
batampos – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Singapura dan dolar Amerika Serikat (AS) anjlok. Pengamat ekonomi Suyono Saputro, mengatakan anjloknya kurs rupiah perlu disikapi secara hati-hati. Kondisi ini bisa menjadi peluang atau tantangan di waktu yang bersamaan.
“Pelemahan nilai tukar rupiah yang sangat tajam hari ini memang bisa saja menjadi sinyal tekanan struktural yang saya pikir perlu disikapi secara hati-hati. Apalagi Batam sebagai Kota Industri. Namun, tidak perlu panik. Karena, kemungkinan potensinya bisa jadi bersifat jangka pendek. Tapi tetap perlu jadi perhatian,” ujarnya, Kamis (23/4/).
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Internasional Batam (UIB) ini juga mengatakan, struktur industri Batam yang berbasis manufaktur ekspor justru diuntungkan dalam jangka pendek. Nilai tukar rupiah yang melemah membuat harga produk ekspor Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.
Baca Juga: Nilai Rupiah Anjlok Terhadap Dolar Singapura, Tembus Rp13.580
“Untuk sektor ekspor, ini bisa menjadi momentum positif karena produk kita lebih murah di pasar internasional, sehingga permintaan berpotensi meningkat,” ujarnya.
Namun demikian, kondisi ini tidak sepenuhnya positif. Industri yang masih bergantung pada bahan baku impor diperkirakan akan menghadapi kenaikan biaya produksi akibat pelemahan rupiah. Hal ini berpotensi menekan margin usaha hingga memicu kenaikan harga barang di dalam negeri.
Selain sektor industri, dampak kenaikan ini juga berpotensi dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga kebutuhan pokok. Wilayah Kepri, khususnya Batam, sebagai kawasan kepulauan sangat tergantung pada distribusi jalur laut dinilai rentan terhadap lonjakan biaya logistik.
“Solusi cepatnya, pemerintah baik Pemprov Kepri maupun Batam harus mengantisipasi tekanan inflasi, khususnya di sektor pangan,” ujar Suyono.
Baca Juga: Tarif Logistik Terancam Naik 40 Persen
Dia menambahkan, yang paling utama, perlu melakukan operasi pasar, memastikan stok bahan pokok aman, serta pemberian stimulus ekonomi seperti subsidi distribusi untuk menekan biaya pengiriman antarwilayah. “Ini yang perlu pemerintah siapkan segera. sembari memantau kondisi, apakah semakin memburuk atau seperti apa,” ungkapnya.
Lebih lanjut Suyono mengatakan, peran Bank Indonesia sebagai bank sentral juga krusial dalam menjaga stabilitas nilai tukar yang merosot, terparah sejak krisis moneter 1998. “Kebijakan intervensi di pasar valuta asing dan pengaturan suku bunga perlu dilakukan secara terukur agar tidak mengganggu iklim investasi dan aktivitas industri, karena ekonomi Batam sangat bergantung pada hal ini,” tutupnya.(*)

