batampos – Kuota Vaccinated Travel Lane (VTL) yang diberikan Pemerintah Singapura, ternyata lebih banyak dipakai masyarakat Indonesia plesiran ke Singapura via Batam. Dampaknya, banyak wisatawan mancanegara (wisman) urung datang ke Batam karena khawatir saat akan kembali ke Singapura kuota VTL habis.

”Minggu ini banyak booking, tapi banyak batal. Sebab, VTL banyak yang waiting list, mereka (wisman) bisa datang tapi tidak bisa pulang. Semua sudah di-booking wisnus,” kata Ketua Nongsa Sensation, Andy Fong, Minggu (20/3) kepada Batam Pos. Padahal, kata Andy, minat wisman liburan ke Batam sangat tinggi, namun saat wisman akan melakukan pemesanan dan mendaftar VTL, tidak mendapatkan kuota.
”Karena tak mendapatkan fasilitas VTL pulang, booking batal. Saya di Batam View saja sudah 20 pax (orang) yang batal datang. Kami jadi kesulitan dibuatnya, bayangkan setiap hari batal sebanyak itu,” ujarnya kepada Batam Pos.
Andy mengatakan, aturan dari Pemerintah Indonesia sudah sangat baik, apalagi dengan keluarnya SE No 13. Tapi, kuota VTL dirasa masih kurang, sebab kebijakan dari Pemerintah Singapura ini digunakan wisman dan wisnus.
”Kuota sepekannya hanya 350 orang, ini tidak cukup. Kami harap bertambah menjadi seribuan orang setiap pekannya,” ungkap Andy.
Jumlah wisman yang datang ke Batam, paling ramai di minggu kedua dan ketiga Maret. Namun, ia memprediksi jumlah ini akan turun.
”Gara-gara (wisman) tidak dapat seat VTL,” tutur kepada Batam Pos.
Jika kondisi ini terus berlangsung, Andy mengaku akan sulit mendatangkan wisman ke Batam. Sebab, para wisman kesulitan mendapatkan fasilitas VTL.
”Semoga saja dalam waktu dekat, ada tambahan kuota,” harapnya.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri, Buralimar, memang berharap dapat penambahan kuota. Namun, kebijakan VTL merupakan wewenang penuh dari Pemerintah Singapura.
”Sebenarnya wisman menjadi prioritas (mendapatkan VTL), dari pihak pengangkut harusnya bertanggung jawab atas ini,” ujarnya.
Problem ini, kata Buralimar, akan dibicarakan lagi dengan berbagai pihak. Namun, karena VTL adalah kebijakan dari Pemerintah Singapura, sehingga Pemerintah Provinsi Kepri tidak dapat berbuat banyak.
”Kami menghormati kebijakan dari Pemerintah Singapura,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Disbudpar Kota Batam, Ardiwinata, berharap ada relaksasi aturan, baik itu kuota VTL maupun jalur keluar masuk wisman ke Batam. Sehingga jumlah kunjungan wisman ke Batam bisa meningkat.
”Untuk kunjungan wisman ke Batam, berharap adanya relaksasi aturan dan semua bisa dapat fasilitas VTL,” ujarnya.
Ardi, kepada Batam Pos bilang. soal aturan keluar masuk wisman ke Indonesia, termasuk kuota VTL adalah aturan multilateral atau hubungan antarnegara. Sedangkan Indonesia, aturan itu juga saling berkaitan antarkementerian.
”Ini pembicaraan multilateral, artinya terus mendorong Pemerintah Indonesia untuk meminta relaksasi terhadap aturan-aturan keluarnya warga asing dari negaranya,” terang Ardi.
Menurut dia, aturan saat ini merupakan regulasi dari negara sahabat seperti Singhapura dan Malaysia. Karena itu, ia berharap regulasi ini bisa dibicarakan kembali secara diplomatik.
”Intinya kembali dibicarakan secara G to G (government to government).”
Untuk Batam sendiri, lanjut Ardi, terus memperkuat masya-rakat dengan herd immunity atau kekuatan komunal dengan melakukan vaksin dan tetap mematuhi protokol kesehatan.
”Batam sudah ready menyambut wisman-wisman dari pintu mana saja. Sudah siap menyambut kedatangan massal wisman,” pungkas Ardi. (*)

