Jumat, 24 April 2026

Rupiah Melemah, Dunia Usaha Belum Tertekan

Berita Terkait

Ketua Apindo Kota Batam, Rafki Rasyid.f. istimewa

batampos – Pelemahan rupiah terhadap dolar Singapura dan dolar Amerika Serikat hingga menyentuh kisaran Rp13.580 per dolar tak serta-merta mengguncang dunia usaha di Batam. Di tengah kekhawatiran pelaku industri nasional terhadap lonjakan biaya impor, pengusaha di kawasan Free Trade Zone (FTZ) Batam justru dinilai masih cukup tahan banting.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Batam, Rafky Rasid, menegaskan struktur bisnis Batam yang didominasi ekspor menjadi kunci utama meredam dampak gejolak kurs.

“Sebagian besar produk dari Batam dijual ke luar negeri dengan pembayaran dalam mata uang asing. Jadi walaupun bahan baku impor menggunakan dolar, hasil ekspor juga diterima dalam dolar. Ini yang membuat pengusaha di Batam tidak terlalu tertekan,” ujarnya.

Kondisi tersebut menciptakan keseimbangan alami antara biaya dan pendapatan, sehingga risiko kerugian akibat selisih kurs bisa diminimalisir. Berbeda dengan daerah lain yang lebih bergantung pada pasar domestik, pelaku usaha Batam cenderung memiliki natural hedge terhadap fluktuasi nilai tukar.

Tak hanya itu, kebijakan Bank Indonesia yang memperbolehkan transaksi antarperusahaan di Batam menggunakan mata uang asing turut menjadi tameng penting. Relaksasi ini memberi ruang bagi pelaku usaha untuk menghindari risiko kerugian akibat konversi rupiah yang tidak stabil.

“Dengan kebijakan ini, pengusaha cukup terlindungi. Transaksi bisa langsung menggunakan mata uang asing tanpa harus terkena dampak fluktuasi rupiah,” jelasnya.

Namun, perlindungan tersebut terancam berakhir. Kebijakan relaksasi penggunaan mata uang asing di kawasan FTZ Batam dijadwalkan habis pada Juni 2026. APINDO pun mendesak agar Bank Indonesia segera memperpanjang aturan tersebut.

“Di tengah tekanan global akibat konflik dan ketidakpastian ekonomi, kebijakan ini sangat dibutuhkan. Kami sudah berkomunikasi dengan Bank Indonesia agar bisa diperpanjang,” tegas Rafky.

Di balik pelemahan rupiah, Rafky melihat peluang lain yang tak kalah besar, yakni di sektor pariwisata. Nilai tukar yang lebih rendah membuat Batam dan Kepulauan Riau menjadi destinasi yang semakin “murah” bagi wisatawan mancanegara, khususnya dari Singapura dan Malaysia.

Momentum ini, kata dia, tidak boleh disia-siakan. Pemerintah dan pelaku industri pariwisata didorong untuk agresif mempromosikan destinasi serta menghadirkan berbagai event menarik.

“Jangan sampai wisatawan hanya datang untuk belanja karena harga lebih murah. Kita harus buat mereka betah, menikmati wisata, dan tinggal lebih lama di Batam,” katanya.

Dengan strategi yang tepat, pelemahan rupiah bukan hanya tantangan, tetapi juga bisa menjadi peluang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya dari sektor pariwisata yang semakin kompetitif di kawasan regional.(*)

UPDATE