Rabu, 29 April 2026

Pariwisata Terdampak Perang di Timur Tengah, Koordinasi Lintas Sektoral Harus Diperkuat

Berita Terkait

Rapat koordinasi lintas sektoral terkait pariwisata yang digelar di Graha Kepri, Batamkota , Selasa,(21/4). Azis Maulana/ Batam Pos

batampos – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau berupaya meredam dampak gejolak geopolitik global terhadap sektor pariwisata. Melalui rapat koordinasi lintas sektoral yang digelar di Graha Kepri, Batamkota , Selasa,(21/4) pemerintah daerah bersama pelaku industri merumuskan langkah strategis guna menjaga stabilitas kunjungan wisatawan.

Rapat yang dipimpin Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Nyanyang Haris Pratamura, itu mengusung tema menjaga stabilitas dan kondusivitas pariwisata di tengah konflik global.

Forum tersebut mempertemukan pemangku kepentingan untuk memperkuat koordinasi, terutama dalam merespons potensi penurunan mobilitas wisatawan akibat ketidakpastian internasional.

“Koordinasi lintas sektoral menjadi kunci, khususnya dalam menjaga kunjungan wisatawan ke Kepri di tengah gejolak geopolitik,” kata Nyanyang.

Kepala Dinas Pariwisata Kepulauan Riau, Hasan, menilai sektor pariwisata sangat sensitif terhadap dinamika global. Ia menyoroti ketegangan di Timur Tengah, terutama antara Iran dan Amerika Serikat, yang berdampak pada terganggunya jalur transportasi internasional, termasuk di kawasan Selat Hormuz.

Gangguan tersebut, kata Hasan, memicu perubahan rute penerbangan, penutupan sebagian jalur, serta kenaikan biaya operasional transportasi. Dampaknya berantai tarif tiket meningkat dan mobilitas wisatawan global ikut tertekan.

Meski demikian, kinerja pariwisata Kepulauan Riau sepanjang 2025 tercatat tetap tumbuh. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 2,027 juta orang, sedangkan wisatawan nusantara menyentuh 4,320 juta orang—angka tertinggi sejak pandemi Covid-19.

“Pariwisata menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus berkontribusi terhadap ekonomi nasional,” ujar Hasan.

Kontribusi sektor ini terhadap perekonomian daerah tercermin dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang mencapai Rp22,6 triliun. Secara nasional, sektor akomodasi dan makan minum dari Kepulauan Riau menyumbang sekitar 1,83 persen terhadap produk domestik bruto.

Wisatawan dari kawasan ASEAN masih mendominasi, terutama Singapura dan Malaysia. Adapun wisatawan dari Cina, India, dan Korea Selatan menjadi pasar potensial berikutnya.

Namun tekanan mulai terasa pada 2026. Tarif ferry internasional rute Kepulauan Riau–Singapura naik sekitar 6 dolar Singapura sejak Maret, sementara rute Kepulauan Riau–Malaysia meningkat hingga 17 ringgit sejak awal April. Kenaikan juga terjadi pada tiket penerbangan domestik, seiring lonjakan harga bahan bakar.

Selain faktor ekonomi, kebijakan sejumlah negara turut memengaruhi arus wisatawan. Cina menutup sebagian ruang udara selama 40 hari sejak 1 April 2026, sedangkan Korea Selatan mengeluarkan peringatan perjalanan ke Indonesia.

Pemerintah daerah juga menghadapi tantangan domestik. Citra pariwisata sempat terdampak isu dugaan pungutan liar di Pelabuhan Ferry Internasional Batam Centre yang viral di media sosial.

Hasan mengatakan pihaknya masih menunggu rilis data terbaru Badan Pusat Statistik untuk Maret 2026 sebagai dasar penyusunan langkah lanjutan. Pemerintah, kata dia, akan fokus menjaga pasar utama, khususnya Singapura, Malaysia, Cina, dan India.

“Keempat negara ini merupakan kontributor utama kunjungan wisatawan. Polanya berbeda—wisatawan Singapura dan Malaysia cenderung singkat, sedangkan Cina dan India datang dalam rombongan,” ujar Hasan.

Melalui forum ini, pemerintah daerah menegaskan pentingnya langkah preventif dan adaptif agar sektor pariwisata tetap tangguh.

Di tengah ketidakpastian global, Kepulauan Riau berupaya menjaga momentum pertumbuhan sekaligus mempertahankan daya tariknya sebagai destinasi unggulan di kawasan perbatasan.(*)

ReporterAzis Maulana

UPDATE