
batampos – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, dolar Singapura, dan ringgit Malaysia mulai menekan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Batam. Kenaikan harga bahan baku yang masih bergantung pada impor membuat biaya produksi meningkat. Meski demikian, Pemerintah Kota (Pemko) Batam mengingatkan pelaku usaha agar tidak mengorbankan kualitas produk demi menekan biaya.
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam, Salim, mengatakan kualitas produk merupakan faktor utama dalam menjaga kepercayaan konsumen. Karena itu, pelaku UMKM disarankan menyesuaikan ukuran atau porsi produk apabila biaya produksi meningkat, bukan mengurangi kualitas bahan baku.
“Jangan sampai karena harga bahan baku naik, kualitas produk ikut diturunkan. Misalnya produk makanan yang sebelumnya menggunakan bahan tertentu dalam jumlah tertentu kemudian dikurangi. Itu berisiko membuat konsumen kecewa. Jika memang harus menyesuaikan, sebaiknya ukuran atau porsinya yang dikurangi, tetapi kualitas harus tetap dijaga,” ujar Salim.
Baca Juga: Program Makan Bergizi Gratis di Batam Kembali Berjalan Mulai 20 Juli 2026
Menurut dia, pelemahan rupiah berdampak langsung terhadap kenaikan biaya produksi. Selain harga bahan baku impor, kenaikan harga energi juga ikut mendorong meningkatnya biaya operasional pelaku usaha.
“Kalau harga minyak naik, hampir semua bahan ikut naik. Dampaknya tentu dirasakan UMKM,” katanya.
Meski menghadapi tekanan, Salim optimistis UMKM tetap menjadi sektor yang paling tangguh menghadapi gejolak ekonomi. Pengalaman saat pandemi Covid-19 menunjukkan pelaku UMKM mampu bertahan melalui berbagai inovasi, termasuk memanfaatkan pemasaran digital.
“UMKM terbukti tahan banting. Saat pandemi banyak perusahaan besar terdampak bahkan tutup, sementara UMKM masih bisa bertahan dengan berbagai cara, termasuk berjualan secara online,” ujarnya.
Baca Juga: Lampu Hias Tulisan Laluan Madani Menghilang, Ini Penjelasan Dinas Bina Marga Batam
Untuk memperkuat daya tahan UMKM, Pemko Batam menyiapkan sejumlah program, salah satunya fasilitas pinjaman modal dengan bunga atau margin nol persen yang menjadi program prioritas Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batam.
Program tersebut diharapkan membantu pelaku usaha memperoleh tambahan modal untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pemasaran, maupun mengembangkan usaha.
“Kalau terkendala modal, pemerintah sudah menyiapkan fasilitas pinjaman. Bunganya kami yang bayar. Dana itu bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi, memperluas pasar, atau kebutuhan usaha lainnya,” jelas Salim.
Selain pembiayaan, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam juga terus meningkatkan kapasitas pelaku usaha melalui pelatihan dan bimbingan teknis. Hingga pertengahan tahun ini, lima angkatan pelatihan telah digelar dengan materi mulai dari pengurusan legalitas usaha, pengolahan produk kreatif berbasis barang daur ulang, hingga pemasaran digital melalui platform e-commerce dan media sosial.
Baca Juga: Biaya Logistik Batam-Shanghai Turun
“Kami sudah melaksanakan lima angkatan pelatihan. Materinya mencakup perizinan usaha, pengolahan produk, hingga digital marketing agar UMKM mampu mengikuti perkembangan pasar yang semakin berbasis teknologi,” katanya.
Di balik tekanan akibat pelemahan rupiah, Salim juga melihat peluang bagi UMKM Batam. Menguatnya dolar Singapura dan ringgit Malaysia dinilai meningkatkan daya beli wisatawan dari kedua negara tersebut saat berkunjung ke Batam.
Karena itu, pelaku UMKM didorong menghadirkan produk berkualitas agar belanja wisatawan mancanegara mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian daerah.
“Yang terpenting, UMKM harus terus beradaptasi, menjaga kualitas produk, serta memanfaatkan setiap peluang pasar. Dengan begitu mereka dapat bertahan sekaligus berkembang meski kondisi ekonomi global masih penuh tantangan,” tutupnya. (*)

