Senin, 27 April 2026

Stagflasi Tiongkok Tidak Pengaruhi Perekonomian Batam

Berita Terkait

Ilustrasi. Aktivitas di Pelabuhan Batu Ampar. BPS Kota Batam mencatat nilai ekspor Batam pada September 2021 naik sebesar 3,97 persen dibanding ekspor Agustus 2021. Total nilai ekspor Batam mencapai 1.020,29 juta dolar Amerika Serikat (AS). Foto: BP Batam untuk batampos.co.id

batampos.co.id – Stagflasi yang saat ini tengah melanda Tiongkok dianggap tidak berpengaruh terlalu signifikan kepada perekonomian di Batam.

Stagflasi adalah kondisi ekonomi yang ditunjukkan dengan pertumbuhan ekonomi yang melemah, disertai dengan angka pengangguran yang tinggi.

Koordinator Wilayah Kota Batam dan Kab Karimun- Himpunan Kawasan Industri (HKI), Tjaw Hioeng mengatakan, penyebabnya karena kontribusi ekspor ke Tiongkok yang relatif kecil dibandingkan Singapura dan Amerika.

“Pengaruh pasti ada, cuma tidak terlalu sebesar, jika stagflasi itu terjadi di Singapura. Hal yang pasti, apa yang terjadi di Tiongkok akan memengaruhi semua negara Asia yang transaksi dagang ke sana,” kata Tjaw di Wisma Batamindo, Senin (15/11).

Stagflasi ini kondisi yang unik dalam dunia perekonomian, dimana perlambatan ekonomi yang ditandai dengan meningkatnya harga barang-barang, disertai dengan tingkat pengangguran yang tinggi terjadi di suatu daerah.

“Di Tiongkok memang tengah melambat ekonominya, selain itu mereka krisis energi dan bahan baku industri. Perusahaan industri di Batam sendiri sudah memiliki roadmap ekspor ke Tiongkok sepanjang tahun. Namun, untuk 2022, jika tetap stagflasi, bisa saja dinegosiasikan kembali,” ungkapnya.

Tjaw menyebut, ekspor ke Tiogkok hanya memegang peranan sebanyak 6,5 persen. Sementara ekspor ke Singapura sebesar 41 persen dan Amerika sebesar 18,61 persen.

Mengenai kinerja ekspor, Tjaw mengatakan, kinerja ekspor tahun ini merupakan yang terbaik dalam lima tahun terakhir, sebabnya karena kinerja industri pengolahan yang moncer sepanjang tahun, sehingga bisa menyumbangkan kontribusi sebesar 88 persen pada total ekspor Batam.

“Demand sangat tinggi, karena sebabnya negara saingan Batam masih lockdown. Ada yang masih belum semuanya beroperasi, seperti Vietnam. Sementara di Malaysia, hanya industri esensial saja yang boleh beroperasi. Untungnya di Batam bisa beroperasi seperti biasa, dan ini sangat menolong,” jelasnya.

Nilai ekspor Batam di September 2021 naik sebesar 3,97 persen dibanding ekspor Agustus 2021. Total nilai ekspor Batam mencapai 1.020,29 juta dolar Amerika Serikat (AS).

“Nilai ekspor Batam menyumbang 74,08 persen dari total ekspor se-Kepri sebesar 1.377,30 juta dolatr Amerika Serikat,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Batam, Rahmad Iswanto

Penyumbang ekspor terbesar yakni ekspor non-migas yang mencapai 908,55 juta dolar AS atau naik 4,83 persen dibanding Agustus 2021. Sedangkan ekspor migas September 2021 hanya 111,74 juta dolar AS atau turun 2,56 persen dibanding bulan sebelumnya.

“Ekspor non-migas HS 2 digit terbesar yakni golongan barang mesin/peralatan listrik sebesar 376,65 juta dolar AS,” ungkapnya.

Sementara itu, negara tujuan ekspor terbesar masih Singapura dengan nilai 411,17 juta dolar AS. Kontribusinya mencapai 41,60 persen.

“Kemudian tujuan ke Amerika Serikat dengan nilai US$ 195,61 juta dan Tiongkok senilai 65,60 juta dolar AS,” ungkapnya. (*)

REPORTER : RIFKI SETIAWAN

UPDATE