Kamis, 16 April 2026

Paling Banyak di Batam, Kepri Peringkat Pertama Pengangguran di Indonesia

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Pencari kerja di Batam.. Terdampak Covid-19, tingkat pengangguran di Kepri meningkat, terutama di Batam. F.Dalil Harahap

batampos.co.id – Kepri menjadi provinsi dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) tertinggi di Indonesia, per Agustus 2021. Persentasenya sebesar 9,91 persen. Salah satunya adalah banyaknya warga Kepri khususya di Batam yang terdampak pandemi Covid-19 yang mayoritas usia kerja.

Meski begitu, terjadi penurunan dari Februari 2021, dimana TPT saat itu sebesar 10,12 persen. Sementara di peringkat kedua, Jawa Barat dengan TPT sebesar 9,82 persen, kemudian DKI Jakarta dengan TPT 8,50 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri, Agus Sudibyo mengatakan, jumlah penduduk yang bekerja sebanyak 1.087.419 orang, meningkat sebanyak 70.819 orang dari Agustus 2020.

“Lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan persentase terbesar yakni sektor industri pengolahan (2,25 persen poin) dan sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (0,36 persen poin),” katanya Senin (15/11).

Sektor yanmg mengalami penurunan terbesar yakni sektor jasa lainnya (1,48 persen poin) dan sektor transportasi dan pergudangan (0,80 persen poin).

“Sebanyak 382.824 orang (35,20 persen) bekerja pada kegiatan informal. Sektor ini mengalami penurunan 0,21 persen poin dibanding Agustus 2020,” ungkapnya.

Persentase setengah pengangguran naik sebesar 0,41 persen poin, sementara persentase pekerja paruh waktu naik sebesar 3,23 persen poin dibandingkan Agustus 2020.

“Terdapat 209.506 orang (11,85 persen penduduk usia kerja) yang terdampak Covid-19, terdiri dari pengangguran karena Covid (41.275 orang), bukan angkatan kerja karena Covid (5.889 orang), sementara tidak bekerja karena Covid (11.698 orang), dan penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena Covid (150.644 orang),” ungkapnya.

Menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid, faktor penyebab utama adalah terjadinya penurunan aktivitas perusahaan sehingga banyak yang melakukan pengurangan karyawan.

“Bahkan untuk usaha yang bergerak di sektor pariwisata ada perusahaan yang mem PHK sebagian besar karyawannya dan ada juga yang menutup usahanya,” tuturnya.

Kepri merupakan daerah tujuan wisata nomor tiga di Indonesia. Sehingga cukup banyak perusahaan yang bergerak di sektor pariwisata ini dengan jumlah karyawan yang juga cukup banyak. Sehingga sektor pariwisata yang berujung pada pengurangan jumlah karyawan, maka TPT di Kepri akan meningkat signifikan.

Sementara untuk sektor pengolahan walaupun melambat tapi bisa tetap tumbuh selama Pandemi Covid-19 melanda. “Kita tahu bahwa sektor ini merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja di Kepri. Sehingga ketika ada perlambatan pertumbuhan maka berarti perusahaan manufaktur mengerem untuk merekrut tenaga kerja baru. Sehingga permintaan tenaga kerja dari sektor pengolahan mengalami penurunan. Akibatnya adalah penambahan angka pengangguran di Kepri,” ujarnya.

Selain itu, ada beberapa perusahaan di Kepri yang sudah beralih ke sistem automasi sehingga membutuhkan karyawan yang lebih sedikit.

Rafki menambahkan, solusi untuk mengurangi pengangguran di Kepri dalam jangka pendek sepertinya relatif sulit, karena kasus penularan Covid-19 belum selesai. Ketika penularan tinggi maka pengangguran juga akan naik.

“Ketika sektor pariwisata mulai pulih dan sektor manufaktur kembali tumbuh normal, barulah pengangguran di Kepri bisa diturunkan,” paparnya.

Dalam jangka panjang, pemerintah daerah harus menyediakan pelatihan bagi para pencari kerja dengan kurikulum yang dibutuhkan oleh industri. Dengan begitu tenaga kerja di Kepri akan memiliki keahlian tertentu dan akan lebih mudah diserap pasar kerja. Selain itu kesejahteraan mereka juga akan lebih baik dibandingkan masuk kerja tanpa skill sama sekali.

“Pemerintah juga harus menyiapkan pelatihan untuk tenaga kerja yang akan disuplai ke KEK Nongsa Digital Park dan KEK Batam Aero Teknik. Selain itu perusahaan pengolahan aluminium di Bintan yaitu PT BAI juga membutuhkan tenaga kerja yang relatif banyak. Pelatihan SDM nya sebaiknya disediakan dulu agar pencari kerja di Kepri akan lebih mudah terserap ke 3 KEK yang ada,” ungkapnya.

Solusi lainnya adalah terus menggaet investor asing dan investor dalam negeri untuk segera berinvestasi di Kepri. Dengan begitu lapangan pekerjaan baru akan terbuka.

Sementara itu, Koordinator Wilayah Kota Batam dan Kab Karimun, Himpunan Kawasan Industri (HKI), Tjaw Hioeng mengatakan, salah satu cara paling efektif menekan jumlah pengangguran yakni dengan memberikan pelatihan skill industri.

“Hidupkan kembali Balai Latihan Kerja (BLK). Kami siap untuk berdiskusi. Disarankan untuk membuka kelas industri manufaktur, agar sesuai dengan kebutuhan industri di Batam,” kata Tjaw.

Menurut Tjaw, kontribusi terbesar pengangguran berasal dari lulusan SMA dan SMK sederajat tiap tahunnya di Batam. “Kalau mereka dapat skill di BLK, maka akan diserap oleh industri di Batam. Kami pun tidak perlu capek-capek lagi cari tenaga kerja di luar Batam,” jelasnya.

Selain lulusan sekolah, pengangguran juga turut disumbangkan oleh lulusan perguruan tinggi yang belum bekerja, dan pekerja yang diputus kontraknya oleh perusahaan, karena terimbas pandemi Covid-19. (*)

Tabel Warga Kepri Terdampak Covid-19:
– Pengangguran karena Covid 41.275 orang
– Bukan angkatan kerja karena Covid 5.889 orang
– Tidak bekerja karena Covid 11.698 orang
– Pekerja mengalami pengurangan jam kerja karena Covid 150.644 orang
– Total Terdampak Covid-19: 209.506 orang (11,85 % usia kerja)

 

Reporter: RIFKI SETIAWAN

UPDATE