
batampos.co.id – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Zona Kesehatan Sekupang, Batam, menarik perhatian sejumlah investor di World Expo 2021 Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), Kamis (11/11/2021).
Gelaran expo bertema; Pengembangan Masa Depan dari KEK itu, menjadi momen Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) memaparkan potensi KEK Kesehatan Sekupang.
Kegiatan ini digelar secara hybrid, yaitu tatap muka bertempat di Indonesia Pavilion, Dubai, dan daring melalui aplikasi Zoom. Kegiatan ini dihadiri Direktur Jenderal Ajman Free Zone (AFZ), Ali Abdullah bin Towaih Al Suwaidi; Presiden Urban Designers Asia-Pasific, Dian Rosnawati; Wakil Ketua III Tim Pelaksana Dewan Nasional KEK, Budi Santoso; dan Kepala Biro Humas, Promosi dan Protokol BP Batam, Ariastuty Sirait, sebagai narasumber.
Webinar dibuka langsung Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, melalui daring. Airlangga mengungkapkan bahwa sumber daya alam yang melimpah, tenaga kerja yang produktif, taraf pertumbuhan dan ekspansi pasar yang baik, menjadi faktor penentu potensi perkembangan ekonomi Indonesia.
”Pemerintah membentuk KEK dengan tujuan untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi, meningkatkan peluang investasi dan kegiatan industri, serta optimalisasi kegiatan eksporimpor,” ujarnya.
Hingga tahun 2021, terdapat 19 KEK yang tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari manufaktur, pariwisata, dan industri tersier lainnya.
”KEK di Indonesia telah menawarkan beragam fasilitas tak terhingga untuk memudahkan para investor,berupa insentif fiskal dan nonfiskal. KEK sendiri merupakan salah satu proyek strategis nasional yang menjadi prioritas pemerintah Indonesia,” ujarnya.
Kepala Biro Humas, Promosi dan Protokol BP Batam, Ariastuty Sirait, membuka memaparan mengenai KEK Kesehatan yang bertajuk Layanan Kesehatan Internasional Sekupang, Batam secara daring.
”Beberapa pasar potensial yang dimiliki KEK Kesehatan Batam beberapa di antaranya industri farmasi dengan nilai investasi Rp 110 triliun dan industri peralatan medis dengan nilai investasi Rp 49 triliun,” jelasnya.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), masyarakat Indonesia telah menghabiskan Rp 160 triliun per tahun, untuk biaya perawatan yang dilakukan di luar negeri, terutama di Singapura dan Malaysia.
”Batam akan menangkap peluang tersebut melalui KEK Kesehatan. Dengan luas lahan 44,5 hektare dan nilai investasi senilai USD 215 juta, BP Batam akan mengembangkan rumah sakit bertaraf internasional, farmasi dan peralatan medis, serta akomodasi,” terangnya.
Selain itu, kawasan Free Trade Zone (FTZ) dan KEK di Batam, dilengkapi insentif fiskal maupun non fiskal, Batam menawarkan kemudahan untuk berinvestasi dengan pengembangan potensi mencakup wisata kebugaran, universitas kedokteran terbaik dan sistem manajemen kesehatan yang terpadu.
“KEK Layanan Kesehatan Internasional adalah yang pertama dan satu-satunya saat ini di Indonesia. Dengan dukungan dari Menko Perekonomian RI serta Dewan Pengawas BP Batam, maka BP Batam berkomitmen untuk membantu proses investasi di Batam. Kami juga mengundang para investor untuk datang ke Batam dan menyaksikan langsung potensi Batam sebagai kawasan investasi yang bernilai tambah,” tutupnya.
Reporter: Rifki Setiawan

