
batampos – Kasus serangan jantung yang terjadi secara mendadak, termasuk pada usia muda, belakangan menjadi perhatian serius. Namun, secara medis, kondisi ini sebenarnya jarang terjadi tanpa sebab.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, dr. Didi Kusmarjadi, menjelaskan bahwa penyebab utama serangan jantung umumnya adalah penyempitan atau sumbatan pada pembuluh darah jantung (aterosklerosis).
“Prosesnya terjadi perlahan. Lemak, kolesterol, gula, dan zat radang menumpuk di dinding pembuluh darah. Lama-lama bisa pecah dan membentuk bekuan darah yang menghentikan aliran ke jantung,” ujarnya, Jumat (17/4).
Ia menegaskan, serangan jantung bukanlah kondisi yang benar-benar datang tiba-tiba tanpa tanda. Dalam banyak kasus, gejala awal sudah muncul namun sering diabaikan oleh penderita.
“Biasanya ada keluhan seperti nyeri dada ringan yang hilang timbul, sesak saat aktivitas, mudah lelah, atau nyeri yang menjalar ke lengan kiri dan rahang. Tapi sering dianggap hanya masuk angin atau kelelahan,” jelasnya.
Menurut Didi, faktor gaya hidup memegang peranan sangat besar dalam memicu serangan jantung. Bahkan, sekitar 70 hingga 80 persen kasus berkaitan dengan pola hidup yang tidak sehat.
Beberapa faktor utama yang sering ditemukan pada pasien antara lain pola makan tinggi lemak jenuh dan gorengan, kurang aktivitas fisik, obesitas, diabetes, hipertensi, serta kolesterol tinggi.
“Ini yang kita sebut sebagai ‘silent killer’, karena prosesnya berjalan diam-diam tanpa disadari,” katanya.
Ia juga menyoroti kebiasaan konsumsi gorengan yang masih sangat dominan di masyarakat. Makanan yang digoreng berulang kali mengandung lemak trans dan radikal bebas yang dapat meningkatkan kolesterol jahat (LDL).
Selain itu, konsumsi minuman manis dan makanan tinggi karbohidrat sederhana turut memperburuk kondisi kesehatan jantung.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol. Didi menegaskan, merokok menjadi salah satu faktor risiko terkuat.
“Merokok merusak dinding pembuluh darah dan mempercepat penyumbatan. Risikonya bisa meningkat dua sampai empat kali lipat,” ujarnya.
Sementara konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah, mengganggu ritme jantung, serta menyebabkan kerusakan jangka panjang pada organ tersebut.
Fenomena meningkatnya kasus serangan jantung di kalangan usia produktif juga menjadi sorotan. Jika sebelumnya kasus banyak terjadi pada usia di atas 50 tahun, kini usia 30 hingga 40 tahun sudah banyak terdampak.
Hal ini dipicu oleh kombinasi gaya hidup sedentari (kurang gerak), konsumsi makanan instan dan ultra processed food, stres tinggi, kurang tidur, serta kebiasaan merokok sejak usia muda.
“Stres kronis juga sangat berpengaruh. Hormon kortisol meningkat, tekanan darah naik, dan akhirnya mempercepat kerusakan pembuluh darah,” jelas Didi.
Kurang tidur dan pola hidup tidak teratur turut memperparah risiko. Tidur kurang dari 5–6 jam per hari dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, memicu gangguan metabolisme, hingga menyebabkan obesitas dan diabetes.
Didi mengingatkan masyarakat untuk lebih peka terhadap tanda-tanda awal serangan jantung. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain nyeri dada seperti ditekan, sesak napas, nyeri menjalar ke lengan kiri atau leher, keringat dingin, mudah lelah ekstrem, serta jantung berdebar tidak normal.
“Jangan tunggu sampai parah. Banyak pasien datang terlambat karena mengabaikan gejala awal,” tegasnya.
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Batam mengimbau masyarakat untuk mulai menerapkan pola hidup sehat. Di antaranya berhenti merokok, mengurangi konsumsi gorengan, gula dan garam, serta memperbanyak sayur, buah, dan protein sehat.
Selain itu, masyarakat dianjurkan untuk aktif bergerak minimal 30 menit per hari, rutin memeriksakan tekanan darah, gula darah, dan kolesterol, serta mengelola stres dengan baik dan menjaga kualitas tidur.
“Serangan jantung pada dasarnya bisa dicegah. Kuncinya ada pada perubahan gaya hidup yang sederhana, tapi dilakukan secara konsisten,” tutup Didi.(*)



