
batampos – Tumpukan sampah yang menggunung di kawasan Sadai, Kecamatan Bengkong, Batam, memicu keresahan warga. Hampir sebulan terakhir, sampah rumah tangga di lingkungan tersebut disebut tidak diangkut secara rutin, menyebabkan tong-tong sampah meluap dan menebarkan bau menyengat hingga ke permukiman.
Kondisi itu semakin memburuk seiring tingginya curah hujan yang melanda Batam dalam beberapa pekan terakhir. Sampah organik, terutama limbah dapur, cepat membusuk dan menghasilkan aroma tak sedap yang menyebar ke lingkungan sekitar.
“Bau sampah sudah sangat menyengat. Apalagi sering hujan, sampah jadi cepat busuk. Kami sampai tidak nyaman berada di luar rumah,” kata Riki, warga Sadai, Minggu (31/5).
Menurut Riki, persoalan keterlambatan pengangkutan sampah bukan kali pertama terjadi. Ia mengaku kondisi serupa telah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir dan semakin terasa sejak sebelum Hari Raya Idulfitri.
Baca Juga: Kehadiran Polisi Dinilai Ampuh Tekan Balap Liar dan Kejahatan Jalanan, Warga Minta Patroli Rutin
Dalam kondisi normal, sampah rumah tangga seharusnya diangkut secara berkala untuk mencegah penumpukan. Namun, warga menilai pelayanan pengangkutan di kawasan mereka jauh dari harapan.
“Kadang lebih dari sebulan baru diangkut. Sejak sebelum Lebaran pun pengangkutannya tidak rutin. Banyak warga akhirnya mencari lokasi lain untuk membuang sampah karena tempat sampah di depan rumah sudah penuh,” ujarnya.
Akibat keterlambatan tersebut, hampir seluruh tong sampah di sepanjang lingkungan permukiman warga terlihat penuh dan meluber hingga ke badan jalan. Selain menimbulkan pencemaran visual, kondisi itu juga mengundang lalat dalam jumlah besar.
Bagi warga, persoalan ini tidak hanya menyangkut kenyamanan, tetapi juga kesehatan lingkungan. Mereka khawatir penumpukan sampah yang berlangsung terlalu lama dapat menjadi sumber penyakit, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Keluhan warga sebenarnya telah berulang kali disampaikan kepada petugas yang melakukan penagihan iuran kebersihan. Bahkan laporan juga telah diteruskan melalui pengurus RT hingga ke tingkat kelurahan dan kecamatan.
Namun, hingga akhir Mei, warga mengaku belum melihat adanya perbaikan layanan.
“Kami sudah beberapa kali menyampaikan keluhan. Informasinya sudah diteruskan ke pihak terkait, tetapi sampai sekarang belum ada tindakan yang benar-benar terasa di lapangan,” kata Riki.
Warga lain, Yanto, menilai situasi tersebut tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Ia khawatir masyarakat akan mulai membuang sampah ke lokasi-lokasi tidak semestinya apabila kondisi ini terus berlangsung.
“Kalau beberapa hari lagi tidak diangkut, warga mungkin terpaksa membuang sampah sembarangan karena sudah tidak ada tempat lagi untuk menampung. Kami berharap pemerintah segera turun tangan,” ujarnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam, Iqbal, mengatakan pihaknya akan menindaklanjuti laporan yang disampaikan masyarakat.
Menurut dia, DLH akan berkoordinasi dengan pengawas lapangan untuk memastikan kondisi di lokasi sekaligus mencari penyebab keterlambatan pengangkutan.
“Kami akan segera berkoordinasi dengan pengawas di lapangan untuk melakukan pengecekan,” kata Iqbal.
Baca Juga: Ribuan Buruh Bakal Dirumahkan
Ia mengakui layanan pengangkutan sampah di sejumlah kawasan permukiman di Batam saat ini memang belum sepenuhnya berjalan normal. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan armada pengangkut yang dimiliki pemerintah daerah.
Selain itu, munculnya sejumlah tempat pembuangan sementara (TPS) liar di berbagai lokasi turut menambah beban operasional petugas kebersihan.
“Kami akan segera melakukan pengecekan ke lokasi dan mengupayakan pengangkutan sampah secepatnya,” ujar Iqbal.
Persoalan sampah menjadi salah satu tantangan klasik yang masih dihadapi Batam seiring pertumbuhan jumlah penduduk dan kawasan permukiman. Ketika pengangkutan tidak berjalan sesuai jadwal, dampaknya langsung dirasakan masyarakat melalui penurunan kualitas lingkungan, meningkatnya risiko kesehatan, serta potensi munculnya titik-titik pembuangan sampah liar.
Bagi warga Bengkong Sadai, solusi yang mereka harapkan sesungguhnya sederhana: pengangkutan sampah yang rutin dan konsisten. (*)



