Minggu, 26 April 2026

Harga Bright Gas Naik, Pertamina Patra Niaga Klaim Penyaluran LPG di Kepri Masih Normal

Berita Terkait

Ilustrasi Bright Gas. (RRI)

batampos – PT Pertamina Patra Niaga resmi melakukan penyesuaian harga LPG non-subsidi jenis Bright Gas ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram di wilayah Kepulauan Riau (Kepri), terhitung mulai 18 April 2026. Meski demikian, hingga kini distribusi dan penyaluran LPG di lapangan disebut masih normal.

Sales Area Manager Pertamina Patra Niaga wilayah Kepri, Bagus Handoko, mengatakan kenaikan harga hanya berlaku untuk LPG non-subsidi. Ia menegaskan, secara umum belum ada dampak signifikan terhadap konsumsi masyarakat dalam waktu dekat.

“Biasanya dampak dari kenaikan LPG itu baru terasa sekitar satu bulan. Untuk saat ini belum ada pengaruh yang signifikan,” ujarnya.

Baca Juga: Amsakar dan Li Claudia Serahkan Bingkisan kepada 257 JCH, Ini Pesan yang Disampaikan

Ia menjelaskan, harga LPG di Batam relatif lebih murah dibandingkan daerah lain di Kepri. Hal ini dipengaruhi status Batam sebagai kawasan Free Trade Zone (FTZ), sehingga terdapat perbedaan komponen biaya.

“Karena Batam FTZ, jadi harganya lebih murah,” sebutnya.

Sementara itu, Sales Branch Manager (SBM) III Gas Kepri, Hanif Pradita Nursalih, mengatakan bahwa kenaikan harga Bright Gas tidak terlalu jauh. Untuk ukuran 12 kilogram, kenaikan berada di kisaran Rp30 ribu, sedangkan untuk 5,5 kilogram sekitar Rp15 ribu.

“Harga lama Bright Gas 5,5 kilogram di Batam sekitar Rp94 ribuan, sekarang menjadi sekitar Rp111 ribu termasuk PPN. Sedangkan untuk 12 kilogram sebelumnya sekitar Rp194 ribu dan sekarang Rp 230 ribu setelah PPN,” jelas Hanif.

Ia menambahkan, harga tersebut merupakan harga rekomendasi di tingkat supply point, seperti di Batam dan Tanjunguban. Adapun harga di tingkat pengecer dapat berbeda, tergantung biaya distribusi dan layanan tambahan yang diberikan agen.

“Kalau di daerah luar Batam, seperti Tanjungpinang atau wilayah lainnya, harga bisa lebih tinggi karena ada tambahan biaya transportasi,” katanya.

Meski terjadi kenaikan harga, Hanif memastikan bahwa penyaluran LPG non-subsidi maupun subsidi masih berjalan normal. Berdasarkan data di lapangan, tidak ada lonjakan maupun penurunan signifikan dalam distribusi.

“Penyaluran di SPBE masih normal. Pengambilan oleh agen juga tidak ada perubahan signifikan, baik untuk LPG 5,5 kilogram, 12 kilogram, maupun 50 kilogram,” ujarnya.

Baca Juga: Harga Sembako Masih Stabil di Pasar pasca Kenaikan BBM Nonsubsidi

Untuk LPG subsidi 3 kilogram, ia menegaskan bahwa distribusi tetap mengacu pada kuota yang telah ditetapkan pemerintah pusat. Hingga saat ini, belum ada perubahan alokasi maupun indikasi peningkatan konsumsi yang signifikan.

“LPG 3 kilogram ini sudah ada kuotanya dan terkunci. Penambahan biasanya hanya terjadi saat hari besar atau ada permintaan khusus dari pemerintah daerah,” jelasnya.

Di Batam sendiri, penyaluran LPG subsidi mencapai sekitar 150 metrik ton per hari atau setara dengan 50 ribu tabung. Sementara LPG non-subsidi disalurkan sekitar 40 metrik ton per hari.

Pertamina mengimbau masyarakat untuk tetap membeli LPG sesuai peruntukan dan tidak beralih ke LPG subsidi jika tidak berhak. Selain itu, masyarakat juga diminta membeli LPG di pangkalan atau outlet resmi untuk mendapatkan harga sesuai ketentuan.

“Kami pastikan stok aman dan distribusi lancar. Masyarakat tidak perlu khawatir,” tutup Hanif.(*)

ReporterYashinta

UPDATE