
batampos – Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASSPI) memasuki usia ke-18 dengan fase kematangan organisasi yang ditandai penguatan kolaborasi dan peran nyata di sektor pariwisata.
Momentum ini bukan sekadar perayaan, melainkan refleksi perjalanan panjang organisasi yang tumbuh dari proses, dinamika, dan pengabdian.
Wakil Ketua I ASSPI Kepulauan Riau (Kepri), Buralimar, menilai secara perkembangan organisasi, ASSPI kini berada pada tahap ‘remaja akhir’ menuju kedewasaan.
Fase ini ditandai dengan semangat bertumbuh melalui kolaborasi dan penguatan peran di tengah tantangan industri pariwisata yang terus berubah.
Menurutnya, ASSPI bukan organisasi yang lahir secara instan. Perjalanan panjang yang dilalui justru membentuk karakter organisasi yang kuat. Berbagai dinamika internal, mulai dari perbedaan pandangan hingga diskusi yang intens, menjadi bagian dari proses pendewasaan.
“ASSPI tumbuh secara organik. Dari proses itulah terbentuk satu visi yang sama, satu frekuensi dalam bergerak,” ujar Sabtu (11/4).
Buralimar, mantan Kepala Dinas Pariwisata Kepri itu menjelaskan, dalam dunia pariwisata yang penuh ketidakpastian, organisasi dituntut untuk adaptif dan tangguh.
ASSPI, kata dia, berada di tengah situasi yang kompleks dan dinamis, di mana perubahan bisa terjadi sangat cepat.
Dalam kondisi tersebut, ASSPI memposisikan diri sebagai bagian aktif dari industri, bukan sekadar pengamat.
Peran ini terlihat dari keterlibatan dalam berbagai aspek, mulai dari pengembangan usaha pariwisata hingga advokasi kebijakan.
“ASSPI adalah pejuang di sektor pariwisata, bukan penonton,” tegasnya.
Memasuki usia ke-18, organisasi ini juga dihadapkan pada tuntutan yang lebih besar. Tidak hanya menjaga eksistensi, tetapi juga memastikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan sektor pariwisata.
Buralimar menyebut, ada tiga kekuatan utama yang menjadi arah gerak ASSPI saat ini, yakni komitmen terhadap tujuan, konsistensi dalam kebijakan, serta kolaborasi lintas sektor.
Kolaborasi tersebut melibatkan berbagai pihak dalam ekosistem pariwisata, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, hingga media. ASSPI berperan sebagai penghubung yang menjaga sinergi antar pihak tersebut.
Di sisi lain, tantangan global seperti perubahan perilaku wisatawan, disrupsi digital, hingga dinamika geopolitik turut mempengaruhi sektor pariwisata.
Namun, ASSPI diyakini memiliki kemampuan untuk beradaptasi.
Hal ini tercermin dalam semangat yang terus digaungkan melalui tagline organisasi.
“ASSPI Bisa, Harus Bisa, Pasti Bisa,” yang menurutnya bukan sekadar slogan, tetapi keyakinan kolektif untuk terus bergerak menghadapi tantangan.
Ketua ASSPI Kepri menegaskan, posisi strategis Kepulauan Riau yang berdekatan dengan Singapura dan Malaysia menjadi peluang besar untuk pengembangan sektor pariwisata.
“ASSPI Kepri harus berkembang lebih baik dengan keunggulan komparatifnya di provinsi Kepri yang berdekatan dengan Singapura dan Malaysia,” ujar Buralimar
Ia menambahkan, sektor pariwisata memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Karena itu, pemanfaatan peluang tersebut harus dioptimalkan.
“Ambil manfaat ekonomi sektor pariwisata untuk memajukan dunia pariwisata Kepri dan memberikan kontribusi yang besar kepada usaha ekonomi dan sektor lainnya, terutama bagi UMKM,” katanya.
Rangkaian peringatan HUT ke-18 ASSPI juga diisi dengan berbagai kegiatan sosial dan kebersamaan. Pada 10 April 2026, ASSPI Kepri menggelar kegiatan berbagi di kawasan Sei Jodoh dengan membagikan ratusan paket nasi kepada masyarakat kurang mampu, pengemudi ojek online, dan warga sekitar.
Masih dalam suasana Ramadan 1447 Hijriah, kegiatan dilanjutkan dengan buka puasa bersama anak-anak panti asuhan di kawasan Tiban.
Puncak peringatan HUT ASSPI digelar pada 11 April 2026 melalui kegiatan halal bihalal yang melibatkan pelaku pariwisata se-Indonesia di Alio Cafe, Bengkong.
Buralimar menegaskan, pengabdian di sektor pariwisata bukan sekadar wacana, melainkan kerja nyata di lapangan. Mulai dari penguatan sumber daya manusia, inovasi produk wisata, hingga menjaga keberlanjutan usaha.
“Di usia ke-18, ASSPI bukan lagi organisasi yang mencari jati diri, tetapi sudah menjadi bagian dari solusi dalam pembangunan pariwisata,” ujarnya.
Ia berharap, ke depan ASSPI terus tumbuh dan memberikan kontribusi nyata, tidak hanya bagi industri pariwisata, tetapi juga bagi perekonomian daerah dan nasional.
“Pariwisata tidak bisa dibangun oleh satu pihak saja. Ini kerja bersama. Dan ASSPI harus tetap menjadi bagian dari penggerak itu,” tutur dia. (*)



