Ada dua gambar di lemari itu. Lemari di ruang kerja lantai 8 Gedung Otorita Batam (hari ini, disebut Badan Pengusahaan Batam). Di sini ketua Otorita Batam bekerja. Adalah BJ Habibie yang menyimpan gambar itu. Gambar masjid. Salah satu dari dua gambar itu kini telah berwujud sebuah masjid, Masjid Raya Batam Center.
—–
ISMETH Abdullah belum melewati sebulan menjadi Ketua Otorita Batam pada 1998. Ia menemukan dua gambar rancangan masjid itu di lemari.
“Saya segera menelepon bapak Presiden,” kisah Ismeth. Bapak Presiden yang ia maksud tak lain dan tidak bukan ialah BJ Habibie.
Sebagai Kepala Otorita Batam, Ismeth pun menempati ruang kerja BJ Habibie kala menjabat Ketua Otorita Batam. Hingga kini pun, Kepala Badan Pengusahaan Batam, berkantor di lantai 8.
Ismeth menyatakan keinginan untuk mewujudkan gambar itu menjadi sebuah masjid beneran.
Ismeth menanyakan gambar mana yang hendak dipilih BJ Habibie.
Di ujung telepon Habibie bertanya bagaimana pembiayaannya. Ismeth membalas lugas, bisa.
Otorita memiliki pendapatan dari lahan, bandara, pelabuhan juga rumah sakit,” ungkap Ismeth kepada Batam Pos, tentang gambaran asal pembiayaan membangun masjid.
Kedua gambar itu ialah karya Ir Achmad Noe’man. Achmad Noe’man dari ITB Bandung. Ia juga yang mendesain masjid Salman yang berada di ITB. Pun masjid Baiturrahim di kawasan Istana Negara Jakarta.
Presiden BJ Habibie juga bertanya dimana lokasi untuk membangun masjid.
Sebagai Ketua otorita Batam, Ismeth menunjuk Batam Center. Di sini ada kantor pemerintah, ada alun-alun (dataran Engku Putri, red), pun terlihat dari arah laut.
Masjid Raya Batam berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 75.000 meter persegi.
Luas ruang sholat 2.515 meter persegi. Sanggup menampung 3.500 jamaah. Adapun bagian luar masjid sanggup menampung 15.000 jamaah.
Dibangun sejak 1999, Masjid Raya kelar pada 2001.

Bagi Ismeth Abdullah membangun masjid bukan semata membangun tempat ibadah. Masjid ialah ikon, identitas Batam.
“Batam tidak hanya dikenal sebagai kota industri, Batam harus dikenal sebagai kota agamis,” ungkap Ismeth.
Semangat itu benar-benar diwujudkan oleh Ismeth Abdullah. Setelah Masjid Raya Batam Center beroperasi, ia memromosikan Batam dengan gambar Masjid Raya Batam Center.
Otorita Batam menjalin kerjasama dengan RCTI, sebuah stasiun televisi swasta yang dianggap paling top saat itu. Setiap Adzan Maghrib di RCTI video yang muncul ialah gambar Batam dan tentu saja Masjid Raya Batam.
“Selama setahun kami bekerja sama dengan RCTI,” kenang Ismeth. Nampak banget Ismeth puas. “Orang-orang jadi mengenal Batam.”
Ia menambahkan, “bahkan setelah kontrak habis, RCTI masih menayangkan adzan yang sama.”
Bagi Ismeth Abdullah, kala itu, mengembangkan Batam harus mencari banyak cara agar bisa memacu perkembangan.
“Setelah membangun Masjid, kami membangun asrama haji,” lanjutnya.
Membangun bukan tanpa alasan. Dari asrama haji berimbas ke operasional bandara Hang Nadim. Asrama haji dibangun ketika beberapa wilayah di sekitar Batam belum memiliki embarkasi. Peluang itu diambil Ismeth Abdullah. Dari Riau, Sumbar juga Kalbar terbang ke tanah suci melalui Batam. Tentu saja melalui Hang Nadim.
Kini, Masjid Raya Batam tidak lagi menjadi aset Badan Pengusahaan Batam, telah dialihkan ke Pemerintah Kota Batam. Namanya pun diubah menjadi Masjid Agung Batam. (*)
Putut Ariyotejo – Batam



