Jumat, 12 Juni 2026

Warga Batam Ramai Beralih ke Pertalite, Pendaftaran Barcode BBM Subsidi Dikeluhkan

Berita Terkait

Warga Batam antre mengisi BBM di salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), Rabu, (10/6). F.Azis Maulana

batampos – Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax mulai memengaruhi pola konsumsi bahan bakar masyarakat di Kota Batam. Sejumlah warga kini memilih beralih menggunakan Pertalite yang harganya lebih murah dibanding Pertamax.

‎Meski terjadi kecenderungan peralihan konsumsi tersebut, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam memastikan stok Pertalite di seluruh SPBU masih dalam kondisi aman dan distribusinya berjalan normal.

‎Kepala Bidang Perindustrian dan ESDM Disperindag Kota Batam, Januar Arka, mengatakan hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan adanya gangguan distribusi maupun kelangkaan BBM subsidi di Batam.

‎”Untuk stok Pertalite aman dan sampai saat ini tidak ada masalah. Distribusi juga berjalan lancar,” kata Januar saat dihubungi Batam Pos, Kamis (11/6).

Baca Juga: Narasi Boikot Singapura Berbahaya

Mulai 10 Juni 2026, Pertamina melakukan penyesuaian harga untuk BBM non-subsidi jenis Pertamax (RON 92). Khusus wilayah FTZ Batam, harga Pertamax naik dari Rp11.750 per liter menjadi Rp15.500 per liter atau naik sekitar Rp3.750 per liter. Sementara harga Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan tidak mengalami perubahan.

‎Pertalite merupakan BBM penugasan pemerintah dengan nilai oktan (RON) 90 yang selama ini menjadi bahan bakar favorit masyarakat karena harganya lebih murah dibanding Pertamax.

Pertalite banyak digunakan oleh kalangan menengah ke bawah, pengendara sepeda motor, kendaraan pribadi tertentu, hingga pelaku usaha kecil yang memenuhi kriteria pembelian BBM subsidi melalui sistem QR Code MyPertamina.

‎Menurut Januar, kebijakan penyesuaian harga Pertamax merupakan kewenangan pemerintah pusat dan Pertamina, sehingga pemerintah daerah hanya mengikuti kebijakan yang telah ditetapkan.

‎”Kenaikan Pertamax mengikuti kebijakan pusat. Daerah hanya mengikuti ketentuan yang berlaku,” ujarnya.

‎Warga Mulai Beralih ke Pertalite

‎Di lapangan, sejumlah warga mengaku mulai mempertimbangkan penggunaan Pertalite untuk menekan pengeluaran transportasi harian.

‎Namun keinginan beralih tersebut tidak selalu berjalan mudah. Banyak masyarakat mengeluhkan proses pendaftaran barcode atau QR Code BBM subsidi yang menjadi syarat pembelian Pertalite bagi kendaraan roda empat.

‎Menurut Januar, pengurusan barcode dilakukan langsung melalui sistem yang disediakan Pertamina melalui aplikasi MyPertamina.

Baca Juga: Ketagihan Judol, Karyawan Perusahaan di Nongsa Masuk Bui

Masyarakat terlebih dahulu harus mengunduh aplikasi MyPertamina melalui Play Store maupun App Store, kemudian melakukan registrasi data kendaraan sesuai ketentuan yang berlaku.

‎”Untuk pendaftaran barcode dilakukan melalui Pertamina. Masyarakat bisa mengunduh aplikasi MyPertamina lalu mengikuti proses pendaftarannya,” katanya.

‎Siapkan KTP, STNK dan Foto Kendaraan

‎Januar menjelaskan, terdapat beberapa dokumen yang wajib disiapkan saat proses registrasi.

‎Dokumen tersebut meliputi Kartu Tanda Penduduk (KTP), foto atau salinan STNK kendaraan bagian depan dan belakang, serta foto kendaraan yang memperlihatkan nomor polisi secara jelas.

‎Menurut dia, sistem verifikasi yang digunakan cukup detail sehingga kualitas foto menjadi faktor penting agar proses pendaftaran tidak ditolak.

‎”Persyaratannya tidak banyak. KTP, STNK, dan foto kendaraan yang terlihat nomor polisinya. Yang penting fotonya jelas karena sistem aplikasinya cukup teliti,” ujarnya.

Baca Juga: Tempat Penampungan Ditiadakan, Sampah Berserakan di Tepi Jalan Bagan

Meski demikian, ia mengakui masih ada sebagian masyarakat yang menganggap proses pendaftaran barcode cukup rumit, terutama bagi warga yang kurang terbiasa menggunakan aplikasi digital.

‎Keluhan tersebut umumnya berkaitan dengan proses unggah dokumen dan verifikasi data kendaraan.

‎Koordinasi dengan Pertamina Fokus Distribusi

‎Januar menjelaskan bahwa koordinasi antara Disperindag Kota Batam dan Pertamina selama ini lebih difokuskan pada pengawasan distribusi dan ketersediaan pasokan BBM di lapangan.

‎Menurutnya, selama tidak terjadi kelangkaan maupun gangguan distribusi, koordinasi dilakukan secara rutin sesuai kebutuhan.

‎”Kami berkoordinasi terkait distribusi. Selama distribusinya lancar dan tidak ada kelangkaan, sampai saat ini tidak ada masalah,” katanya.

‎Saat ditanya mengenai berapa lama ketahanan stok Pertalite di Batam, Januar mengaku informasi tersebut lebih tepat dijelaskan oleh pihak Pertamina sebagai pengelola distribusi BBM.

‎”Kalau soal berapa lama stok tersedia, itu lebih tepat dijawab oleh Pertamina,” ujarnya. (*)

ReporterM. Sya'ban

UPDATE