Sabtu, 13 Juni 2026

Jembatan Batam–Bintan Masih Sebatas Janji Politik

Berita Terkait

Gubernur Kepulauan Riau Anshar Ahmad saat diwawancarai Batam Pos beberapa waktu lalu. Foto: M.Sya’ban/Batam Pos

batampos – Proyek Jembatan Batam–Bintan yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari rencana strategis pembangunan Kepulauan Riau hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan segera direalisasikan. Pemerintah Provinsi Kepri mengakui proyek yang digadang-gadang menjadi penghubung dua pusat ekonomi terbesar di daerah itu masih terkendala pendanaan.

Hingga saat ini, proyek tersebut belum memiliki investor yang siap membiayai pembangunan yang nilainya diperkirakan mencapai lebih dari Rp17 triliun.

Gubernur Kepri, Anshar Ahmad, mengatakan pemerintah daerah masih terus menjalin komunikasi dengan pemerintah pusat sekaligus membuka peluang keterlibatan investor swasta untuk merealisasikan proyek tersebut.

“Kami tetap berkomunikasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum. Kalau ada investor yang mau membangun secara utuh, tentu akan kita dorong,” kata Ansar saat ditemui Batam Pos, Jumat (12/6).

Baca Juga: Industri Batam Mulai Terbebani

Menurut Ansar, kebutuhan anggaran pembangunan Jembatan Batam–Bintan terus meningkat seiring kenaikan harga material dan biaya konstruksi.

Jika berdasarkan perhitungan lama kebutuhan anggaran berada di kisaran Rp16 triliun, kini nilainya diperkirakan telah melampaui Rp17 triliun.

“Sebelum eskalasi harga sekitar Rp16 triliun. Sekarang kemungkinan sudah lebih dari Rp17 triliun,” ujarnya.

Meski membutuhkan investasi jumbo, Anshar menilai angka tersebut masih memungkinkan dipenuhi investor besar yang memiliki kapasitas pendanaan kuat. Namun, hingga pertengahan 2026, belum ada investor yang secara resmi menyatakan kesiapan membiayai proyek tersebut.

Karena itu, Pemprov Kepri juga berupaya menjajaki peluang kerja sama dengan pelaku usaha dan investor yang telah berinvestasi di Kepri.

“Kita juga akan berkoordinasi dengan para pelaku investasi di Kepri. Barangkali bisa bersama-sama atau gotong royong membangun proyek ini,” katanya.

Ansar optimistis Jembatan Batam-Bintan dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru bagi Kepri. Kehadiran jembatan tersebut diyakini mampu memperkuat konektivitas antara kawasan industri di Batam dengan sektor pariwisata dan investasi di Bintan.

Namun, belum adanya investor, belum tersedianya skema pembiayaan yang jelas, serta terus meningkatnya kebutuhan anggaran menjadi tantangan utama yang masih membayangi realisasi proyek tersebut.

Baca Juga: Nobar Piala Dunia, Polda Kepri Pererat Sinergi dengan Media

Meski demikian, Pemprov Kepri memastikan upaya memperjuangkan pembangunan Jembatan Batam–Bintan akan terus dilakukan.

“Sampai masa jabatan selesai, akan terus kita kejar,” tegas Ansar.

Untuk diketahui, Jembatan Batam–Bintan (Babin) merupakan salah satu proyek konektivitas terbesar yang pernah direncanakan di Kepulauan Riau. Proyek ini digadang-gadang menjadi penghubung utama antara Pulau Batam dan Bintan.

Berdasarkan rancangan yang pernah dipaparkan Pemprov Kepri, Jembatan Babin akan memiliki total panjang sekitar 14,6 kilometer. Bentangan utama jembatan direncanakan sepanjang 7,6 kilometer dan akan menjadi salah satu jembatan terpanjang di Indonesia.

Gubernur berharap, Jembatan Babin tidak hanya menjadi simbol kemajuan infrastruktur Kepri, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi baru, memperkuat konektivitas antarwilayah, serta membuka peluang investasi yang lebih luas bagi Batam, Bintan, Rempang, dan Galang.

“Mudah-mudahan bisa segera terbangun. Ini mimpi besar kita bersama untuk mendorong Kepri lebih maju dan terhubung secara utuh,” katanya. (*)

ReporterM. Sya'ban

UPDATE