
batampos –Pelemahan nilai tukar rupiah yang dikabarkan menyentuh level Rp18 ribu per dolar Amerika Serikat mulai memunculkan kekhawatiran terhadap perekonomian nasional, termasuk di Kota Batam yang selama ini bertumpu pada sektor industri manufaktur berbasis impor.
Pengamat ekonomi sekaligus Wakil Rektor Universitas Batam, Dr. Mohamad Gita Indrawan, menilai kondisi tersebut perlu diwaspadai karena Batam berada dalam posisi yang tidak sederhana.
Di satu sisi, pelemahan rupiah dapat menguntungkan sektor ekspor dan pariwisata. Namun di sisi lain, ketergantungan industri terhadap bahan baku impor justru membuat biaya produksi semakin tinggi.
”Batam saat ini seperti terjepit dari dua arah. Industri yang berorientasi ekspor bisa mendapatkan keuntungan dari kurs, tetapi ketergantungan terhadap bahan baku impor justru menjadi beban yang cukup besar bagi dunia usaha,” kata Gita, Kamis (4/6) siang.
Menurutnya, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi berbagai faktor global dan domestik. Dari sisi eksternal, konflik geopolitik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan risiko inflasi global.
Sementara dari dalam negeri, permintaan dolar AS masih tinggi untuk kebutuhan pembayaran utang luar negeri serta repatriasi dividen perusahaan.
Bank Indonesia sendiri mencatat nilai tukar rupiah melemah sekitar 7,44 persen secara year to date hingga April 2026, sejalan dengan pelemahan sejumlah mata uang negara berkembang lainnya.
Bagi Batam, dampak pelemahan rupiah dinilai cukup signifikan. Pasalnya, sebagian besar industri di daerah ini masih bergantung pada bahan baku impor, terutama sektor elektronik, manufaktur, dan galangan kapal.
Gita memperkirakan sekitar 70 persen bahan baku industri di Batam masih berasal dari luar negeri. Dalam kondisi tersebut, setiap pelemahan rupiah sebesar lima persen berpotensi meningkatkan biaya produksi sekitar tiga hingga empat persen.
Angka itu cukup besar jika dibandingkan dengan margin keuntungan rata-rata industri yang hanya berkisar lima hingga delapan persen.
”Keuntungan industri di Batam rata-rata tidak terlalu besar. Ketika biaya produksi naik akibat kurs, ruang keuntungan langsung tergerus. Karena itu pelaku usaha harus sangat berhati-hati menghadapi kondisi ini,” ujarnya.
Tekanan tidak hanya dirasakan perusahaan yang mengimpor bahan baku. Pelemahan rupiah juga berdampak pada perusahaan yang memiliki kewajiban pembayaran dalam mata uang dolar AS.
Menurut Gita, perusahaan yang memiliki pinjaman atau kewajiban pembayaran dalam dolar akan menghadapi kenaikan beban secara otomatis ketika dikonversi ke rupiah.
”Perusahaan yang memiliki utang valas menghadapi tekanan ganda. Selain biaya produksi naik, nilai pokok utang dan bunga yang harus dibayar juga ikut membengkak,” katanya.
Meski demikian, pelemahan rupiah tidak sepenuhnya membawa kabar buruk bagi Batam.
Dari sektor pariwisata, kondisi ini justru membuat Batam semakin menarik bagi wisatawan asal Singapura dan Malaysia. Nilai tukar yang menguntungkan membuat biaya berbelanja, kuliner, hingga berwisata di Batam menjadi lebih murah bagi wisatawan asing.
Data tahun 2025 menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Batam mencapai 1,61 juta orang. Wisatawan asal Singapura mendominasi dengan 789.674 kunjungan, disusul Malaysia sebanyak 418.330 kunjungan.
Namun menurut Gita, peningkatan aktivitas pariwisata belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan yang dialami sektor industri.
Pasalnya, struktur ekonomi Batam hingga saat ini masih didominasi oleh sektor industri manufaktur dan pengolahan yang banyak bergantung pada bahan baku impor.
”Pariwisata memang mendapatkan keuntungan dari pelemahan rupiah, tetapi kontribusinya belum mampu menutupi tekanan yang dirasakan sektor industri. Industri masih menjadi tulang punggung utama perekonomian Batam,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai pemerintah daerah bersama pelaku usaha perlu segera menyiapkan langkah mitigasi apabila pelemahan rupiah berlangsung dalam jangka panjang.
Salah satu langkah yang perlu didorong adalah memperkuat industri bahan baku dan industri pendukung di dalam negeri agar ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi secara bertahap.
Selain itu, perusahaan juga perlu meningkatkan penggunaan instrumen lindung nilai (hedging) untuk mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar.
Diversifikasi pemasok bahan baku, efisiensi operasional, hingga restrukturisasi utang juga dinilai menjadi langkah penting agar dunia usaha tetap mampu bertahan.
Di sisi lain, pemerintah daerah diminta memanfaatkan momentum pelemahan rupiah untuk meningkatkan kunjungan wisatawan melalui promosi yang lebih agresif, penyelenggaraan event internasional, serta penguatan destinasi wisata.
Bank Indonesia juga terus mendorong penggunaan skema Local Currency Transaction (LCT) dalam perdagangan internasional agar ketergantungan terhadap dolar AS dapat dikurangi.
Menurut Gita, Batam harus tetap optimistis menghadapi situasi tersebut, namun kewaspadaan tetap diperlukan mengingat dampak pelemahan rupiah tidak hanya dirasakan oleh dunia usaha, tetapi juga berpotensi memengaruhi lapangan kerja dan daya beli masyarakat.
”Kalau pelemahan rupiah berlangsung lama, dampaknya tidak hanya ke industri. Efeknya bisa merembet ke tenaga kerja, konsumsi rumah tangga, dan pertumbuhan ekonomi daerah. Karena itu langkah antisipasi harus mulai dilakukan dari sekarang,” katanya.(*)



