Senin, 15 Juni 2026

Dari Pertamax ke Pertalite, Antrean SPBU Batam Mulai Berubah

Berita Terkait

Warga Batam antre mengisi BBM di salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), Rabu, (10/6). F.Azis Maulana

batampos – Pemandangan di salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Batam Center pada Sabtu siang, (13/6), tampak berbeda dari biasanya. Di jalur pengisian Pertalite, antrean sepeda motor mengular.

Sedikitnya sembilan kendaraan roda dua menunggu giliran mengisi tangki. Sementara di jalur Pertamax, suasana terlihat lengang. Hanya satu kendaraan yang tampak melakukan pengisian.

Perubahan itu muncul hanya beberapa hari setelah harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax di Batam mengalami kenaikan signifikan. Sejak 10 Juni 2026, Pertamina Patra Niaga menaikkan harga Pertamax di wilayah Free Trade Zone (FTZ) Batam dari Rp11.750 menjadi Rp15.500 per liter.

Selisih harga yang semakin lebar dengan Pertalite mulai memengaruhi pilihan konsumen.

Baca Juga: BP Batam Laporkan Aksi Rayap Besi di Terowongan Pelita

Salah seorang pengendara sepeda motor Honda Vario, Tyo yang ditemui di lokasi mengaku kini tidak lagi menggunakan Pertamax seperti sebelumnya. Ia memilih beralih ke Pertalite untuk menghemat pengeluaran harian.

Sebelum harga naik, ia rutin mengisi penuh tangki motornya dengan Pertamax. Biaya yang dikeluarkan berkisar Rp48 ribu. Kini, untuk kapasitas tangki yang sama, ia harus merogoh kocek lebih dari Rp60 ribu.

“Biasanya isi penuh sekitar Rp48 ribu. Sekarang sudah sekitar Rp60 ribuan. Selisihnya lumayan, kalau dibandingkan Pertalite bisa buat beli nasi dua bungkus,” ujarnya.

Menurut dia, antrean yang lebih panjang di jalur Pertalite bukan lagi persoalan utama. Di tengah meningkatnya biaya hidup, efisiensi pengeluaran menjadi pertimbangan yang lebih penting.

Fenomena perpindahan konsumen dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi sebenarnya telah diperkirakan sejumlah kalangan. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid, menilai kenaikan harga Pertamax akan mendorong masyarakat mencari pilihan bahan bakar yang lebih ekonomis.

“Dengan perbedaan harga yang cukup tinggi, kemungkinan akan ada perpindahan pengguna dari Pertamax ke Pertalite,” kata Rafki.

Baca Juga: Pemko Batam Gelontorkan Rp14,9 Miliar untuk Pelebaran Jalan Raja Isa Sepanjang 1,4 Kilometer ‎

Perubahan pola konsumsi tersebut, menurut Rafki, perlu diantisipasi oleh pemerintah maupun Pertamina agar tidak menimbulkan persoalan baru. Lonjakan permintaan terhadap Pertalite berpotensi meningkatkan tekanan pada distribusi dan pasokan BBM subsidi di Batam.

Ia mengingatkan bahwa Pertalite kini menjadi pilihan utama bagi sebagian besar pengguna kendaraan yang sensitif terhadap perubahan harga. Jika pasokan tidak dijaga dengan baik, risiko kelangkaan dapat muncul dan memicu keresahan di masyarakat.

“Kita berharap pasokan Pertalite dijaga supaya tidak terjadi kelangkaan. Kalau sampai langka, tentu akan menimbulkan persoalan baru di tengah masyarakat,” ujarnya.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Batam merupakan daerah dengan mobilitas tinggi yang ditopang aktivitas industri, perdagangan, dan jasa. Perubahan harga energi sering kali berdampak langsung pada biaya transportasi dan pengeluaran rumah tangga.

Karena itu, selain memastikan ketersediaan BBM, Apindo juga meminta pemerintah menjaga kelancaran distribusi kebutuhan pokok.

Menurut Rafki, masyarakat saat ini menghadapi berbagai tekanan biaya hidup yang saling berkaitan. Kenaikan harga energi berpotensi menjalar ke sektor lain apabila tidak diimbangi dengan stabilitas pasokan barang dan jasa.

Di lapangan, sinyal perubahan perilaku konsumen mulai terlihat dari antrean SPBU. Jalur Pertalite yang semakin padat menjadi indikator awal bahwa sebagian masyarakat sedang menyesuaikan strategi pengeluarannya.

Bagi banyak pengendara, keputusan berpindah dari Pertamax ke Pertalite bukan lagi soal preferensi bahan bakar, melainkan soal menjaga keseimbangan anggaran rumah tangga di tengah kenaikan harga yang datang hampir bersamaan dari berbagai sektor. Di SPBU Batam Center, perubahan itu kini tampak antrean panjang berada di jalur yang menawarkan harga lebih murah. (*)

ReporterAzis Maulana

UPDATE