
batampos – Kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp15. 500 per liter berpotensi memberikan tekanan terhadap inflasi di Kota Batam. Meski kontribusi Pertamax dalam perhitungan inflasi relatif kecil, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam mengingatkan adanya kemungkinan dampak lanjutan yang perlu diwaspadai.
Kepala BPS Kota Batam, Eko Aprianto, mengatakan kenaikan harga Pertamax berpotensi memengaruhi tingkat inflasi, terutama melalui efek ikutan atau second round effect yang dapat mendorong kenaikan biaya transportasi dan distribusi barang.
“Benar, kenaikan Pertamax berpotensi mempengaruhi tingkat inflasi di Kota Batam. Walau secara bobot mungkin relatif kecil dalam perhitungan inflasi, hanya saja efek ikutan akan ikut mempengaruhi tingkat inflasi yang ada,” ujar Eko kepada Batam Pos, Jumat (12/6).
Menurutnya, Batam sebagai wilayah kepulauan memiliki ketergantungan tinggi terhadap mobilitas kendaraan dan distribusi logistik. Karena itu, kenaikan harga bahan bakar berpotensi memengaruhi biaya operasional berbagai sektor usaha yang pada akhirnya dapat diteruskan ke harga barang dan jasa.
Baca Juga: Industri Batam Mulai Terbebani
Namun demikian, BPS masih akan mencermati perkembangan harga di lapangan dalam beberapa pekan ke depan untuk mengetahui seberapa besar dampak riil kenaikan Pertamax terhadap inflasi daerah.
“Untuk melihat efeknya secara lebih dalam, kita sama-sama akan melihat perkembangan harga yang akan dicatat beberapa minggu selanjutnya. Hasilnya akan kita ketahui pada awal bulan depan melalui perhitungan angka inflasi,” katanya.
Selain berpotensi memengaruhi sektor transportasi, kenaikan Pertamax juga diperkirakan dapat berdampak terhadap pola konsumsi masyarakat, khususnya kelompok menengah yang selama ini menjadi pengguna utama BBM nonsubsidi tersebut.
Kenaikan biaya transportasi rumah tangga berpotensi mendorong sebagian masyarakat beralih ke jenis BBM yang lebih murah atau melakukan penyesuaian pengeluaran pada sektor lain guna menjaga keseimbangan anggaran keluarga.
Kekhawatiran tersebut muncul di tengah tren inflasi Kota Batam yang masih menunjukkan kenaikan. Berdasarkan data BPS, pada Mei 2026 Kota Batam mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) sebesar 3,99 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 113,14.
Secara bulanan, inflasi Batam pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,33 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year to date) mencapai 1,32 persen.
Baca Juga: Pengusaha Waspadai Gelombang Inflasi dan Kenaikan Harga Pangan Imbas dari Kenaikan Harga BBM
Eko menjelaskan, inflasi tahunan terjadi akibat kenaikan harga pada hampir seluruh kelompok pengeluaran. Salah satu kelompok yang mengalami kenaikan cukup tinggi adalah transportasi dengan inflasi mencapai 4,18 persen.
“Komoditas yang memberikan andil cukup besar terhadap inflasi tahunan antara lain emas perhiasan, angkutan udara, nasi dengan lauk, beras, rokok kretek mesin, sewa rumah, cabai rawit, daging ayam ras, biaya pendidikan perguruan tinggi, daging sapi, tomat, telur ayam ras, hingga bensin,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, perkembangan harga Pertamax dalam beberapa waktu ke depan akan menjadi salah satu faktor yang turut dipantau untuk melihat dampaknya terhadap inflasi Batam, terutama jika kenaikan biaya transportasi mulai merembet ke tarif jasa maupun harga kebutuhan pokok masyarakat. (*)

