
batampos — Wangi bunga segar langsung menyergap begitu memasuki Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sei Temiang, Sekupang, sejak hari pertama Idulfitri, Sabtu (21/3) hingga Minggu (22/3). Di tengah arus peziarah yang datang silih berganti, denyut ekonomi kecil turut hidup dari tradisi tahunan: pedagang bunga tabur.
Sejak pagi, lapak-lapak sederhana berderet di pintu masuk area pemakaman. Para pedagang bersahutan menawarkan dagangan, memecah suasana khidmat yang menyelimuti ziarah.
“Bunga satu bungkus Rp10 ribu, silakan dipilih,” seru salah seorang pedagang kepada peziarah.
Momentum Lebaran menjadi musim panen bagi pedagang seperti Natanael. Ia mengandalkan momen ini untuk mendongkrak penjualan. Bunga tabur dijual mulai Rp5 ribu hingga Rp10 ribu, sementara bunga hidup dibanderol Rp10 ribu hingga Rp25 ribu. Buket bunga dijual Rp30 ribu.
“Mawar tetap paling laris,” ujarnya.
Untuk satu tangkai mawar segar, ia mematok harga sekitar Rp20 ribu, sedangkan lili Casablanca bisa mencapai Rp30 ribu per kuntum. Namun, stok lili hanya tersedia pada momen tertentu seperti Lebaran.
Di balik potensi omzet besar, modal yang harus diputar juga tidak kecil. Natanael mengaku mengeluarkan hingga Rp12 juta untuk menyediakan stok bunga.
“Tidak harus untung besar, yang penting ada pemasukan,” katanya.
Pada puncak kunjungan, penjualannya bahkan menembus belasan juta rupiah dalam sehari.
Di lapak lain, Sembiring tampak tak kalah sibuk melayani pembeli. Tangannya cekatan merangkai bunga, sementara ia terus menawarkan pilihan kepada pengunjung.
“Harganya mulai Rp10 ribu sampai Rp30 ribu. Bunganya dari Berastagi, masih segar,” ujarnya.
Menurutnya, jenis bunga seperti salju dan ester yang tidak tumbuh di Batam menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli.
Lonjakan pengunjung sejak pagi membuat arus kendaraan menuju TPU sempat tersendat hingga Simpang Tobing. Bagi pedagang, keramaian ini menjadi berkah sekaligus tantangan.
“Dari pagi ramai sekali, sampai macet. Tapi puji Tuhan, rezekinya lumayan,” kata Sembiring.
Dalam sehari, ia memperkirakan bisa meraup keuntungan hingga jutaan rupiah—angka yang cukup berarti untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Di bawah terik matahari, para pedagang tetap bertahan hingga siang hari. Mereka melayani setiap pembeli dengan harapan sederhana: membawa pulang rezeki di hari raya.
Di TPU Sei Temiang, Lebaran bukan hanya tentang doa dan kenangan, tetapi juga tentang kehidupan yang terus berputar di antara pusara. (*)



