
batampos – Badan Pengusahaan (BP) Batam resmi meluncurkan layanan digital Land Management System (LMS), Senin (25/5). Kehadiran sistem baru pengelolaan lahan tersebut disambut positif kalangan pengembang yang menilai langkah itu dapat mendorong iklim investasi dan pertumbuhan ekonomi Kota Batam menjadi lebih baik.
Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Khusus Batam, Robinson Tan, mengatakan dibukanya layanan LMS menjadi angin segar bagi dunia usaha, khususnya sektor properti dan investasi di Batam.
“Dengan adanya LMS ini merupakan angin segar untuk ikut mendongkrak pertumbuhan ekonomi Kota Batam. Karena pihak yang mendapatkan alokasi lahan tentu akan melakukan pengembangan. Di situ ada perputaran uang yang pasti berefek pada perputaran ekonomi,” ujarnya, Senin (25/5).
Menurut Robinson, sistem digital tersebut juga dinilai membawa perubahan besar dalam proses pengalokasian lahan yang selama ini kerap menjadi sorotan. Dengan LMS, proses pengajuan lahan disebut menjadi lebih transparan dan terbuka bagi seluruh investor.
Meski demikian, REI Batam mengaku belum mengetahui secara pasti berapa banyak antrean pengusaha maupun investor yang sudah mengajukan permohonan lahan melalui sistem tersebut.
“Kalau soal berapa banyak yang ikut antrean untuk permohonan lahan, kami tidak mendapatkan informasi yang akurat dari BP Batam,” katanya.
Robinson tidak menampik bahwa sistem yang lebih terbuka itu juga akan memunculkan persaingan yang lebih ketat antar investor dalam memperoleh lahan di Batam. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan konsekuensi dari sistem yang lebih transparan.
“Soal persaingan pasti ada. Karena dengan LMS yang baru ini semua pengalokasian lahan jadi lebih transparan sehingga terbuka untuk semua investor. Jadi ada plus minusnya bagi pengusaha atau investor lokal,” jelasnya.
Ia menilai kemudahan akses melalui LMS memang dapat mempercepat masuknya investasi. Namun di sisi lain, pembangunan tetap harus dilakukan secara terukur agar tidak menimbulkan persoalan baru di masa mendatang.
“Dalam pembangunan tetap harus disikapi dengan bijak. Tidak asal membangun terus harus melihat kondisi gejolak geopolitik dan keadaan ekonomi secara nasional, khususnya Kota Batam. Jangan sampai over pembangunan justru akan menjadi masalah,” tegasnya.
Saat disinggung terkait potensi persaingan antara investor lokal dengan investor asing dalam perebutan lahan, Robinson optimistis BP Batam akan tetap menjaga keseimbangan.
Ia berharap investor asing dapat diarahkan pada sektor-sektor tertentu yang memang membutuhkan modal besar dan teknologi, sementara sektor lain tetap memberi ruang bagi pelaku usaha lokal.
“Saya kira BP Batam juga pasti akan sangat bijak dalam menyeimbangkan kompetisi investasi asing dan lokal. Kalau untuk asing mestinya lebih dikhususkan ke industri dan properti tertentu saja. Tidak bisa masuk ke semua segmen pasar,” katanya.(*)



