Sabtu, 20 Juni 2026

Animator Batam Berkontribusi dalam Film Animasi Garuda di Dadaku

Berita Terkait

Nonton bareng film animasi Garuda di Dadaku di bioskop CGV Grand Batam Mall. F.Istimewa

batampos – Lampu studio perlahan meredup. Di layar bioskop CGV Grand Batam Mall, sosok-sosok animasi bergerak lincah mengikuti alur cerita sepak bola yang akrab bagi penonton Indonesia. Film animasi Garuda di Dadaku akhirnya tiba di layar lebar setelah melalui perjalanan produksi yang panjang.

Di balik gambar-gambar yang hidup itu, terselip kontribusi puluhan animator yang bekerja dari Batam.

Tak banyak yang mengetahui bahwa salah satu tahapan penting dalam penyempurnaan film tersebut dikerjakan oleh tim animator yang tergabung dalam Moving Things Production, studio animasi yang berbasis di Batam. Perusahaan ini terlibat dalam tahap animasi, memastikan setiap gerakan dan detail visual tampil sesuai standar sebelum film dirilis ke publik.

“Kalau dihitung dari awal pengembangan cerita, layout, sampai final render, proses produksinya memakan waktu kurang lebih tiga tahun,” kata Sintia Silaban, Project Coordinator Moving Things Production, saat ditemui usai pemutaran film, Kamis, (11/6).

Menurut Sintia, proyek tersebut merupakan kolaborasi dengan tim produksi utama yang mengusung standar hiburan dan kualitas animasi yang tinggi. Total animator yang terlibat dalam keseluruhan produksi mencapai sekitar 550 orang. Jumlah itu belum termasuk tim editor, modeler, dan tenaga kreatif lain yang bekerja di belakang layar.

Baca Juga: UP TOWN RUN 2026 Batam: Padukan Olahraga, Budaya, dan Hiburan untuk Gen Z

Studio yang beroperasi di Batam itu mempekerjakan animator dari berbagai daerah di Indonesia yang kini menetap di kota tersebut. Keragaman latar belakang para pekerja, menurut dia, menjadi salah satu kekuatan dalam proses kreatif.

Namun perjalanan menyelesaikan proyek tidak sepenuhnya mulus. Tantangan terbesar justru datang dari keterbatasan waktu. Saat menerima pekerjaan tersebut, tim Moving Things Production masih menangani proyek lain sehingga harus membagi sumber daya secara cermat.

“Kendalanya lebih ke waktu. Saat itu kami juga sedang mengerjakan proyek lain sehingga tidak bisa mengambil seluruh pekerjaan yang ada,” kata salah seorang Animator Lead, Handi Yono.

Meski demikian, tim tetap optimistis film ini akan mendapat sambutan positif dari masyarakat. Bagi mereka, Garuda di Dadaku menghadirkan kualitas visual yang menunjukkan kemajuan signifikan industri animasi nasional.

Handi menilai film tersebut menghadirkan pendekatan visual yang menjadi terobosan baru bagi animasi Indonesia. Dari sisi teknis, kualitas rendering dan penyajian gambar dinilai mampu bersaing dengan karya-karya animasi internasional.

Optimisme itu juga didorong oleh keterlibatan sejumlah figur publik dan kreator digital yang memiliki basis penggemar besar. Nama-nama seperti Atta Halilintar tercatat terlibat sebagai produser, sementara sejumlah talenta muda yang sebelumnya berkontribusi dalam film animasi lain turut ambil bagian dalam proyek ini.

“Harapan kami, semakin banyak anak-anak Indonesia yang melihat bahwa karya animasi buatan dalam negeri memiliki kualitas yang baik dan layak diapresiasi,” ujarnya.

Harapan tersebut bukan tanpa alasan. Bahkan sebelum resmi tayang di bioskop Indonesia, film garapan sutradara Ronny Gani itu telah lebih dulu mencuri perhatian di panggung internasional. Dengan judul internasional Garuda: Dare to Dream, film ini berhasil masuk nominasi Golden Goblet Award – Animation Competition dalam ajang Shanghai International Film Festival (SIFF) 2026 di China.

Pencapaian itu menjadi sinyal bahwa animasi Indonesia mulai mendapat tempat di tingkat global. Bagi para animator yang terlibat, pengakuan internasional tersebut menjadi bukti bahwa kualitas sumber daya kreatif Indonesia tidak kalah dibandingkan negara-negara yang lebih dahulu maju di industri animasi.

Baca Juga: Jembatan Batam–Bintan Masih Sebatas Janji Politik

Wisnu Muliadi, Animator Lead lainnya, mengaku film tersebut memberikan pengalaman yang mengesankan secara pribadi. Sejumlah adegan, kata dia, menjadi sumber inspirasi untuk terus berkarya di dunia animasi.

“Semoga industri animasi Indonesia bisa berkembang lebih besar lagi. Kita memang masih bertumbuh, tetapi kemampuan animator Indonesia sebenarnya tidak kalah dengan studio-studio besar dunia,” ujarnya.

Film Garuda di Dadaku mulai tayang serentak di jaringan bioskop CGV, XXI, dan Cinepolis di seluruh Indonesia. Bagi para animator Batam yang ikut terlibat, pemutaran perdana itu bukan sekadar peluncuran film baru. Ia menjadi penanda bahwa karya yang lahir dari ruang-ruang kerja kreatif di daerah mampu menembus layar nasional bahkan panggung internasional.

Di tengah dominasi industri animasi global, mereka menyimpan harapan sederhana: semakin banyak talenta muda Indonesia berani menekuni profesi animator, dan semakin besar dukungan yang diberikan kepada industri kreatif nasional. (*)

ReporterAzis Maulana

UPDATE