
batampos.co.id – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batam, Jefridin, mengungkapkan kekhawatiran atas realisasi Dana Alokasi Umum (DAU) 2021 dan 2022.
Tahun ini, belum diketahui secara pasti realisasi DAU, sementara untuk DAU 2022, jumlahnya menurun dari target. Hal ini diakibatkan adanya pemotongan oleh pemerintah pusat sebesar Rp 300 miliar.
”APBD saat ini mestinya sudah 75 persen realisasi pada November. Tapi saya tidak hafal sudah berapa realisasinya. Termasuk jumlah dana transfer. DAK (dana alokasi khusus) aman, karena sudah jelas. Yang belum pasti itu, DAU,” kata Jefridin saat dijumpai di Kantor DPRD Batam, Kamis (11/11/2021).
Sementara itu, Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengatakan, DAU Batam sesuai APBD Perubahan, sekitar Rp 680 miliar.
Namun, Pemko mengalokasikan anggaran sekitar Rp 117 miliar untuk penanganan Covid-19 di Batam.
Termasuk, untuk insentif tenaga kesehatan, yang dialokasikan dari DAU. APBD murni 2021, Pemko Batam mengalokasikan dana transfer sebesar Rp 1.036.911.979.000.
Anggaran total dana transfer yang awalnya ditargetkan diterima Batam, terdiri dari dana perimbangan dan dana insentif daerah. Untuk dana perimbangan yakni dana transfer umum sebesar Rp 1.012.893.618.000.
Dana Bagi Hasil sebesar Rp 130.543.540.000 dan Dana Alokasi Umum (DAU) Rp 646.918.482.000. Kemudian, dana transfer khusus Rp 235.431.596.000.
Untuk dana transfer khusus, ada Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik sebesar Rp 125.707.695.000.
Selanjutnya, DAK nonfisik Rp 109.723.901.000, kemudian untuk Dana Insentif Daerah, Batam menerima Rp 24.018.361.000.
Sementara untuk APBD 2022, awalnya total anggaran sebesar Rp 3,4 triliun. Namun, hal itu harus dirasionalisasi kembali karena pemerintah pusat telah mengesahkan APBN 2022, yang mengatur DAK dan DAU tahun 2022 untuk Kota Batam, dipotong sekitar Rp 300 miliar.
Sehingga menjadi sekitar Rp 800 miliar dari target awal, sebelumnya sebesar Rp 1,2 triliun.
”Sekarang masih dalam pembahasan,” tutupnya. (*)
Reporter: Yulitavia

