannya,” ujar Mahmud kepada Batampos pada hari Kamis (18/11).

Ia mengungkapkan bahwa dengan menggunakan kekerasan maka pola anak-anak akan berubah menjadi pola yang negatif, dimana anak-anak akan menjadi semakin agresif, anti-sosial, kemudian egois dan melegalkan kekerasan.

“Sebelum memberikan hukuman, harus sudah ada pondasi kasih sayang ke anak-anak. Memberikan perhatian, kasih sayang, diajak ngobrol, komunikasi, jadi tercipta pondasi emosional yang kuat antara yang dididik dan guru. Supaya ketika saat anak tersebut melakukan kesalahan maka yang diubah itu perilaku anaknya, bukan membenci anak-anak,” lanjutnya.

Menurutnya dalam menghadapi anak-anak guru pun juga sudah harus siap mental sebagai pendidik, dan ini penting karena anak-anak memiliki fase yang berbeda-beda dalam perkembangannya.

“Ketika masa SMA, ada namanya fase adolescence, anak-anak itu sudah mulai pancaroba. Jati diri di anak-anak sudah muncul, makanya anak-anak itu sudah mengarah ke kenakalan, dan itu juga yang akan dihadapi oleh guru SMA dan SMK,” ditambahnya.

Oleh sebab itu Mahmud berpendapat bahwa bagi anak-anak SMA dan SMK maka tidak bisa juga diberikan hukuman dengan kekerasan, karena tindakan tersebut tidak akan membawa mereka ke arah positif.

“Bedakan menghukum anak supaya takut dan menghukum anak supaya berubah,” ia tegaskan.

Ia menjelaskan, untuk membuat anak-anak berubah maka kita harus memberikan hukuman-hukuman yang konstruktif dan rasional, seperti memberi anak-anak tanggung jawab agar hukumannya bisa berdampak panjang bagi perkembangan anak-anak tersebut.

Selain itu ia juga menggarisbawahi pentingnya reward atau penghargaan, seperti mengucapkan ulang tahun dan memberikan motivasi, bagi perkembangan anak-anak.

“Reward-reward tersebut apabila terkumpul maka akan terbentuk hubungan emosional yang bagus dengan guru,” jelas dia.

Ia juga menekankan perlunya kesabaran dalam proses menangani kenakalan remaja. Menurutnya kita juga perlu untuk menilai anak-anak yang dalam kutip “bermasalah”, seperti melihat dan memahami melihat latar belakang anak-anak tersebut sebelum kita melakukan tindakan.

“Apabila anak melakukan pelanggaran maka harus ditegur apa kesalahannya, jangan langsung ke hukuman. Kemudian apabila anak itu tetap melakukan pelanggaran maka diajak ngobrol, komunikasi itu tetap penting. Apabila anak itu masih melakukan pelanggaran yang berlebihan, maka kita harus juga melibatkan banyak pihak untuk menyadarkan anaknya, terutama dari pihak keluarga dan orang tua, dan itu semua memerlukan proses dan kerjasama,” pungkasnya. (*)

Reporter: Kevin Rendra Pratama

UPDATE