
batampos – Mata uang Rupiah anjlok terhadap Dolar Singapura. Nilai jual Rupiah tembus Rp13.580 per dolar. Sementara nilai beli di angka Rp13.410 per dolar.
Memang, mayoritas mata uang negara-negara Asia mengalami pelemahan terhadap dolar Singapura dan juga dolar AS pada jurnal pasar finansial dan perdagangan global Refinitiv, Kamis (23/4).
Melansir dari jurnal tersebut, sebagian besar mata uang negara-negara di Asia mengalami pelemahan. Namun pelemahan paling tajam terjadi pada Rupiah, yang merosot hingga 0,82 persen ke level Rp 17.310 terhadap dolar AS dan Rp 13.580 terhadap dolar Singapura.
Pelemahan ini, dinilai terjadi karena tekanan di tengah eskalasi perang Iran-AS yang kembali memanas, buka-tutup Selat Hormuz yang membuat harga minyak dunia tembus 100 Dolar AS per barel. “Ada keterkaitan langsung atas ini semua,” ujar salah satu pengusaha asal Batam, Paulus Amat Tantoso yang dihubungi siang kemarin.
Baca Juga: BP Batam Mulai Perbaiki Jalan Yos Sudarso di Atas Terowongan Pelita
Dia mengatakan, pelemahan rupiah dinilai membawa dua sisi bagi perekonomian Batam. “Dari sudut pandang pengusaha, kalau rupiah melemah, turis asing merasa belanja di sini lebih murah. Weekend jadi ramai, transportasi Batam banyak orderan, demikian juga transaksi rupiah saat mereka belanja dan makan di berbagai pusat perbelanjaan dan wisata,” ujar Amat.
Amat yang juga merupakan Ketua Aviliasi Penukaran Valuta Asing (APVA) ini mengatakan, dalam periode Januari 2025 hingga Januari 2026, rupiah mengalami penurunan sekitar 15,2 persen terhadap ringgit Malaysia, 10 persen terhadap dolar Singapura, dan 3,4 persen terhadap dolar AS.
Dari kondisi itu, justru memberikan keuntungan bagi sektor ekspor dan pariwisata. Menurutnya, wisatawan mancanegara, terutama dari Singapura dan Malaysia, kini merasakan biaya belanja yang lebih murah saat berkunjung ke Batam.
“Kalau rupiah melemah, turis asing merasa belanja di sini lebih murah. Lihat itu pusat perbelanjaan BCS dan sekitarnya contohnya, menjadi salah satu titik yang terdampak positif dari meningkatnya kunjungan wisatawan,” ungkapnya.
Namun di sisi lain, pelemahan rupiah berdampak negatif terhadap biaya impor dan harga barang di dalam negeri. Fluktuasi nilai tukar yang tidak stabil ini membuat pengusaha yang bahan bakunya impor merasa was-was. “Barang jadi mahal karena rupiah melemah. Importir juga was-was, jadi tidak berani stok banyak,” katanya.
Baca Juga: Investasi Batam Tembus Rp17,4 Triliun pada Triwulan I 2026, Tumbuh Lebih dari 100 Persen
Kondisi ini turut memengaruhi daya beli masyarakat lokal. Harga barang yang meningkat, ditambah kenaikan harga minyak, dikhawatirkan akan menekan konsumsi rumah tangga.
“Kalau untuk pangan, saya yakin pemerintah Batam punya formula untuk menekan kenaikan harga di pasar. Yang dikhawatirkan itu minyak. Kalau minyak naik, biaya transportasi ikut naik dan harga barang bisa semakin mahal, rakyat akan semakin susah,” jelasnya.
Sebagai pengusaha, ia berharap pemerintah tetap menjaga stabilitas harga, terutama pada komoditas energi dan kebutuhan pokok, agar dampak negatif langsung terhadap masyarakat bisa diminimalkan.(*)

