
batampos – Distribusi cabai ke Batam melalui kapal hingga Jumat (10/12), masih terkendala gelombang tinggi. Akibatnya, harga cabai belum normal. Namun, dibandingkan sehari sebelumnya, harga cabai sedikit turun.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam, Gustian Riau, mengatakan, informasi dari distributor, pendistribusian cabai belum lancar.
Hampir setiap kapal yang memuat cabai, terkendala gelombang tinggi.
”Masih terkendala cuaca,” kata Gustian kepada Batam Pos, Jumat (10/12/2021).
Karena itu, harga cabai di Batam masih belum bisa normal.
”Sekarang cabai (rawit) Rp 80 ribu, lebih murah sedikit,” terang Gustian.
Menurut dia, cabai yang dipasok ke Batam didatangkan dari Padang dan Aceh. Sedangkan cabai dari Medan, belum bisa dipanen.
”Jadi, saat ini kami mengharapkan dari Padang dan Aceh,” tegasnya.
Jika terkendala cuaca, kenapa pengangkutan tak menggunakan pesawat?
Menurut Gustian, pengiriman lewat jalur laut pilihan distributor karena jalur udara biayanya pasti lebih mahal.
”Ditambah saat ini memang harga cabai sedang tinggi. Tak hanya Batam saja, di Surabaya cabai Rp 55 ribu per kg, memang lebih murah dibanding Batam, tapi itu sudah tinggi, karena mereka dekat dengan daerah penghasil,” imbuh Gustian.
Lalu, bagaimana dengan status Batam yang FTZ, apakah tak bisa dimanfaatkan untuk melakukan impor khusus, mengingat Batam bukan daerah penghasil?
Menurut Gustian, hal itu juga sedang dikaji. Ia juga ingin mempelajari seperti apa mekanisme impor ke Batam.
”Nanti akan kami kaji lagi mengenai itu, harus dipelajari juga mekanismenya,” ungkap Gustian.
Sementara itu, di Batam harga cabai setan memang lebih murah dibanding sehari sebelumnya. Kemarin, harga cabai setan dijual rata-rata Rp 80-90 ribu per kg.
”Harganya masih mahal, tapi memang turun sedikit dibanding kemarin,” ujar Bayu, penjual cabai di pasar Botania.
Reporter: Yashinta

